Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
54. Masa lalu Giang


__ADS_3

Sarah baru saja menyelesaikan terapinya dan perempuan itu tersenyum puas ketika suaranya sudah mulai kembali meski belum pulih seperti sediakala.


"Mulai sekarang kau boleh berbicara, tapi tidak boleh terlalu memaksakan dan harus di beri jeda." Ucap Giang menyerahkan sebuah buku yang harus diisi Sarah untuk memantau perkembangan kesembuhan Sarah.


"Ok Kak!" Jawab Sarah sambil tersenyum meski suaranya belum terlalu didengar.


"Sekarang, Ayo pergi makan siang bersama." Ucap Giang merangkul adiknya untuk keluar dari rumah sakit.


Keduanya duduk di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah sakit dan memesan menu favorit masing-masing.


"Aku baru saja mendapat kabar dari ayah mertua mu kalau Andra sudah sembuh." Kata Giang saat ia membaca pesan yang dikirim ke ponselnya.


"Benarkah? Syukurlah. Lalu bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Sarah yang sudah mengetahui kondisi di negara X dimana Anderson group sedang terpuruk karena ulah ayahnya.


"Tenang saja, mertua mu tidak semudah itu." Ucap Giang mengelus puncak kepla Sarah.


'Mungkin waktuku untuk selalu dekat dengan Sarah tinggal beberapa hari lagi. Setelah itu, dia akan pergi bersama suaminya, dan aku tidak punya kesempatan untuk selalu memperlakukannya seperti ini.' gumam Giang.


"Terima kasih Kak. Aku sangat bersyukur memiliki kakak yang pengertian di sisiku." Ucap Sarah memeluk Giang.


"Sama-sama. Tapi kau harus ingat supaya tidak terlalu mudah memaafkan Andra, jika tidak, mungkin di kemudian hari dia akan mengulangi perbuatannya dan aku tidak mau jika saat itu ada dua orang yang kembali disakitinya." Ucap Giang mengarah pada anak di dalam kandungan Sarah.


"Aku mengerti." Jawab Sarah.

__ADS_1


Giang tersenyum sembari melihat ke arah perut Sarah, perutnya masih datar namun di dalamnya terdapat sel yang sedang berkembang menjadi sebuah nyawa kecil yang berharga.


'Keponakan Paman tersayang, paman tidak akan membiarkanmu bernasib sama seperti paman. Harus menghadapi kenyataan kehilangan orang tua.' gumamnya kembali ingat prihal kecelakaan yang mergut nyawa kedua orang tuanya.


Saat itu, sebagai ulang tahunnya yang ke 12, Angkasa memberikan hadiah tiket liburan untuk keluarga mereka.


Giang sendirilah yang memilih tiket liburan ke taman bermain.


"Ayah Ibu,, aku ingin menaiki itu!" Teriak Giang menunjuk bianglala.


Gina takut akan ketinggian, tapi demi menuruti keinginan anaknya yang sedang berulang tahun, Gina akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri menaiki bianglala.


"Ini menyenangkan!" Seru Giang ketika mereka semakin naik ke atas ketinggian dan pemandangan pemandangan di sekitar taman hiburan terlihat jelas oleh matanya.


Anggara dan Gina saling berpelukan karena Anggara tahu bahwa istrinya sangat takut akan ketinggian.


Perempuan itu memaksakan senyumnya diantara debaran jantungnya dan keringatnya yang bercucuran menaiki bianglala.


"Aku akan menjaga ibu, selam-" Giang belum menyelesaikan ucapannya ketika tiba-tiba saja cuaca buruk melanda.


Di hari yang cerah itu, tiba-tiba saja terjadi perubahan cuaca dengan cepat.


Taman hiburan yang awalnya penuh dengan keriangan kini dipenuhi oleh jeritan anak-anak yang ketakutan karena angin kencang yang datang bersama petir tanpa hujan.

__ADS_1


"Ibu,," Giang langsung masuk ke pelukan kedua orang tuanya ketika satu per satu penumpang telah diturunkan dari bianglala.


Sementara kapsul yang mereka tempati berada di posisi paling tinggi hingga membutuhkan waktu yang lama agar mereka mendapat bagian untuk diselamatkan.


Naasnya, mereka baru turun beberapa meter ketika tiba-tiba saja petir yang menyambar mengenai bianglala di mana mereka berada.


Menyadari bahaya, Anggara memeluk istri dan anaknya, Giang berada di tengah.


"Sayang," Gina berteriak ketika melihat besi yang menyangga kapsul mereka mengalami patah dan pelahan-lahan terpisah dengan penghubung yang lainnya membuat kapsul mereka terjatuh.


Kedua orang tua itu memeluk anak mereka dengan erat hingga ketika kapsul terjatuh ke bawah, Anggara dan Gina mengalami luka paling berat karena melindungi Giang.


Anggara meninggal di tempat, sementara Gina meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.


Sementara Giang tidak punya luka berarti di tubuhnya. Orang tuanya benar-benar melindunginya dengan baik


Dalam sekejap, sosok Giang yang kecil itu diuji oleh sebuah penyesalan atas kematian kedua orang tuanya.


"Kak Giang, ada apa?" Suara Sarah yang terdengar lembut dan sangat pelan melepaskan Gianng dari lamunannya.


"Tidak apa, hanya mengingat Ayah dan Ibu." Ucap Giang.


@Interaksi

__ADS_1



Kemarin sujud2 minta Ririn di cabik, digantung, atau apalah, sekarang bilang kangen, dasar aneh..! Tapi nanti dikabulkan ya,, Ririn akan kembali menyapa kalian.


__ADS_2