Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
147. Sekarang dia milik kalian


__ADS_3

15 menit setelah pengawal itu menikmati burgernya, pengawal itu perlahan-lahan mengantuk dan lama-kelamaan tanpa sadar dia sudah tertidur sembari terduduk di samping pintu kamar Ana.


Milan yang mengintip dari sisi lain tersenyum lalu memberi kode pada teman-temannya supaya mereka mulai bereaksi.


"Milan, apakah kau tidak takut?" Mona mengikuti dari belakang Milan dengan ketakutan di dalam hatinya.


Bagaimana kalau mereka dipenjara setelah ketahuan melakukan kejahatan pada salah satu teman kuliah mereka?


"Kau bodoh?! Titin adalah gadis yang berasal dari keluarga Rohan, jadi tidak akan terjadi apapun pada kita. Palingan jika kita ketahuan maka insiden ini akan ditutupi seperti tidak pernah terjadi. Hanya gadis beasiswa, apa yang bisa dia lakukan?" Milan berkata sembari menarik Mona lalu mereka segera tiba di depan pintu kamar Ana.


Tugas mereka berdua adalah membawa Ana ke sebuah tempat yang telah ditentukan.


"Milan,,"


"Diamlah! Kita hanya membawanya ke sana lalu kita kembali ke kamar berpura-pura seperti tidak terjadi apapun!" Kata Milan menggunakan kunci serep yang ia dapat dari Titin lalu mereka membuka pintu kamar Ana.


Karena Ana dan Kiora telah meminum obat bius maka kedua gadis itu telah terlelap di atas tempat tidur jadi Milan dan Mona tidak perlu repot-repot memikirkan keduanya akan terbangun.

__ADS_1


Dengan segera Mona menggendong Ana lalu mereka berdua meninggalkan penginapan ke sebuah tempat yang lebih terpencil di dekap pantai.


"Mereka datang!" Anastasia berseru dengan mata berkaca-kaca melihat Ana yang tak sadarkan diri.


"Letakkan dia di sini." Kata Anastasia menunjuk pada sebuah batang pohon yang telah ditebang.


Setelah meletakkan Ana, Anastasia mengeluarkan sebuah spoit berisi cairan.


"Apa. Itu?" Mona bertanya dengan gemetaran, bagaimana kalau obat di dalam itu ternyata malah membunuh Ana?


"Ini?" Ini adalah obat yang akan membuat Ana menikmati malam ini bersama para pria.


Salah satu pria yang melihat gadis itu akhirnya maju ke depan menatap Mona "Siapa yang ingin melukainya? Kami disini hanya untuk bersenang-senang. Kalau kamu mau ikut bersenang-senang bersama kami, kau boleh tinggal di sini dan memakan obat ini." Pria itu menyodorkan sebuah pil pada Mona.


Semua pria di situ pasti lah tidak keberatan jika perempuan untuk mereka nikmati bertambah satu lagi.


"Obat apa ini?" Mona mengambil obat itu dan melihatnya sejenak, tapi dia belum membaca obatnya ketika Milan sudah merampas obat itu dari tangan Mona dan melemparkannya ke tanah.

__ADS_1


"Kalian bersenang-senanglah sendiri, kami akan kembali ke kamar kami." Kata Milan segera menarik Mona menjauh.


Tapi belum saja mereka meninggalkan tempat itu terlalu jauh, mereka sudah bertemu dengan Titin.


"Titin, mengapa kamu kesini?" Milan bertanya dengan bingung.


"Tidak ada, aku hanya disini berjalan-jalan." Jawab Titin dengan acuh tak acuh lalu meninggalkan dua gadis itu.


Mona dan Milan yang melihat itu tidak jadi kembali ke kamar mereka memilih berdiri di sana dan menunggu untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara di tempat tersembunyi, Anastasia telah selesai menyuntik cairan dalam spoit ke tubuh Ana.


"Sekarang dia milik kalian, dia tidak akan puas sampai pagi hari jadi aku harap kalian tidak mengecewakan.


"Tentu saja!" Jawab para pria dengan wajah yang sangat bersemangat.


Sekarang mereka hanya perlu menunggu obat itu bereaksi dan gadis di depan mereka sendirilah yang akan menyerahkan diri dan merayu mereka.

__ADS_1


Anastasia tersenyum puas dia berjalan untuk meninggalkan tempat itu


__ADS_2