Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
87. Lidah atau Cabai


__ADS_3

Andra dihadapkan dengan 2 buah tawaran suapan di depannya.


Yang satu menawarkan timun untuk meredakan rasa pedas yang membakar mulutnya sementara yang lain menawarkan telur dadar yang penuh dengan saus cabai.


Sarah menatap suaminya yang terdiam, bibir pria itu terlihat sangat merah karena cabai yang diberikan Sarah.


"Emmh, ya, aku rasa timun lebih baik untukmu. Timun bisa meredakan rasa pedasmu kar-" Sarah belum selesai berbicara kala tangannya yang ditarik dari hadapan Andra digenggam oleh Andra.


Dengan wajahnya yang tenang, Andra menyuap telur di ujung garpu milik Sarah.


"Enak," komentar Andra sembari mengunyah dengan tenang meski wajahnya sudah penuh dengan keringat dan kulit pria itu terlihat memerah karena menahan rasa pedas.


"Benar 'kan! Rasanya pasti enak!" Ucap Sarah saat suasana hati perempuan itu sudah membaik dan ia sudah melupakan seluruh kesalahan Andra.


"Hmm, rasanya enak." Ucapan Andra mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk kepala Sarah.


Dengan senyum bangga, Sarah menatap Ririn, menikmati wajah kecewa perempuan itu.


Angkasa memperhatikan menantunya dan cukup prihatin pada pria itu.


Bagaimanapun, dia pernah berada di posisi yang sama dan tidak menyangka bahwa menantunya pun akan mengalami hal yang sama.


"Ibu, apakah Kak Andra akan baik-baik saja nanti?" Ana berbisik pada ibunya kala rasa kuatir terpampang jelas di wajahnya.


Meski dia merasa tenang karena Andra memilih pilihan yang tepat untuk mengabaikan Ririn dan memperhatikan istrinya, tapi tetap saja kakaknya telah mengkonsumsi begitu banyak saus cabai!


"Biarkan saja." Jawab Laila dengan acuh.


"Tapi Bu,"

__ADS_1


"Ssst,," Laila kembali memperingatkan putrinya supaya menutup mulutnya.


Bagaimanapun, idenya lah yang menyuruh Sarah untuk memberi makanan pedas pada Anda supaya putranya bisa jerah melukai Sarah.


Itu pelajaran untuk pria itu!


Makan malam terus berlanjut dan setiap suapan yang masuk ke dalam mulut Ririn terasa seperti paku berkarat yang melukai dan menginfeksi dinding-dinding mulutnya.


'Sial!! Bisa-bisanya Andra memilih suapan dari Sarah ketimbang suapan dariku. Jelas pria itu tahu kalau timun bisa meredakan rasa pedasnya!' geram Ririn dengan kesal.


"Aku sudah selesai." Kata Dewa dengan tatapan malas saat ia meletakkan garpunya lalu pria itu segera berdiri meninggalkan ruang makan.


'Sial!' geram Ririn ikut meletakkan garpunya..


Meskipun berada di meja makan itu terasa seperti mengunyah paku berkarat, tetapi mengikuti pria itu ke kamar juga akan membuatnya merasakan neraka di atas ranjang milik Dewa!


"Kami juga sudah selesai." Ucap Angkasa lalu dia dan istrinya segera pergi.


Wajah Andra tidak terlihat baik, sementara Sarah masih lahap menikmati makanannya.


"Sayang, kau sudah minum banyak sekali air!" Sarah menegur Andra saat melihat pria itu kembali menuang air dan meminumnya.


"Hmm, aku haus." Ucap Andra meletakkan gelasnya sembari menahan rasa pedas yang terasa membakar di mulutnya.


"Benarkah? Tunggu sebentar." Ucap Sarah berjalan ke arah lemari dan mengambil sebotol madu lalu menuangkannya ke sendok.


"Ini, madu bisa meredakan rasa hausmu." Ucap Sarah menyuapi Andra.


"Bagaimana?" Tanya Sarah ketika dia selesai menyuapi Andra dengan madu.

__ADS_1


"Rasanya manis seperti kamu." Ucap Andra sembari tersenyum dan mencubit pipi istrinya.


"Benar 'kan?" Sarah kembali tersenyum senang lalu perempuan itu memberi beberapa suapan madu tambahan pada Andra.


"Sayang, aku sudah memafkanmu kok, tapi lain kali aku tidak mau kalau kau berbohong padaku. Kalau kau melakukannya lagi, aku ak-" ucapan syarat tergantung ketika Andra langsung meraih tengkuknya dan membungkam bibirnya.


Perempuan itu terdiam saat merasakan bibir Andra terasa begitu pedas, apalagi ketika lidah pria itu menjalar ke dalam mulutnya.


Lidah atau cabai?!


Sarah mendorong suaminya dan dia meneguk segelas air putih karena rasa pedas pada mulutnya.


"Mmh! Sayang, apa kau kepedasan?" Tanya Sarah menatap tajam suaminya yang terlihat tenang meski keringat membanjiri kening Andra.


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Andra meraih garpu dan kembali mengambil sepotong daging lalu mencelupkannya ke saus cabai.


Pria itu lalu memakan daging yang penuh dengan saus dan terlihat sangat menikmatinya.


"Sayang berhenti!" Ucap Sarah merebut garpu dari tangan Andra lalu memberi beberapa sendok madu pada Andra.


"Maaf, aku salah." Ucap Sarah kemudian.


"Salah? Aku justru senang karena disuapi oleh istriku." Ucup Andra hendak mengecup bibir istrinya ketika pria itu menghentikan gerakannya.


Tidak boleh! Bibirnya masih terasa panas!


@Interaksi


__ADS_1


Otor ajah gak bahagia sebab punya reder pembacot semua. Ini malah si Siro yang mau dibikin bahagia, heu,, GAK BOLEH...!!!


__ADS_2