Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
101. Memalukan ketahuan seperti ini


__ADS_3

"Apa kau baik-baik saja?" Kiora yang menunggu di belakang kerumunan gadis-gadis langsung mendekati Ana saat melihat Ana sudah keluar dari kerumunan.


"Aku baik-baik saja." Ana tersenyum lalu ketiga orang itu segera meninggalkan kelas.


"Ck,,! Hanya gadis miskin yang bisa merasakan kuliah di universitas terkenal karena beasiswa." Seorang diantara kerumunan gadis itu mencibir Ana yang sudah berlalu bersama Siro.


"Benar sekali, dia bahkan tidak ada apa-apanya dengan Titin kita!" Salah seorang gadis berbicara sambil menguji Titin yang merupakan Perempuan paling cantik di angkatan mereka.


Selain cantik, Titin juga berasal dari kalangan terpandang dan terlebih bahwa keluarga Titin dekat dengan Dewa, pria paling terkenal kaya se-kota FF!


"Biarkan saja, dia baru di kota FF jadi dia pasti belum mengenalku dengan baik." Sorot mata Titin begitu dalam seolah dia bisa menembus dinding untuk melihat ketiga orang yang sudah melewati pintu ruangan.


"Benar, kalau gadis itu tahu bahwa Titin kita adalah putri dari keluarga Rohan, dia pasti akan bersujud sujud meminta pengampunan supaya dia bisa bergaul dengan Titin kita." Ucap salah seorang gadis.


Seorang gadis yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan akhirnya membuka mulutnya untuk sesuatu yang ia tahan. "Tapi, aku mendengar tadi pria itu berkata Nona, apakah aku salah dengar?"


"Apa katamu?!" Yang lain melototinya.


"Emmmhhh eh, sepertinya aku hanya salah dengar." Gadis pemalu itu akhirnya diam.


"Kau ini! Mana mungkin dia memanggil Nona! Jelas dia hanya gadis miskin. Lebih baik dia memanggil Titin kita sebagai nona dari pada gadis beasiswa miskin itu!"


"Benar, sungguh tidak layak..!"


Sementara Titin masih terus menyombongkan diri di hadapan teman-temannya maka ketiga orang yang keluar dari kelas sudah berjalan ke arah kantin.

__ADS_1


"Uh,, kalain berdua, duluan lah ke kantin karena perutku sedang tidak baik." Tiba-tiba ucap Kiora lalu gadis itu segera meninggalkan Ana dan Siro dan berlari sempoyongan ke arah toilet.


Anda tidak mengatakan apapun, gadis itu hanya berjalan mendahului Siro lalu mereka segera tiba di kantin.


Keduanya memesan makanan dan duduk bersama di pojokan ruangan menjauhkan diri dari banyaknya mahasiswa yang sedang menikmati makanan yang tersedia di kantin universitas FF.


Sambil menikmati makanan di depannya, Ana sesekali menatap kearah Siro yang terlalu fokus pada makanannya.


'Kak Siro memang ganteng. Dia memiliki sifat yang 11/12 dengan kak Andra, dingin, tenang dan memang sedikit terlalu angkuh, tapi dia juga tampan!' gumamnya mengagumi pria di depannya.


Siro tidak mengatakan apapun tapi pria itu sangat sadar bahwa Anas terus memperhatikannya dan bahkan dia bisa merasakan bahwa gadis di depannya sedang berpikir dalam tentang dirinya.


Selama beberapa menit dia masih bisa mengabaikannya, tetapi lama-kelamaan dia juga menjadi gelisah karena itu adalah pertama kalinya dia ditatap diam-diam oleh Ana.


Biasanya, saat dia bersama Andra maka Andralah yang akan menarik banyak perhatian dan meskipun wajah Siro tergolong tampan, tapi ketampanan Andra,, jelas dia tidak berani membandingkannya!


"Ada apa Nona?" Siro akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap gadis di depannya.


Namun ia terkejut ketika gadis di depannya malah menjadi sangat malu dan menundukkan wajahnya.


"Nona, Apa kau malu? Kenapa?" Tanya Siro kebingungan.


Ana "..."


'Kenapa dia malah bertanya?!' Ana terlalu gugup.

__ADS_1


Itu pertama kalinya dia melihat Ana menjadi sangat malu ketika dia menatapnya.


'Astaga, aku harus apa?' gumam Ana kebingungan.


Tertangkap basah sedang memperhatikan seorang pria, sangat memalukan!


"Kalian sudah menunggu lama?!" Keheningan yang terjadi diantara kedua orang itu akhirnya terpecahkan ketika sudah menghampiri mereka sembari membawa nampan berisi makanan.


"Ana? Mengapa wajahmu begitu? Apa kau sakit?" Kiora terlihat panik dia meletakkan nampan di atas meja dan mengulurkan tangannya menyentuh dahi Ana.


Ucapan Kiora jelas membuat jantung Siro hampir melompat dari tempatnya.


Kalau Ana sakit dan Andra ataupun Samudra mengetahuinya, apa lagi Dewa,,, mampuslah dia!


Pria itu dengan spontan ikut mengulurkan tangannya menyentuh pipi Ana.


"Nona sakit?" Siro menahan nafas.


Ana merasa gugup wajahnya disentuh oleh dua tangan, yang satu tangan Kiora dan yang lain adalah tangan Siro.


Kedua orang itu baru saja memergokinya memperhatikan Siro dan terlebih, wajahnya langsung memerah ketika ia ketahuan Siro.


Bukankah mereka harusnya,,,


Memalukan saat ketahuan seperti ini!

__ADS_1


__ADS_2