Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
104. Aku hanya perlu bersembunyi sebentar


__ADS_3

Masuk ke dalam kamar, Ana langsung membungkus dirinya dengan selimut dan merasa sangat malu untuk mengingat kejadian tadi.


'Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku menatapnya begitu lama? Kenapa aku begitu bodoh dan tidak seperti kakakku yang sangat pintar? Apakah aku reinkarnasi babi sementara Kakakku reinkarnasi raja?' gumamnya meringkuk penuh penyesalan.


Hari itu masih siang, tapi Ana tidak berani untuk keluar dari kamar. Ia hanya menyuruh pelayan Untuk mengantarkan makan siang dan makan malam ke kamarnya lalu Gadis itu terus bersembunyi di dalam kamar.


Anak sangat jarang selalu berada di dalam kamar, semenjak tinggal di rumah Dewa, Ana selalu berkeliling setiap sore dan menyiram tanaman tanaman di kediaman Dewa.


Jadi ketika Dewa kembali dan mengetahui bahwa Ana tidak keluar dari kamar sejak kembali dari kampus, pria itu menyuruh Siro menemuinya.


"Tuan," Siro menghadap pada Dewa, pria itu sudah kembali seperti semula, menggunakan setelan jas formal berwarna hitam yang membosankan.


"Apa yang terjadi pada cucuku di kampus? Mengapa dia tidak pernah keluar dari kamar sejak kalian pulang dari sana?" Dewa duduk dengan angkuh dan suara pria itu pun tak kalah angkuh dari gayanya.


Dia hanya melihat Siro dari sudut matanya tidak berniat memandang pria itu.


Mendengar itu, Siro begitu terkejut, setelah mengantar Ana ke kamar, pria itu mengurung dirinya di kamar menyelidiki identitas semua teman-teman Ana di kampus.


Tapi ternyata, dia melupakan bahwa tadi siang dia telah kembali bersama Ana dan Gadis itu tidak berada dalam kondisi tubuh yang baik.

__ADS_1


Dalam sekejap detak jantungnya melambat 1 detik.


"Terjadi insiden kecil di kampus, Jadi sepertinya Nona muda butuh waktu untuk istirahat." Jawab Siro.


"Insiden kecil? Apa itu?" Akhirnya Dewa menatap Siro, apapun yang berhubungan dengan keluarganya harus ditangani dengan baik dan tidak boleh ada yang terlewat sedikitpun.


"Ketika kami berada di kantin, wajahnya tiba-tiba memerah dan suhu tubuhnya sang-"


"Bodoh! Lalu kau malah membawanya kemari dan menyuruhnya beristirahat?! Tidak menyuruh seorang dokter untuk memeriksanya?" Tanya Dewa kini berada di ambang batas kesabarannya.


Dia pikir karena Siro sudah lama berada di sisi Andra jadi pria itu sudah lumayan cakap untuk menangani berbagai urusan. Tapi sepertinya tidak.


"Maafkan saya Tuan," Siro tetap berdiri dalam posisi tegak nya, tapi dia tidak pernah berani menatap langsung mata pria yang berada di depannya, tatapannya lurus ke depan.


"Pergi panggil dokter dan memeriksanya lalu berikan laporan medisnya padaku. Jika tidak, sebaiknya jangan berpikir untuk terus berada disini!" Bentak Dewa sembari menggertakkan giginya.


Beraninya seseorang meminta maaf kepadanya!


Selama dia hidup, bawahannya tidak boleh minta maaf kepadanya karena segala sesuatu yang dilakukan bawahannya harus sempurna!

__ADS_1


"Tapi tuan, Nona Muda memang tidak mau bertemu dengan dokter, dia-"


"Jadi kalau dia akan meninggal jika dokter tidak menanganinya tetapi dia masih bersikeras untuk tidak menemui dokter maka kau akan membiarkannya meninggal demi menuruti permintaannya?! Apa ini yang sudah diajarkan Andra padamu?!" Tanya Dewa dengan aura kemarahan meski kata-katanya terdengar sangat datar, tapi Siro bisa merasakan tekanan yang kuat.


Es batu yang berat seolah menempel di pundaknya!


"Baik Tuan. Saya mengerti." Jawab Siro lalu pria itu segera meninggalkan ruangan Dewa dan bergegas menghubungi dokter supaya menuju ke kamar Ana.


Siro memasuki lift dan naik ke lantai 3, ketika dia tiba di sana 3 orang pria juga sudah keluar dari lift yang berada di sisi lift yang ia gunakan.


"Cepat!" Katanya memperingatkan ketiga orang itu lalu mereka bergegas ke kamar Ana.


Ding dong!


Bel kamar Ana berbunyi membuat gadis yang sedari siang terus berada di bawah selimut mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah layar.


Terlihat disana Siro bersama seorang dokter dan 2 orang perawat di belakang dokter.


Seketika kejadian di kampus kembali terputar di kepalanya membuat gadis itu menyusutkan diri dan tenggelam dibawa selimutnya.

__ADS_1


"Aku tidak sakit! Aku hanya perlu bersembunyi sebentar!" Ucapnya dengan suara pelan penuh penekanan karena ia begitu malu untuk bertemu dengan Siro.


Kejadian tadi siang sungguh memalukan baginya!


__ADS_2