
Mona dan Milan memperlihatkan wajah menyedihkan dan malu mereka saat keduanya akhirnya berdiri meninggalkan kelas.
"Rasain! Siapa suruh bergosip di dalam kelas!" Kiora langsung tersenyum puas menatap kepergian dua orang itu.
"Ssstt,, Jangan bicara lagi, atau kita juga akan diusir." Ana berbicara dengan suara yang sangat pelan karena jantungnya sudah gugup saat tatapannya bertemu dengan tatapan Titin.
"Iya, aku tahu," Kiora menjawab dengan santai lalu gadis itu kembali fokus pada dosen yang mulai membuka kuliah.
Kuliah berjalan dengan lancar, Siro terus duduk seperti patung dan sesekali melihat kearah tangan halus milik Ana yang terus mencatat hal-hal penting yang dikatakan oleh dosen.
'Apakah dia lapar? Bisa gawat kalau dia kembali sakit!' Siro melirik pada bungkus makanan yang diletakkan di sebelah Ana.
Dia ingat kalau tadi pagi dia sempat mendengar perut Ana berbunyi, jadi dalam hatinya dia mengkuatirkan kesehatan Ana.
Bohong bila Ana tidak menyadari tatapan Siro, tapi gadis itu berusaha mengabaikannya dan menyibukkan dirinya menangkap setiap hal-hal penting yang disampaikan oleh dosen.
"Baiklah, kuliah kita sampai di sini saja, sampai bertemu dengan minggu depan." Kata Sang dosen pengampu mata kuliah lalu pria itu segera keluar dari kelas.
Kelas yang awalnya tenang langsung menjadi riuh.
"Akhirnya,, aku sudah bisa makan!" Kiora menyambar buku-bukunya dan dengan gerakan yang cepat menyimpan semua barang-barangnya ke dalam tas.
Pikirannya telah dipenuhi oleh bermacam-macam makanan yang ada di kantin, baginya makanan di kantin jauh lebih enak daripada makanan di rumahnya.
"Ana cepatlah bereskan itu supaya kita bisa sarapan di kantin." Kiora mengenakan tasnya sembari memperhatikan Ana yang belum selesai membereskan buku-bukunya.
"Nona Muda sebaiknya makan di sini saja, lagi pula saya sudah menyiapkan makanan. Perjalanan ke kantin jauh dan takutnya Nona malah pingsan di tengah jalan." Siro berbicara dalam bahasa negara X yang tidak dimengerti oleh Kiora.
"Hei, tidak bisakah kau berbicara dengan bahasa Inggris? Apa jangan-jangan sekarang kau sedang menjelek-jelekkan ku di depan Ana?" Kiora menatap sinis pada Siro, dia tidak menyukai cara pria itu.
__ADS_1
Siro "..."
Tidak perlu merespon orang lain, tugasnya hanya melindungi Ana, bukan beradu mulut dengan gadis-gadis kuliahan yang masih dibawah umur!
"Ya! Kau,," Kiora menggertakan giginya tapi pada akhirnya dia tidak jadi mengatai pria itu karena Ana menatapnya dengan tatapan memelas.
"Kiora, aku rasa aku tidak bisa pergi ke kantin bersamamu. Aku sudah membeli sarapan ketika dalam perjalanan ke mari jadi aku pikir,,,"
"Huh baiklah, aku tahu kalau kau hanya ingin berduaan dengan pengawal menyebalkanmu itu!" Kiora berbalik meninggalkan Ana dan siroh.
Ana "..."
Ingin berduaan dengan Siro?
Mana mungkin!
Tapi saat ini, dia memang merasa sangat lapar dan dia juga menyadari bahwa perjalanan ke kantin memang sangat jauh, lebih baik makan di kelas sebentar.
Tapi terlanjur, Kiora sudah mengatakan kata-kata itu dari mulutnya jadi Siro sudah mendengarkannya!
Ana menatap Siro dengan ragu-ragu "Uh,, Kak Siro, apa yang dikatakan Ki ora,,,"
"Saya tidak mendengarnya." Ucap Siro dengan datar.
Ana "..."
Bagaimana mungkin Siro tidak mendengarnya, jelas pria itu memiliki telinga, bahkan ada dua telinga yang menempel di kepalanya!
Tapi Ana tidak ingin membahasnya lebih lanjut, baguslah kalau pria itu berpura-pura tidak mendengarnya.
__ADS_1
Ana segera meraih bungkusan makanannya dan mulai sarapan dengan lahap.
Setelah sarapan, Ana merasakan panggilan alam, jadi Gadis itu segera mengambil tasnya dan berdiri.
"Aku ke toilet sebentar." Ucap Ana segera berjalan pergi meninggalkan Siro.
Tapi gadis itu terkejut ketika dia akan tiba di toilet dan menyadari bahwa Siro ternyata mengikutinya.
Menghentikan kakinya lalu berbalik menatap Siro, Ana kemudian berkata "Kak Siro tidak perlu mengantarku kalau aku hendak ke toilet. Aku tidak mau teman-temanku berpikir aneh kalau mereka tahu bahwa-"
"Saya juga ingin pergi ke toilet, bukannya mengikuti Nona." Selah Siro.
Ana "..."
Pipi Ana langsung berubah menjadi merah kala gadis itu segera berlari ke depan dan memasuki toilet perempuan.
Dari balik pintu toilet Anda bisa mendengarkan langkah kaki Siro terus berjalan ke samping toilet perempuan di mana terdapat toilet untuk pria.
"Memalukan..!" Gerutu Ana memukul-mukul kepalanya.
Sudah berapa kali dia mempermalukan dirinya sendiri di depan Siro?!
Lebih tepatnya, perlu berapa kali dia mempermalukan dirinya sendiri sampai dia berhenti?!
@Interaksi
Otor bangga ketika bisa membeli pulau, tetangga otor bangga karena bisa menang lotre 100 juta, reder yang ini malah bangga karena,,, ternyata level kebanggaan orang emang beda-beda ya...😁
__ADS_1