Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
50. Hamil


__ADS_3

Baru saja ia membuka pintu kamar mandi ketika seorang perempuan langsung menghambur kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.


Setelah beberapa detik perempuan itu melepaskan pelukannya dan memperlihatkan hasil tes kehamilannya dengan 2 garis merah pada benda kecil itu.


Giang terpaku pada dua garis merah itu sebelum mengalihkan perhatiannya pada wajah Sarah yang terlihat sangat gembira.


'Sayang sekali, tapi perjuangan ku sudah berakhir sampai disini. Maafkan aku ayah, Ibu, Aku tidak pernah berniat memutuskan keturunan kalian padaku, tapi ini sudah menjadi takdir.


'Takdir bahwa aku harus mencintai adik perempuanku yang selamanya tidak akan bisa kumiliki.' gumam di yang lalu memeluk sara dengan erat.


Sekarang, kata-kata ayahnya hanya tinggal angin lalu.


Kepada siapa dia akan meminta pertolongan untuk mengejar perempuan yang dicintainya?


Kepada ayah dan ibu kandung yang sudah meninggal atau kepada Angkasa dan Leora yang merupakan ibu kandung dari Sarah, selaku perempuan yang ia cintai?


"Selamat, selamat adikku!" Ucapnya dengan hati teriris.


"Hmmm,," jawab Sarah dengan senyum mengembang di bibirnya namun mereka berdua terkejut ketika Angkasa dan Leora tiba-tiba saja muncul di kamar itu.


"Sayang, ada apa ini?" Tanya Leora.


Mereka sangat terkejut begitu mendengar teriakan Sarah, dan lebih terkejut lagi saat mereka tiba dan mendapati Giang sedang mengucapkan kata selamat untuk Sarah.

__ADS_1


Giang yang mendengar suara Ibu mereka langsung melepaskan pelukannya dengan Sarah.


"Ada apa sayang?" Tanya Angkasa mendekati mereka berdua.


Sarah memegang testpack di tangan yang disembunyikan di dalam saku celananya.


Ia sangat takut kalau saja ayahnya malah tidak menerima tentang kehamilannya itu dan terlebih jika ayahnya berniat menggugurkan anak yang merupakan darah daging Andra.


"Ayah, Ibu, Sarah punya kabar gembira untuk kalian berdua, tapi kalian berdua berjanji tidak boleh marah, menangis ataupun-"


"Kami janji! Ada kabar apa sayang?" Tanya Angkasa menatap putrinya sembari mengulurkan tangannya memperbaiki rambut Sarah yang berantakan.


"Sarah," Giang menyentuh pundak adiknya saat melihat perempuan itu terlalu takut menunjukkan testpack miliknya.


'Ayah sudah janji tidak akan marah,' Sarah menguatkan tekad nya lalu perlahan-lahan ia menarik tangannya yang gemetaran dan memberikan tespack itu pada ayahnya.


"Hah! Ibu akan menjadi seorang nenek!" Seru Leora ketika melihat tespek di tangan suaminya lalu perempuan itu langsung memeluk Sarah dengan erat.


Sarah tersenyum bahagia di dalam pelukan ibunya, tetapi saat matanya bertemu dengan mata Angkasa yang terlihat rumit, senyum di bibirnya langsung memudar.


Namun, detik berikutnya Angkasa ikut memeluk kedua perempuan itu sembari tangan panjang pria itu terarah menepuk bahu Giang.


"Anggota keluarga kita akan bertambah lagi. Sepertinya apartemen ini sudah tidak cukup untuk menampung kita semua. Besok, ayah harus pergi mencari apartemen yang lebih luas lagi." Ucap Angkasa.

__ADS_1


"Masih lama!" Seru Leora pada suaminya kala perempuan itu terkikik dengan semangat luar biasa yang ditunjukkan oleh suaminya.


*Ayah dan ibu tidak marah?* Tanya Sarah ketika melihat ayah dan ibunya tampak senang.


"Mengapa harus marah, ini adalah kabar yang sangat menggembirakan!" Ucap Leora mengacak rambut putrinya lalu mereka semua keluar dari kamar Sarah untuk makan malam bersama.


Setelah makan malam, Giang mengajak Sarah supaya mereka melanjutkan terapi untuk Sarah. Kedua orang itu meninggalkan apartemen untuk pergi ke rumah sakit.


Sementara Leora dan Angkasa membereskan semua piring piring kotor bekas makan malam mereka.


Keduanya sementara mencuci peralatan makan mereka saat Leora kemudian berkata "Kau lihat 'kan, perilaku Putri kita berubah setelah melihatmu memukuli Ayah mertuanya."


Mendengar ucapan istrinya, Angkasa yang sedang memegang spons langsung meletakkan spon itu dan mencuci tangannya lalu berbalik memeluk istrinya.


"Aku menyesal." Katanya dengan nafas berat saat hatinya terlalu sakit ketika membayangkan ekspresi Sarah yang terlalu takut mengatakan kehamilannya.


"Dari kejadian ini aku rasa kau sudah bisa menentukan pilihan terbaik untuk Putri kita. Jangan sampai kau membiarkan Putri kita kembali terluka karena kau salah mengambil jalan." Ucap Leora mengelus punggung suaminya memberi kekuatan pada suaminya supaya suaminya lebih bersabar menghadapi Putri mereka.


@Interaksi



Redernya ngaku sendiri deh kalo dia agak hmmm,, sayang sekali setengah kewarasannya yang masih tersisa malah digunakan untuk membacot gak jelas..!

__ADS_1


__ADS_2