Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Extra sabar


__ADS_3

Janin yang ada dalam kandungan Fina semakin lama tumbuh dengan baik. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan mengenai kondisi ibu dan janin itu. Usia kandungan Fina saat ini memasuki bulan ke tujuh. Tentu perubahan bentuk tubuh pun telah terlihat dengan jelas. Fina terlihat semakin berisi karena napsu makannya akhir-akhir ini semakin bertambah. Terkadang wanita berbadan dua itu pun merasa tidak percaya diri karena perubahan tersebut.


"Ck. Kenapa harus ada undangan dari dia sih! Aku gak PD kali ketemu kang Aris dengan keadaan seperti ini. Aku sekarang jelek banget lagi!" gerutu Fina seraya setelah membaca ulang undangan yang dikirim Aris beberapa hari yang lalu.


Helaan napas berat terdengar di sana karena Fina bimbang dengan keputusannya. Tentu dia sangat penasaran dengan calon istri pemuda yang dulu sempat hadir dalam hidupnya. Namun, perubahan bentuk tubuhnya saat ini membuat wanita berbadan dua itu merasa minder.


"Ini juga! Katanya mau nikah setelah wisuda, tapi sekarang kok ya udah krim undangan aja." Fina masih menggerutu di sana.


"Ada apa sih? Perasaan dari tadi kok menggerutu mulu," tanya Benny setelah menghampiri Fina yang ada di depan meja rias.


"Kita harus datang gak sih, Mas?" Fina malah bertanya balik sambil menunjukkan undangan dari Aris kepada suaminya.


"Tadi kan sudah aku kasih tahu. Kita harus datang ke sana untuk menghormati pak Syakur," ucap Benny seraya mengusap bahu istrinya.


"Aku pakai baju apa, Mas? Aku gak punya baju!" tanya Fina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Astagfirullah, baju di almari kan sudah banyak. Coba lihat dulu di almari," ucap Benny seraya menunjuk almari yang tak jauh dari tempatnya saat ini.


Fina segera beranjak dari tempatnya untuk mencari pakaian yang cocok saat datang menghadiri pesta pernikahan Aris. Wanita berbadan dua itu bingung memilih pakaian yang masih muat dengan dirinya.


"Ya Allah, kenapa pada sempit semua bajunya," keluh Fina setelah mencoba beberapa pakaian yang tersimpan di sana, "padahal ini baru beli bulan lalu loh," lanjutnya dengan helaan napas yang berat.


Suara keluh-kesah Fina terus terdengar di sana karena belum menemukan pakaian yang cocok untuknya. Benny sendiri sampai heran melihat perubahan Fina saat ini. Semenjak hamil, istrinya itu lebih cerewet dan ketus. Padahal, dulu sangat sabar dan kalem. Benny pun masih bisa memaklumi karena sudah berpengalaman menghadapi perubahan mood wanita yang sedang hamil.

__ADS_1


"Aku jadi gendut begini gara-gara Mas Benny! Semenjak hamil aku jadi jelek, berlemak, chubby karena banyak makan. Mas Benny yang bersalah dalam hal ini. Aku gak cantik lagi 'kan!" cerocos Fina yang sedang mencari pakaian di almari itu karena sampai saat ini belum menemukan yang cocok untuknya.


Mantan duda itu segera beranjak dari tempatnya. Kesabaran sedang diuji Fina dalam hal ini. Dia tidak mau sampai emosi menghadapi Fina karena bisa berakibat fatal. Lantas, mantan duda itu berdiri di belakang Fina dan segera memberikan dekapan hangatnya sebagai penenang.


"Lebih baik baik sekarang kamu tarik napas dulu terus buang. Lakukan ini agar pikirannmu lebih jernih lagi. Nanti pasti bajunya muat semua," bisik Benny dengan tangan tak henti mengusap perut buncit itu.


Fina segera melakukan saran dari suaminya. Tentu semua ini dilakukan Benny agar Fina lebih relaks dan tidak emosi lagi. Mantan duda itu terus mengintruksi Fina agar mengulang kegiatan itu sampai pikiran menjadi tenang.


"Istighfar, Sayang. Kamu tidak boleh bicara seperti ini karena di luar sana, banyak wanita yang ingin berada di posisimu. Mereka sampai rela mengeluarkan banyak uang dan antre di rumah sakit karena ingin hamil. Kamu harus bersyukur karena bisa mendapatkan rezeki yang mudah tanpa harus bersusah payah berusaha. Menjadi gendut, chubby dan mengalami perubahan fisik yang lain saat hamil adalah idaman wanita pejuang garis merah."


"Coba bayangkan jika kamu berada di posisi mereka? Pasti lebih sedih bukan dari sekadar berubah menjadi gendut?" tutur Benny seraya menatap Fina lewat pantulan cermin yang ada di pintu almari.


Fina termenung setelah mendengar penuturan bijak suaminya itu. Ya, dia merasa bersalah karena sudah banyak mengeluh karena hal ini, "astagfirullah," gumamnya dengan helaan napas yang berat.


"Maaf ya, Mas karena sudah bersikap gak baik," ucap Fina seraya menatap Benny dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.


"Coba pakai yang ini," ujar Benny seraya memberikan overall dan blous putih kepada Fina.


"Mas yakin aku pakai baju ini? Nanti kalau Mas diejek Aris karena aku gak menarik bagaimana? Apa gak malu?" tanya Fina seraya mengamati pakaian pemberian Benny.


"Aku tidak peduli dengan bocah ingusan itu," jawab Benny tanpa berpikir panjang, "lebih baik kamu cepat ganti baju dan make up, setelah itu kita berangkat. Oke?" bujuk Benny agar Fina mempercepat semua keribetan yang terjadi saat ini.


"Bagiku kamu selalu cantik dan tetap akan cantik selamanya. Kamu istriku, jadi tidak perlu terlihat menarik di mata pria lain. Kamu hanya boleh tampil menarik di hadapanku," ucap Benny seraya mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas, karena sudah menjaga kewarasan saat menghadapiku. Tetap sabar ya, Mas. Jangan sampai emosi," pinta Fina sambil mengusap rahang kokoh yang ada di hadapannya itu.


"Aku akan menyiapkan Elza agar nanti tidak terlalu lama menunggu. Kamu siap-siap saja," pamit Benny sebelum pergi meninggalkan Fina di kamar.


Klak. Pintu kamar itu tertutup rapat setelah Benny berada di luar kamar. Pria tampan itu menyandarkan punggung di dinding yang ada di sebelah pintu sambil mengusap dada. Dia bernapas lega setelah berhasil menjinakkan macan betina di dalam kamar.


"Huuh!" Benny membuang napasnya kasar, "untung saja aku kuat menghadapi dia. Tapi aku heran deh, dapat dari mana aku kata-kata bijak seperti tadi?" Benny bergumam setelah teringat semua kalimat penenang yang berhasil meluluhkan Fina.


"Perubahan mood yang dialami Fina benar-benar membuatku harus mengisi penuh stok sabar. Duh gusti paringi kuat!" lanjut Benny sebelum pergi dari depan kamarnya.


Pria tampan itu pergi mencari putranya di bawah karena tadi sedang asyik bermain bersama Jumiatin. Dia harus menyiapkan Elza sebelum Fina keluar dari kamar agar tidak memancing emosi wanita berbadan dua itu. Menunggu lama bisa memicu perubahan mood Fina.


"Elza! Ayo ikut Papa pergi kondangan ke rumahnya kang Aris," ajak Benny setelah menemui putranya di ruang keluarga.


"Aku di rumah saja deh, Pa, sama Mbok Jum," tolak Elza karena terlanjur asyik bermain dengan wanita paruh baya itu.


"Pokoknya Elza harus ikut! Nanti kalau Mama diambil kang Aris bagaimana?" bujuk Benny tanpa berpikir panjang.


Tentu Elza tidak suka dengan hal ini. Dia segera meletakkan mainannya dan segera pergi dari ruang keluarga. Rupanya jurus yang dipakai Benny berhasil membuat Elza beranjak dari sana.


"Papa! Ayo buruan ganti baju! Jangan sampai Mama berangkat sendiri. Nanti bisa diculik kang Aris!" teriak Elza setelah sampai di di undakan atas anak tangga yang menjulang tinggi itu.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Yuk tulis komentar kalian😆Biar othor semangat...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2