
Di kota FF universitas FF.
Masa perkenalan kampus universitas FF telah selesai dan saat ini para murid baru telah memulai perkuliahan mereka di semester awal.
Sebagai seorang yang ditugaskan untuk menjaga Ana, Siro terus berada di sisi gadis itu dan menemaninya di dalam ruang perkuliahan.
Kelas pertama Ana baru saja selesai, meski belum ada materi dan hanya perkenalan dengan dosen, namun itu cukup melelahkan karena dosen hari itu begitu membosankan.
"Ah,, aku lelah!" Seorang gadis yang dikenal Ana ketika baru masuk kuliah langsung meregangkan punggungnya begitu dosen menghilang di balik pintu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ana.
"Ya, e-m?" Gadis bernama Kiora belum selesai berbicara ketika para gadis sudah mengerumuni meja mereka.
"Apa yang kalian lakukan?!" Kiora terkejut saat para gadis itu terlihat sangat bersemangat dan beberapa dari mereka bersemu malu-malu.
Sayangnya, tidak ada satu pun yang memperdulikan perkataan Kiora karena pada gadis yang mengerumuni mereka sebenarnya sedang terfokus pada pria yang duduk di samping Ana.
Pria tampan yang terlihat dingin dan jarang berbicara, pria itu telah menarik perhatian mereka!
"Pria tampan? Siapa namamu? Aku melihatmu berada di kelas ini tapi aku tidak melihatmu memiliki buku catatan. Kelas berikutnya, bolehkah kita duduk bersama?
"Aku janji aku tidak akan bersikap pelit seperti dua gadis yang bersamamu ini, aku pasti meminjamimu buku catatan__ eh bukan, Aku bahkan bisa memberimu buku catatanku dan tidak perlu mengembalikannya!" Ucap salah seorang gadis yang merupakan primadona di angkatan mereka.
__ADS_1
"Ya, ya,, benar!" Gadis yang lain mengikuti sembari menganggukkan kepala mereka dengan tatapan terfokus pada Siro.
Hari itu, Siro menggunakan pakaian layaknya seorang mahasiswa karena Ana tidak mau jika pria itu sampai menarik perhatian banyak orang dengan pakaian kakunya seperti ketika Siro bekerja untuk Andra.
Tapi tak menyangka,,,
"Hei!! Kalian bodoh?! Beraninya mengatakan bahwa kami pelit karena tidak meminjaminya buku?! Kami in-"
"Kau masih berani mengelak?! Jelas-jelas aku memperhatikan kalian duduk bertiga disini tapi kalian berdua malah tidak meminjaminya buku!"
"Itu karena pria ini adalah peng- ahh!!!" Kiora yang belum selesai berbicara tiba-tiba menjerit saat ia ditarik oleh para gadis dan menyingkirkannya dari sisi Ana.
"Kau yang bodoh! Cepat menyingkir!"
Tangan Gadis itu melayang di atas udara dan dengan gemetar menarik tangannya kembali, wajahnya merah padam dan merasa sangat malu.
Itu pertama kalinya dia melihat sebuah tatapan yang mematikan meskipun dia tidak tahu apa salahnya namun tubuhnya tidak bisa lagi digerakkan untuk menyentuh Ana.
"Pria tampan? Apa kau sedang melindungi gadis jelek ini?! Aku tidak mengerti, dia tidak pandai merias diri, wajahnya biasa-biasa saja, dan terlebih, dia hanya perempuan miskin yang mendapat beasiswa dari negara X, benar 'kan?" Tatapan jijik dari Titin langsung hinggap di tubuh Ana.
"Benar! Hanya gadis beasiswa!" Yang lain mulai membenarkan.
Ucapan para gadis yang mulai mengolok Ana membuat gadis itu mengepalkan tangannya di bawah meja.
__ADS_1
Itu pertama kalinya dia mendapat penghinaan setelah dibesarkan dengan penuh kasih sayang di keluarganya.
Tapi Ana sadar, bahwa dia tidak bisa membongkar identitasnya atau mungkin kehidupan kampusnya akan berjalan dengan buruk karena harus menghadapi banyaknya penjilat di kampus itu!
"Apa yang baru saja kau katakan?!" Suara dingin dan berat disertai tekanan yang keluar dari mulut Siro tiba-tiba membuat Titin yang baru saja berbicara dan memandang jijik Ana langsung mematung dan melihat pada Siro.
Tiba-tiba saja, suasana di sekitar meraka langsung berubah layaknya hujan salju yang turun di tengah musim panas!
"A_a,, apakah aku salah bicara?" Gadis dengan rambut pirang itu bertanya dengan hati-hati.
Suaranya sangat pelan seolah dia baru saja ditampar oleh kekuatan yang dikeluarkan oleh Siro hingga tak mampu lagi bersuara keras.
"Jika kalain berani menganggu Nonaku lagi, aku kan meng-"
"Kak Siro, kumohon," Ana mencegah Siro menakuti semua gadis yang ada di sana.
"Maaf Nona, haruskah kita pergi sekarang?" Tanya Siro menggunakan bahasa negara X yang tidak dimengerti oleh para gadis di sana.
Ana menganggukan kepalanya lalu Siro segera membantu Ana berdiri dan dengan patuh para gadis itu membiarkan mereka lewat.
Mereka bukan takut pada Ana tetapi pada pria yang berada di belakang Ana.
Jelas pria itu bukan pria sembarangan karena dari auranya saja mereka bisa melihat bahwa Siro kemungkinan besar berasal dari kalangan yang tidak bisa di sentuh sembarangan.
__ADS_1