
"Bagaimana?" Laila menjawab telepon dari sang manajer hotel.
"Semuanya berjalan lancar, 2 pelayan yang baru saja keluar dari kamar mereka mengatakan bahwa anak dan menantu Nyonya baik-baik saja dan tidak terlihat adanya pertengkaran." Jawab sang manager hotel dari seberang telepon.
"Lalu, bagaimana dengan obatnya?" Lagi tanya Laila dengan sangat antusias.
Dia harus memastikan bahwa obat yang ia berikan telah dikonsumsi oleh Andra dan juga Sarah supaya malam itu benar-benar terjadi sesuatu yang sangat istimewa di antara keduanya.
"Semuanya berjalan dengan lancar, makanan yang kami siapkan sudah dihabiskan keduanya. Dan kami menaruh obat yang Nyonya berikan di makanan tersebut." Lagi jawab manager hotel membuat Laila tersenyum sumringah.
"Bagus, kalau begitu terus awasi mereka dan laporkan semuanya padaku." Ucap Laila lalu mengakhiri panggilan itu.
"Sayang, bukankah kau terlalu kejam?" Tanya Samudra pada Laila.
Samudra sangat takut kalau saja malam itu adalah kali pertamanya Sarah, bagaimana jadinya perempuan itu saat kali pertamanya dia harus meladeni pria yang terpengaruh obat perangsang.
"Kau tenang saja, obat yang kuberikan pada Sarah jauh lebih banyak daripada Andra. Andra pasti tetap akan sadar saat melakukannya." Ucap Laila dengan cuek.
"Memangnya Bu, Obat apa yang Ibu berikan pada kakak Andra dan juga Kakak Laila?" Tanya Ana yang sedari tadi duduk sembari membaca majalah.
__ADS_1
"Bukan apa-apa sayang, itu hanya obat supaya mereka berdua tetap sehat dan fit menjalani bulan madu mereka. Oh ya Ibu kan sudah menjanjimu untuk pergi berbelanja, bagaimana kalau kita pergi sekarang?" Ucap Laila membuat Ana langsung menutup majalahnya dan meletakkannya ke tempatnya.
"Ayo!" Seru Ana bersemangat.
"Sayangku, ini sudah malam. Bukankah lebih baik kal-"
"Ih,, Ayah,, zaman sekarang, berbelanja tidak mengenal waktu lagi, bahkan di tengah badai pun kita masih bisa berbelanja!" Ketus Ana pada ayahnya.
"Iya sayang, sebaiknya kau juga ikut ganti baju supaya kau juga pergi menemani kami." Ucap Laila langsung menarik suaminya lalu kedua orang itu segera memasuki kamar untuk bersiap-siap.
Sementara ketiga orang itu bersenang-senang karena mereka akan pergi berbelanja sepuas hati, maka lain halnya dengan yang terjadi di kamar hotel Andra dan Sarah.
Tak menyangka Andra akan memperlakukannya dengan sangat kasar, hal yang pertama dipikirkan Sarah adalah melindungi rahimnya.
'Uhh, hampir saja, maafkan ayahmu bayi kecilku sayang.' Gumam Sarah sambil mengatur nafasnya.
Tapi karena terlalu fokus pada rahimnya, perempuan itu tidak menyadari saat Andra kemudian menarik rambutnya hingga ia yang semula tidur langsung duduk menghadap Andra.
"Dimana kekasihku?! Katakan padaku! Di mana ayahmu menyekap kekasihku?!" Teriak Andra membuat Sarah terkejut dan perempuan itu merasa ketakutan dengan suara Andra yang terlalu kasar.
__ADS_1
'Kenapa dia bersikap buruk lagi? Bukankah dia sudah membaca buku catatan itu? Buku yang,' Sarah meneteskan air matanya saat ia melihat buku yang diletakkan di atas meja, bagian belakangnya telah dirobek.
"Dasar perempuan bisu!" Geram Andra saat ia menunggu jawaban saran namun perempuan itu hanya membisu.
Andra lalu mengulurkan tangannya meraba wajah Sarah dan menangkup dagu perempuan itu,
"Aku tanya sekali lagi! Di mana kau sembunyikan Putri?!" Tanya Andra dengan pikiran pria itu sudah menggila.
Dia tidak tahan terus memikirkan nasib Putri, apalagi saat ini dia sedang buta dan tidak bisa melakukan apapun untuk mencari kekasihnya.
Sebab Ririn yang sudah ia percaya akan untuk mencari kekasihnya telah gagal mengalahkan Angkasa, apalagi jika dia harus menyuruh orang lain! Pasti mereka akan lebih tidak berguna lagi!
'Jadi Andra belum percaya kalau aku ini adalah putri? Tapi kenapa? Apakah aku menulisnya dengan kurang jelas?' gumam Putri terdiam.
@Interaksi
Sini ke mars, langsung rasakan sensasi tahun 2033 🤭 Oh lupa,, kan reder bacot di sini gak bermodal,, heu...
__ADS_1