
Tidak tahu berapa lama Siro dan Ana melakukannya hingga keduanya akhirnya tertidur dan melewati malam itu sembari berpelukan bersama sampai siang menjelang.
"Mereka belum keluar?" Samudra yang sudah tiba menghampiri Dewa yang berjaga di sana sepanjang malam.
Mata Dewa terlihat mengerikan karena pria itu terus terjaga dan selain terjaga dia juga menahan sesuatu yang dirangsang oleh suara-suara aneh dari dalam kamar Ana.
"Belum." Dewa yang sementara duduk segera berdiri menatap Samudra.
"Kau benar-benar ingin menikahkan mereka?" Dewa bertanya pada samudera dengan nada suara yang benar-benar tidak mempercayai pemikiran Samudra.
"Lalu maksudmu, mereka hanya melakukannya dan segera berpisah?" Tanya Samudra.
"Itu jauh lebih baik, aku bisa mencari pria lain yang lebih pantas untuk Ana dan mau menerima Ana dengan tulus." Jawab Dewa tanpa ada keraguan di wajah dan suaranya.
Menghadapi pria didepannya, Samudra mengatup giginya dan memejamkan matanya.
Mencari pria lain bukankah hal yang tidak mungkin, tetapi dia tidak mau kalau sampai Ana bernasib sama seperti Sarah.
Menderita di dalam tekanan seorang pria, sementara jika Siro yang bersamanya, dia yakin pria itu bisa mencintai Ana dengan tulus dan terlebih dia sudah mendengar dari Sarah bahwa Ana juga menyukai Siro.
"Aku menghargai kebaikan Paman untuk hal ini, tetapi sebagai Ayahnya aku sudah memutuskan, dia akan bersama Siro." Samudra berbicara dengan tekad untuk melawan Dewa.
"He,, baiklah, kita lihat apakah Ana mau menerima pengawal konyol itu!" Geram Dewa meninggalkan Samudra.
Sementara di dalam kamar, Ana yang tertidur di dalam pelukan Siro perlahan mengerjapkan matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah dada telanjang seorang pria yang sedang memeluknya.
__ADS_1
"Ahh!!" Teriaknya mendorong dada bidang itu agar menjauh darinya.
Siro yang merasakan tubuhnya disentuh dan mendengar suara teriakan langsung membuka matanya dan melihat Ana sedang menatapnya dengan wajah memerah.
"Ka,, Kak Siro?!" Ana terpaku ketika menyadari orang yang bersamanya adalah Siro.
'Mencintai Ana dan menikahi Ana.' perintah Andra kembali terngiang dalam pikiran Siro.
"Nona, saya mencintai Nona dan akan menikahi Nona. Apa Nona Setuju?" Langsung kata Siro mengagetkan Ana.
Ana "..."
Apakah dia sedang dilamar?!
Dalam keadaan seperti ini?!
"Kak Siro, lepas!" Ana gelagapan dengan wajah yang sangat malu.
"Tapi kalau saya melepaskan Nona, Nona Akan jatuh ke lantai." Kata Siro dengan wajah datar.
Hal itu membuat Ana menjadi semakin malu, ia hendak duduk ketika merasakan seluruh tubuhnya mengalami kesakitan.
Tak bisa berbuat apapun, Ana hanya menenggelamkan dirinya di dalam selimut dan berharap dia menghilang dari dunia.
Sungguh malu..!
"Apakah Nona bersembunyi karena tidak mau menikah dengan saya?" Suara Siro dari luar selimut membuat Ana segera menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Jantungnya masih berpacu dengan kencang, bayang-bayang semalam di mana dia merayu Shiro sepotong-sepotong kembali terputar di ingatannya.
Malu malu malu....!
Mengapa dia bisa merayu Siro sampai seperti itu?!
"Nona?" Suara Siro kembali terdengar.
"Ka,, kak Siro, mengapa kak Siro mengatakan itu? Kakek akan marah kalau tahu..."
"Mereka sudah setuju." Jawab Siro.
Jawaban Siro mengagetkan Ana, perempuan itu menarik selimutnya dan menampakan setengah wajahnya. Ia menatap Siro.
"Mereka setuju?" Tanya Ana dengan ragu-ragu.
"Hm, tapi saya tidak bisa menikahi Nona kalau Nona tidak setuju," lagi kata Siro, meski menikahi Ana adalah perintah, tetapi dia juga menyukai Ana dan memperlakukan perempuan itu dengan sangat baik, dia tidak mau pernikahan itu membuat Ana merasa tersakiti.
"Ohh,, tapi bagaiman dengan Ayah dan Kakakku?" Lagi tanya Ana.
"Jika mereka setuju, apakah artinya Nona mau menikah dengan saya?" Tanya Siro.
Anak mengerjapkan matanya melihat Siro, mengapa pria didepannya tiba-tiba terlihat mirip seperti 3 orang itu?
Suka memojokkan orang!
__ADS_1