Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Berharap Restu


__ADS_3

Langit gelap telah berubah terang setelah melewati persimpangan waktu. Sang mentari kembali hadir di cakrawala dengan membawa kehangatan untuk semua makhluk. Pancaran sinarnya berhasil membuat sebagian orang menyambut pagi dengan penuh semangat. Apalagi, saat ini sedang libur nasional karena ada tanggal merah memperingati hari besar dalam agama non muslim.


"Kenapa aku gugup begini sih? Kalau nanti Ibu mengusir Ardi bagaimana?" gumam Nisa sambil mencuci piring di dapur. Pikiran negatif terus menghantuinya sejak tahu jika Ardi akan datang ke rumah ini.


"Nis, ibu ke toko dulu. Jangan lupa tutup pintu belakang jika kamu tinggal ke depan," pamit Badiah sebelum meninggalkan putrinya seorang diri di sana.


"Iya, Bu," jawab Nisa tanpa menoleh ke belakang. Dia masih sibuk membersihkan piring kotor itu hingga semua kembali di rak piring.


Gadis cantik itu duduk di ruang makan setelah selesai membersihkan dapur dan menutup pintu penghubung ke kebun belakang. Nisa terlihat gelisah karena tidak tahu harus bagaiman ketika Ardi sampai di rumah ini. Dia benar-benar bingung karena sebelumnya belum pernah ada pria yang datang ke rumah meski hanya teman di kampus. Apalagi yang datang kali ini adalah Ardi, pemuda yang tidak disukai oleh ibunya hanya karena profesi yang dia jalani saat ini.


"Sebaiknya aku tunggu di dalam saja. Biar Ibu saja yang menyambut kedatangannya." Sebuah ide muncul di kepalanya agar semua terlihat mendadak dan tanpa direncanakan.


Nisa memilih menyibukkan diri di sana meski tidak ada kegiatan yang penting menurutnya. Dia pura-pura sibuk menata meja makan dan makanan yang ada di dalam kulkas sampai Ardi tiba di rumah ini nanti.


"Nisa ... Nis! Ada tamu!" teriak Badiah dari ruang tamu.


Nisa menghentikan kegiatannya untuk sesaat. Lantas, dia mengembalikan semua makanan ke tempat semula dan tak lupa menutup pintu kulkas sebelum pergi ke depan. Degup jantungnya tak beraturan karena merasa gugup. Dia memberikan kode kepada Badiah jika ingin memakai kerudung terlebih dahulu.


"Silahkan duduk. Nisa masih di dalam," ucap Badiah sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tamu. Dia belum sadar jika pemuda yang baru duduk di sofa adalah Johan.


"Bu," sapa Johan setelah Badiah duduk di kursi tunggal, "masih ingat dengan saya, Bu?" tanya Johan dengan diiringi senyum tipis.


"Kamu ... kamu ...." Badiah mencoba mengingat wajah yang tidak asing baginya itu.


"Johan, Bu," gumam pemuda gagah itu.


Ekspresi wajah Badiah seketika berubah menjadi tak karuan. Cukup lama dia mengamati wajah pemuda yang memiliki perasaan kepada putrinya itu. Ada rasa lega dalam hati ketika melihat pemuda tersebut dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?" tanya Badiah tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Ardi.


"Alhamdulillah masih selamat, Bu," jawab Ardi dengan sikap yang sangat kalem.


"Syukurlah kalau begitu." Badiah bernapas lega setelah mendengar jawaban Ardi.


"Bu, saya sengaja datang dari Jakarta untuk bertemu Ibu. Sangat ingin menyampaikan niat serius saya untuk mempersunting Nisa. Saya sangat mencintainya, Bu," ucap Ardi dengan tegas.


"Ibu tidak bisa menjawab sekarang. Biarkan Nisa lulus kuliah dulu. Ibu belum siap jika dia menikah denganmu yang memiliki banyak risiko dalam pekerjaanmu," jawab Badiah dengan serius.


"Tapi saya sudah tidak di lapangan lagi, Bu. Saya mengalami cidera berat," Jelas pemuda gagah itu.


"Ibu lebih suka kamu menjadi orang biasa," ujar Badiah dengan suara yang sangat lirih.


Ardi mulai merebut hati Badiah dengan tutur kata yang lembut dan meyakinkan. Akan tetapi wanita paruh baya itu tidak terpengaruh dengan segala penjelasan yang diucapkan oleh pemuda gagah itu. Dia masih bersikukuh dengan keputusan awal.


"Nak, kamu tidak perlu menjelaskan banyak hal mengenai dunia yang sedang kamu geluti saat ini. Ibu sudah merasakannya dulu dan menurut Ibu lebih nyaman menjadi orang biasa," jelas Badiah.


"Jangan terlalu memaksa Ibu. Untuk saat ini jika memang kamu ingin berkomunikasi dengan Nisa silahkan saja. Akan tetapi jika ingin menikah, mohon maaf Ibu belum bisa memberikan restu. Ibu ingin Nisa lulus kuliah dulu," ucap Badiah dengan tegas.


"Silahkan ngobrol dengan Nisa. Ibu mau ke toko dulu," pungkas Badiah saat Nisa keluar dari ruang keluarga dengan membawa nampan berisi dua cangkir cokelat hangat.


Nisa menatap kepergian ibunya dengan sorot mata kecewa. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk ibunya agar merestui hubungan ini. Helaan napas berat terdengar di sana. Nisa benar-benar tertekan karena masalah restu dari Badiah.


"Duduklah dulu, tidak perlu cemas begitu," ujar Ardi seraya menarik tangan Nisa hingga gadis berhijab itu terhempas di sisinya.


"Kamu mendengar sendiri bukan bagaimana keras kepalanya ibuku?" gumam Nisa sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Ibumu hanya khawatir. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Kita pasti bisa melewati semua ini," tutur Ardi seraya meraih tangan Nisa. Kedua telapak tangan itu saling bertautan untuk menguatkan satu sama lain.


Nisa mengembangkan senyum tipis setelah Ardi menguatkan hatinya agar tetap yakin dengan hubungan ini. Nisa merasa tenang karena Ardi tak henti memberikan kata-kata semangat untuknya menjalani hubungan tanpa restu ini.


"Jangan berkecil hati karena apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu," tutur Ardi sambi menatap Nisa penuh arti.


"Coba katakan sekali lagi!" gumam Nisa seraya menoleh ke samping. Tatapan keduanya saling bersirobok untuk beberapa saat lamanya. Getaran aneh muncul dalam diri ketika Nisa mengamati manik hitam dari pria yang dicintainya itu.


"Aku mencintaimu, Khairunnisa. Tetaplah menjadi wanitaku sampai kapanpun. Aku tahu mungkin setelah ini hubungan kita terasa berat karena terpisah jarak yang jauh. Akan tetapi, aku ingin kita saling percaya dan menjaga perasaan ini satu sama lain. Aku tidak tahu apakah kamu mencintaiku atau tidak, tetapi aku berharap kamu memiliki perasaan yang sama denganku."


Akhirnya ungkapan perasaan dari Ardi yang ingin didengar oleh Nisa sejak kemarin telah terdengar di sana. Wajah gadis cantik itu bersemu merah serta hidungnya menjadi kembang kempis karena rasa yang membuncah di dalam dada. Dia terharu sekaligus merasa lega karena mendengar langsung ungkapan perasaan dari pria yang sangat dekat dengannya itu.


"Aku berharap kamu tidak memberikan harapan palsu kepadaku. Semoga kamu bisa menjaga hati dari godaan para gadis sexy yang sering kamu jumpai di kota," jawab Nisa tanpa berani menatap Ardi. Dia tertunduk karena tidak tahan dengan tatapan penuh arti yang terpancar dari sorot mata pria yang sudah sah menjadi kekasihnya itu.


Entah dari mana keberanian itu muncul. Ardi tiba-tiba saja menegakkan dagu Nisa dengan jari telunjuknya. Persekian detik kemudian, jarak di antara kedua sejoli itu terkikis habis hingga kedua bibir itu saling bersentuhan. Bukannya menolak, Nisa malah memejamkan mata karena terbawa suasana dan momen romantis yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Ardi berhasil merasakan betapa manisnya bibir tipis dari wanita yang dia kagumi selama ini.


Bukankah memang benar adanya, jika dua orang berbeda jenis kelamin sedang berduaan, maka orang ketiga adalah setan. Ya ... kedua sejoli itu lupa jika sedang berada di rumah, di mana Badiah bisa kapan saja melihat apa yang mereka lakukan saat ini.


"Cukup!" Nisa menjauhkan wajahnya setelah sadar atas apa yang sudah dia lakukan saat ini.


"Maafkan aku, maaf ... aku benar-benar terbawa suasana," ucap Ardi dengan sorot mata penuh sesal karena sudah melakukan hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Dia mengusap bibir Nisa yang basah dengan ibu jarinya.


Nisa terlihat salah tingkah dan merasa malu atas semua yang sudah terjadi di antara mereka berdua. Dia kembali duduk bersandar di sofa dan menjauhkan diri dengan Ardi agar tidak terjadi untuk yang kedua kali.


"Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku. Aku harap kamu benar-benar tanggung jawab menikahiku," gumam Nisa dengan suara lirih. Dia merasa berdosa atas semua yang terjadi beberapa menit yang lalu.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Cielah si Ardi main nyosor aja 😏 Nyari kesempatan ya!!! Btw hari ini othor dah crazy up loh🀣 sampai mata sepet banget iniπŸ˜€...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2