
"Obat ini seharusnya obat yang baru dikembangkan, dan saya tidak mengetahui banyak tentang obat ini sebaiknya kepala farmasi DX segera didatangkan kemari." Jelas dokter.
"Panggil Kekek Tua itu kemari." Langsung perintah Dewa setelah mendengar penjelasan dokter.
"Baik Tuan." Jawab pria yang selalu berada di sisi Dewa, pria itu langsung pergi melakukan panggilan telepon.
Dokter yang melihat keadaan Siro juga merasa prihatin dengan pria itu, jadi dia langsung berkata "Tuan, Anda juga harus diobati, luka Tuan tidak ringan dan,,"
"Kalian keluar,"Dewa menyelah ucapan dokter itu lalu dia segera menoleh pada Siro.
"Katakan, apa yang terjadi?!" Tanya Dewa pada Siro.
Saat itu juga lah Andra memasuki ruangan dan terkejut melihat keadaan Ana yang sedang meronta-ronta di atas tempat tidur beserta keringat yang memenuhi sekujur tubuhnya.
"Ini salah saya." Jawab Siro.
"Sudah berapa kali kau melakukan kesalahan?!" Dewa mengayunkan kakinya dan menendang tulang kering Siro membuat pria yang sudah kelelahan itu langsung mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Kakek berhentilah. Cucumu menjadi semakin terganggu kalau Kakek membuat keributan di sini." Kata Andra mendekati Siro lalu menarik pria itu ke samping.
"Pergi obati lukamu." Perintahnya pada Siro diikuti pria itu keluar dari ruangan dengan mata berkaca-kaca.
Itu adalah pertama kalinya Andra bersikap baik padanya, dan pertama kalinya Andra membelanya di depan seseorang.
Huhu,,, kenapa baru sekarang?
Sementara Andra yang tinggal di dalam kamar, Dewa langsung melihatnya dengan tatapan tidak senang "Sejak kapan kau berubah menjadi orang yang begitu mudah memaafkan?" Tanya Dewa.
"Kakek, kau tidak akan pernah mengerti karena kau tidak pernah menikah. Tidak pernah memiliki orang yang dicintai dan tidak pernah merasa kuatir pada orang selain selain pada diri Kakek sendiri." Jawab Andra dengan acuh.
Tidak pernah menikah!
Tidak memiliki orang yang dicintai!
Tidak pernah mengkhawatirkan orang lain!
__ADS_1
Adakah kondisi yang lebih menyedihkan daripada itu?! Kenapa tidak sekaligus diberikan padanya?!
"Apa pun yang kau tuduhkan padaku, semuanya tidak penting! Yang penting sekarang bagaimana cara mengatasi kondisi yang terjadi pada adikmu setelah kecerobohan yang dilakukan oleh pengawal yang kau taruh di sisi-nya?!" Tanya Dewa pada Andra.
"Bukankah kita sedang menunggu seseorang untuk mengobati Ana? Dan lagi, kakek terlalu cepat menyimpulkan bahwa itu adalah kesalahan Siro. Bagaimana kalau sebenarnya yang bersalah adalah pengawal yang kakek ditempatkan di sisi Ana?!" Andra berkata dengan tegas.
"Heh, orang-orang ku tidak ceroboh dan selemah orang-orang mu!" Kata pria itu dengan kekesalan memenuhi hatinya karena Andra sudah membela orang asing ketimbang dirinya sendiri yang merupakan keluarga Andra.
Intinya, dia cemburu pada Siro yang sudah mengambil posisi lebih penting di hati Andra ketimbang dirinya!
"Oh, kita akan melihatnya setelah semuanya sudah diselidiki." Jawab Andra tanpa menoleh pada Dewa, matanya terpaku pada adiknya yang sedang meronta-ronta di atas tempat tidur.
"Baiklah, tapi kalau sampai pengawal bodoh itu lah yang bersalah, maka kau harus membiarkan aku menghukumnya dengan caraku sendiri!" Kata Dewa penuh keyakinan.
"Baiklah, tapi jika sebaliknya yang terjadi, maka kakek harus memenuhi satu permintaanku." Andra membalas tatapan Dewa dengan tatapan penuh percaya diri.
"Baiklah, aku yakin pengawalku tidak sebodoh pengawal yang kau sediakan." Kata Dewa penuh percaya diri, pria itu segera keluar dari kamar Ana.
__ADS_1