Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Buah Kesabaran,


__ADS_3

"Ma, jangan hadap ke Adek Zia. Hadap aku saja!" rengek Elza ketika Fina tak kunjung membalikkan badan karena sedang memberikan ASI untuk Shazia yang terbangun.


Fina memberikan kode agar Elza tidak berisik, karena Shazia belum tertidur pulas. Bayi berusia tiga bulan itu masih merintih setelah tangisnya menggema di kamar. Elza pun tak kunjung tidur karena ingin diperhatikan ibu sambungnya. Kalau sudah seperti ini, Benny pun tak bisa membantu. Dia mencoba membujuk Elza, tetapi gagal karena bocah berusia enam tahun itu bersikukuh ingin bersama Fina.


"Ma, kenapa lama sekali!" protes Elza setelah menunggu beberapa menit.


"Iya, sabar," gumam Fina sambil berusaha menarik pucuk kendi dari bibir tipis putrinya.


Setelah memastikan Shazia benar-benar tidur pulas, Fina membalikkan badan dan berhadapan dengan Elza. Dia mulai membelai rambut tipis itu dengan gerakan yang lembut agar sang empu segera tidur.


"El, buruan bobo ya! Mama udah ngantuk banget ini," gumam Fina dengan suara yang lirih.


"Mama capek?" tanya Elza sambil menengadahkan kepala.


"Iya, Nak. Buruan bobo gih, Mama juga mau bobo ini," ucap Fina dengan senyum yang dipaksakan.


Setelah drama dua anak yang membuat kepala berdenyut hebat, pada akhirnya Fina bisa bernapas lega. Dua buah hati akhirnya berhasil ditaklukkan. Mereka sama-sama tidur pulas setelah merasakan kehangatan kasih dan sayang Fina.


"Kalau lihat mereka tidur begini, rasanya tentram gitu di hati, tetapi kalau mereka berdua sama-sama menangis ... rasanya aku pengen ikut nangis," gumam Fina setelah bangkit dari tempatnya. Dia duduk di antara Shazia dan Elza.


Fina turun dari tempat tidur dengan hati-hati, karena masih ada satu bayi besar yang perlu diurus. Sejak tadi Benny tidak ada waktu bersamanya karena terlalu sibuk mengurus Elza dan Shazia. Kini, Fina menghempaskan diri di sofa yang sama dengan suaminya. Dia merebahkan badan dengan paha Benny sebagai bantalan.


"Duh, kasian sekali istriku ini. Pasti capek ya?" gumam Benny seraya membelai rambut Fina dengan lembut.

__ADS_1


"Banget. Apalagi Shazia sejak pulang imunisasi bawaannya rewel. Minta gendong terus dia," keluh Fina dengan suara manjanya.


"Sabar ya, Sayang," tutur Benny sambil mengusap lengan Fina dengan lembut, "aku bangga sama kamu karena menjadi wanita yang tangguh," ucap Benny seraya tersenyum manis. Dia menatap Fina dengan penuh perasaan.


Ya, inilah yang sebenarnya dibutuhkan istri selain uang belanja yang cukup. Pengertian serta perhatian dari suami sangat dibutuhkan saat tubuh terasa lelah setelah mengurus anak dan segalanya. Tak perlu banyak kata-kata penyemangat, cukup dengarkan dan berikan sentuhan lembut saat istri berkeluh kesah tentang keadaannya. Itulah obat mujarab untuk mengobati rasa lelah. Terkadang banyak suami yang acuh karena hal sepele ini.


"Coba sekarang kamu duduk deh. Aku pijit pundaknya biar gak lelah," ujar Benny sambil menepuk lengan Fina.


"Pijit aja ya! Gak usah pakai plus plus loh!" Fina memberikan peringatan kepada Benny sebelum mengubah posisinya.


"Iya, Sayang. Khawatir amat pakai plus plus," jawab Benny dengan senyum tipis.


Fina bangkit dari tempatnya, lantas dia duduk membelakangi Benny sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. Ibu dua anak itu memejamkan mata setelah merasakan pijatan di pundak dengan gerakan pelan. Dia menikmati setiap pijatan itu tanpa membuka kelopak matanya.


"Hmmm ... hmmmm ... Mas! Ingat gak pakai plus!" Fina memberikan peringatan kepada Benny saat merasakan tangan itu berpindah tempat ke bagian depan tubuhnya.


"Bisa aja kalau nyari kesempatan!" sarkas Fina.


"Ya ... namanya juga usaha. Masa Elza sama Shazia aja yang minta dimanjain. Aku juga dong. Lama jadi pengangguran loh ini," gerutu Benny tanpa menghentikan pijatan di pundak Fina.


"Jangan sekarang deh, Mas. Tuh kasur penuh anak-anak! Kalau mereka bangun, malah berabe kita," tolak Fina sambil menunjuk ranjang.


"Iya juga ya. Terus aku nanti tidur di mana? Masa iya berdesakan di sana." Benny mengamati ranjang king size itu. Meski masih ada tempat untuknya, tetapi rasanya pasti lebih sempit. Elza tidak bisa bergerak bebas dan Fina pun harus kesusahan mengatur posisi di antara Elza dan Shazia.

__ADS_1


"Aku tidur di sini saja lah nanti biar gak mengganggu anak-anak." Akhirnya ayah dua anak itu mengalah.


Perbincangan di antara suami istri terus berlanjut lanjut hingga rasa kantuk melai menguasai Fina. Beberapa kali dia menguap karena rasa kantuk itu. Dia beranjak dari sofa dan berpindah tempat ke atas tempat tidur.


"Mas, ambil sendiri ya bantalnya. Aku udah ngantuk banget ini," gumam Fina seraya merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Ya ampun ... nasibnya jadi bapak kalau udah punya anak. Harus rela berbagi dengan anak," gerutu Benny seraya beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju tempat tidur untuk mengambil bantal yang ada di sana.


Ayah dua anak itu mengembangkan senyum ketika melihat wajah ketiga penyemangat dalam hidupnya. Hatinya semakin tenang menjalani hidup karena memiliki keluarga lengkap dan tentunya membahagiakan. Apalagi, memiliki istri yang cantik dan sabar seperti Fina. Mungkinkah ini yang disebut rumahku adalah surgaku?


"Papa semakin semangat mencari duit kalau melihat kalian seperti ini. Papa akan berusaha keras untuk membahagiakan kalian," gumam Benny sebelum kembali ke sofa. Cukup lama dia memandang wajah anak dan istrinya.


Apalagi yang membahagiakan selain memiliki keluarga harmonis dan bahagia. Hidup akan terasa lebih indah jika ditemani dengan keceriaan anak dan istri. Rasa lelah setelah seharian bekerja rasanya hilang begitu saja.


"Aku gak bisa membayangkan bagaimana nasib Elza seandainya bukan Fina yang aku nikahi. Pasti terlantar dan kurang kasih sayang. Dia tidak mungkin menemukan bakat terpendam yang dia miliki." Benny bergumam sambil menatap langit-langit kamarnya.


Kilas balik tentang masa lalunya membuat Benny tak henti bersyukur karena Tuhan telah mengirim Fina dalam hidupnya. Terkadang, dia dihantui rasa bersalah yang besar saat teringat bagaimana dia acuh dengan pertumbuhan Elza dan lebih mementingkan egonya. Sibuk berpacaran dan menemani Renata dari panggung ke panggung, itulah kegiatannya dulu sebelum memandang Fina sebagai seorang wanita.


Kini, yang ada hanya sesal sisa dari rasa bersalah di masa lalu. Julukan buaya darat kini tak lagi melekat dari dirinya karena hanya bertahan dan mencintai satu wanita—Fina—sosok gadis desa yang mengubah sudut pandang hidupnya.


"Aku akan terus berusaha membuatmu bahagia, Fin. Tak sedikitpun rasa cintaku berkurang karena yang ada setiap hari rasa cintaku terus bertambah karena buah kesabaranmu. Terima kasih sudah menerima segala kekuranganku." Benny menatap ke arah tempat tidur sambil mengulas senyum bahagia.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Maaf ya telat up, othor lagi kurang fit😓...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2