Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tetangga Baru


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu begitu saja. Setelah acara syukuran di kediaman Badiah, Fina telah kembali ke Surabaya. Urusan Nisa dan Johan pun telah selesai. Keadaan di rumah ibunya kembali normal seperti sebelumnya. Nisa dan Badiah tak lagi perang dingin karena masalah tersebut.


Suara gelak tawa Shazia dan Elza menggema di ruang keluarga. Tentu hal ini membuat Fina dan Benny merasa bahagia. Keceriaan yang ditunjukkan oleh kedua anaknya membuat hati merasa tenang dan damai. Rasa lelah sepertinya hilang begitu saja setelah melihat anak-anak rukun.


"Mas ada janji sama seseorang?" tanya Fina setelah mendengar suara bel pintu dari depan.


"Tidak. Coba buka dulu, sepertinya Mbok Jum sedang sholat ashar," jawab Benny seraya menatap Fina dengan lekat.


Ibu dua anak itu beranjak dari tempatnya dan mengayun langkah menuju ruang tamu. Dia memutar kunci pintu dan segera menarik handlenya. Fina mengembangkan senyum ketika melihat tamu yang datang.


"Assalamualaikum, Bu Fina," sapa wanita yang sedang berdiri di depan pintu.


"Waalaikumsalam, Bu Hanum. Monggo, silahkan masuk, Pak ... Bu," ucap Fina seraya mengembangkan senyum yang manis, "ayo Zahra ikut masuk, ada Elza di dalam," ajak Fina pada anak perempuan yang ada di sisi wanita bernama Hanum itu.


"Silahkan duduk. Monggo jangan sungkan," ucap Fina dengan ramah setelah tamunya berada di ruang tamu, "sebentar saya ambil si bayi dulu," pamit Fina sebelum masuk ke dalam ruang keluarga.


Tak berselang lama, Fina kembali ke ruang tamu bersama Shazia, Benny dan Elza. Mereka duduk di sofa yang ada di sana untuk menyambut kedatangan tamu mereka. Tak lupa Fina mengenalkan Benny kepada Hanum dan suaminya. Mereka berbincang-bincang untuk mengakrabkan diri.


"Oh ya, kalau boleh tahu ada apa nih? Tumben Bu Hanum datang ke sini sama Bapak juga," tanya Fina setelah teringat hal itu. Pasalnya sepengetahuan Fina, keluarga mereka tidak tinggal di sekitar sini.


"Jadi begini Bu Fina, kedatangan kami itu ingin mengundang Ibu sekeluarga untuk datang di acara syukuran rumah baru kami. Kebetulan sekali kita satu blok loh. Acaranya besok malam, Bu. Saya harap Ibu dan Bapak bersedia hadir, jangan lupa bawa anak-anak biar rame," jelas Hanum dengan ramah.


"Wah ... iya kah? Bu Hanum tinggal di sebelah mana? Blok Melati ini kan lumayan luas, Bu." Fina menanggapi undangan tersebut dengan suka cita.


"Rumah kami ada di paling ujung blok melati, Bu. Rumah Nomor 43A," jawab Hanum.


"Kami harap Pak Benny dan keluarga hadir besok malam. Agar kita lebih akrab begitu, saya juga udah keliling dari tadi untuk mengundang satu blok ini." Kali ini suami Hanum ikut berbicara.


"Insyaallah kami hadir, Pak," jawab Benny dengan ramah.


"Eh, Zahra sama Elza kok diam saja sih? Kalian kan satu kelas di sekolah.Sekarang malah jadi tetangga loh." Fina mengamati kedua anak kecil yang hanya diam di tempat itu.

__ADS_1


"El, ajak Zahra main di dalam gih," titah Benny seraya menatap Elza dengan lekat, "Elza." Sekali lagi Benny memanggil putranya.


Bocah laki-laki itu sepertinya terlihat tak bersemangat saat berdiri dari tempatnya. Dia mengajak Zahra masuk ke dalam ruang keluarga untuk bermain bersama. Para orang tua pun lanjut bercengkrama.


"Kalau misal Bu Hanum lanjut ke rumah warga yang silahkan, Zahra biar di sini saja. Nanti dia capek kalau ikut keliling," ucap Fina dengan ramah.


"Saya yang gak enak nantinya, Bu. Saya takut Zahra merepotkan di sini," tolak Hanum.


"Tidak masalah, Bu. Kalau mau ditinggal silahkan saja. Nanti saya antar pulang atau setelah selesai unjung-unjung, bisa dijemput, Bu." Kali ini Benny ikut menimpali.


Sementara itu di ruang keluarga, Zahra bermain dengan beberapa mainan yang dimiliki Elza. Dia terus mengajak Elza bicara, tetapi sang empu hanya diam saja. Sepertinya dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran teman sekelasnya itu.


"Kenapa kamu bawel sekali sih? Macam orang dewasa saja," protes Elza yang merasa risih dengan pertanyaan yang diajukan oleh Zahra.


"Ya ampun El, aku kan hanya nanya saja. Kenapa sih? Kamu gak mau ya main sama aku? Kita kan teman sekolah, El!" protes Zahra seraya meletakkan mainan milik Elza.


"Aku tidak suka anak berisik sepertimu. Kalau mau main, ya sudah main saja. Jangan banyak pertanyaan!" Elza sepertinya benar-benar kesal dengan Zahra, "awas kalau setelah ini kamu nangis dan ngadu ke Mama! Aku gak mau temanan sama kamu!" ancam Elza sambil menatap Zahra.


"Besok aku bilang Safa dan Yasmin ah kalau aku sekarang bertetangga dengan kamu, El. Mereka pasti iri deh!" ujar Zahra sambil mengembangkan senyum.


"Ih, aneh deh! Jangan sampai ada yang tahu kalau kita jadi tetangga!" cibir Elza dengan tatapan tak suka.


Tak berselang lama, Benny dan Fina kembali ke ruang keluarga. Mereka bergabung bersama kedua anak yang sedang tidak rukun itu. Zahra segera beranjak dari tempatnya untuk mencari keberadaan orang tuanya.


"Zahra mau kemana?" tanya Fina ketika tahu Zahra melangkah ke arah depan.


"Mau cari Mama dan Papa, Tante," jawab gadis kecil itu.


"Papa sama Mama kamu lagi ke rumah tetangga. Kamu di sini saja main sama Elza dan dedek Shazia. Nanti kau sudah selesai pasti kamu dijemput kok. Yuk lanjut main yuk sama Elza!" ajak Fina saat menghampiri Zahra yang mematung di tempatnya.


Seketika hal itu membuat Elza memicingkan mata. Tentu dia sangat tidak suka dengan kehadiran Zahra di rumah ini. Dia tidak tahan melihat tingkah aktif dan celotehan teman sekelasnya itu.

__ADS_1


"Nak, kenapa diam saja? Zahra diajak main dong. Kasian loh dia," tanya Fina seraya mengamati ekspresi wajah putra sulungnya itu.


"Itu dia juga sudah main kan, Ma!" tunjuk Elza ke arah Zahra yang baru saja mengambil mainan Shazia.


"Main bersama gitu loh, Nak. Ayo lah, masa sama temannya begitu sih?" Fina mencoba mengakrabkan Elza dengan Zahra, tetapi sepertinya bocah kecil itu menolak untuk bermain dengan teman sekelasnya.


Detik demi detik telah berlalu begitu saja.Hingga menjelang magrib, Zahra masih di sana. Dia terus menempel dengan Elza karena sedang dalam pengawasan Fina. Padahal, Elza sendiri sangat risih karena Zahra terus mengikutinya.


"Sana menjauh! Kenapa sih kamu ini nempel aku terus!" Elza menjauhkan tubuhnya dari Zahra.


"Tante ... aku gak boleh Elza ikut nonton entup! Dia nakal, Tante." Zahra mengadukan sikap Elza kepada Fina.


"Dasar tukang adu! Cengeng! Manja!" sarkas Elza dengan tatapan tak suka.


Fina hanya menghela napas setelah melihat Zahra dan Elza yang sejak tadi tidak bisa akur. Entah, dia sendiri merasa heran kenapa putranya tidak suka berada di dekat Zahra, padahal gadis kecil itu begitu menggemaskan di matanya.


"Zahra main sama adik Zia aja sini. Gak usah dekat sama Elza biar gak dimarahi terus," ucap Fina sambil melambaikan tangannya agar Zahra pindah tempat.


"Tapi aku pengennya main sama Elza, Tan. Aku suka dekat sama Elza," jawab Zahra dengan polosnya.


"Tapi aku gak suka dekat kamu! Sana, main sama Mama dan Shazia saja! Kalian kan sama-sama perempuan! Hust ... hust!" ujar Elza sambil menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir hewan.


Sementara Benny hanya mengulum senyum melihat hal itu. Dia merasa terhibur saja melihat sikap yang ditunjukkan oleh putranya—cool dan berkarisma—jika berada di dekat teman perempuan.


"Sepertinya kalau udah besar bakal jadi rebutan nih anakku. Ganteng sih!" batin Benny dengan mengulum senyum.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Ah rasanya pengen deh bikin cerita tentang Elza setelah novel ini tamat😀Keknya lucu gitu kalau mereka ketemu waktu udah ABG😂Setuju tak?...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2