
Setelah tiba di rumah, Sara begitu terkejut saat melihat di dalam kamar Andra sudah tidak ada lagi barang-barang miliknya.
Dan yang lebih parahnya lagi, dia mendapati kamar itu telah kembali seperti semula saat Sarah pertama kali menginjakkan kakinya di kamar Andra.
'Awas kamu Andra! Aku akan mencakarmu nanti malam!' geram Sarah dalam hati lalu perempuan itu mencari barang-barangnya di kamar yang lain.
Ia mendapati semua barang miliknya diletakkan di kamar sebelah kamar Andra.
Setelah merapikan semua barangnya dan membersihkan diri, Sarah memutuskan duduk-duduk di balkon sambil mengecek ponselnya yang belum ia lihat sejak siang tadi.
'Jadi, ayah dan ibu sudah pulang karena tante Liona mengalami kecelakaan? Kasihan Tante,,' gumam Sarah saat membaca pesan teks dari ayahnya.
"Nyonya, makan malam sudah siap." Bibi Nia datang menemui Sarah.
Menggunakan tangannya, Sarah memberikan simbol 'Ok' pada Bibi Nia lalu membiarkan perempuan itu pergi dari hadapannya.
'Aku tidak boleh egois, meskipun Ayah belum mengatakan apapun pada ayah Samudra, tapi aku sudah punya rencana untuk memberitahu Andra tentang identitasku yang sebenarnya.
'Kalau Ririn tidak bisa disingkirkan oleh Ayah Samudra, maka suamiku sendiri yang akan melakukannya!' gumam Sarah penuh tekad lalu perempuan itu segera turun ke lantai satu untuk makan malam sendirian.
"Kalau Nyonya ingin mengatakan sesuatu, Nyonya bisa menggunakannya dengan bahasa isyarat saya bisa berbahasa isyarat." Ucap Bibi Nia ketika melihat Sarah memandanginya seolah ingin menyampaikan sesuatu tapi bingung bagaimana cara menyampaikannya.
__ADS_1
*Jadi Bibi juga bisa bahasa isyarat?* Sarah terlihat sangat senang.
"Iya Nyonya, dua minggu lalu ketika nyonya dan Tuan diputuskan untuk menikah, saya disuruh oleh Tuan Samudra untuk mempelajari bahasa isyarat." Jawab Bibi Nia.
'Ternyata Ayah Samudra memang sangat menyayangiku. Aku jadi semakin senang karena bisa masuk dalam keluarga yang penuh kasih sayang.' gumam Sarah.
*Kalau begitu Bi, aku mau setiap aku makan Bibi ikut makan bersamaku di meja makan.*
"Aduh Nyonya, Saya tidak berani melakukan hal seperti itu." Ucap Bibi Nia tidak mau bersikap lancang pada Sarah meski dia tahu kalau Tuan sedang mengabaikan Sarah.
*Aku sudah terbiasa makan bersama ayah dan ibuku di rumah. Jadi ketika aku makan sendirian di rumah besar ini Aku merasa ada sesuatu yang hilang.* Sarah terlihat sangat sedih membuat Bibi Nia tidak tega pada perempuan muda itu.
Akhirnya, kedua perempuan itu makan malam bersama diselingi obrolan santai yang membuat keduanya semakin nyaman satu sama lain.
Malam hari pada pukul 8 malam, Sarah sedang berbaring di tempat tidur sembari memainkan ponselnya saat ia mendengar suara mobil baru saja tiba.
'Itu pasti suamiku!' gumamnya langsung berlari keluar kamar mengintip dari balkon lantai 2.
'Ulet bulu pincang, Apa yang dia lakukan di sini?' gumam Sarah seorang tidak rela saat perempuan itu terus datang ke rumah suaminya.
Dan terlebih, Sarah sangat terkejut saat melihat Ririn malah datang membawa sebuah koper besar.
__ADS_1
Berlari ke lantai satu, Sarah berdiri melihat dua orang yang sedang memasuki rumah.
"Tuan, Nyonya Sarah ada di sini." Ucap Ririn pada Andra saat melihat Sarah.
"Abaikan saja dia. Kau bisa menggunakan kamar lantai 1." Ucap Andra lalu laki-laki itu segera berjalan ke lantai 2 meninggalkan dua perempuan yang kini saling menatap dengan penuh kebencian.
"Halo Nyonya Sarah, mulai sekarang saya akan tinggal di sini." Ucap Ririn dengan senyum penuh kebanggaan.
'Ulet bulu! Lihat saja, malam mu tidak akan berjalan dengan tenang!' gumam Sarah dalam hati lalu perempuan itu segera meninggalkan Ririn ke lantai 2.
Namun dia belum memasuki kamarnya saat Ririn datang dari belakangnya dan perempuan itu langsung berjalan ke kamar Andra mengetuk pintu kamar.
'Apa yang dia lakukan?!' gumam Sarah tak percaya.
Perempuan di depannya benar-benar lancang!
@Interaksi
Tapi gimana ya,, otor udah terlanjur menerima serangan fajar, kecuali kalo ada yang lebih gede ya... hmmm.... mau ngasih berapa emang?
__ADS_1