
"Halo Tuan Samudra, dan semuanya. Perkenalkan saya Giang, dokter pribadi Laila sekaligus kakak angkat Sarah." Langsung ucap Giang sembari memperlihatkan kesopanannya pada Samudra dan semua orang di ruangan itu.
Namun di dalam hatinya, Giang menyembunyikan kemarahan pada 2 orang yang berada di depannya.
Andra dan Ririn, dia sudah mengetahui cerita tentang perbuatan mereka pada Sarah.
"Silahkan duduk. Mari berbincang di sana," ucap Samudra mengarahkan dua orang itu supaya mereka duduk di sofa.
Dia tidak mau membahas masalah keluarga mereka di depan orang asing seperti Giang, meski pria itu menyandang status sebagai kakak angkat Sarah, tapi tetap saja tidak ada hubungan darah di antara mereka.
Sarah duduk di samping Giang dengan mata perempuan itu melekat pada Andra yang kini duduk dengan Ririn disampingnya.
'Sepertinya Ayah belum sempat menceritakan apapun pada Ayah Samudra, buktinya Ririn masih bisa melekat pada Andra.' gumamnya tidak bisa menutupi raut kesedihan dan kecemburuan di matanya.
Raut wajah Sara ditangkap oleh kedua pria yang duduk bersamanya.
'Sial..! Beraninya pria buta itu membuat Sarah menjadi sedih!' Geram Giang hendak berbicara ketika Samudra mendahuluinya.
"Ririn, cepat keluar dari ruangan ini, kami ingin membicarakan masalah keluarga." Ucap Samudra memperingatkan Ririn tentang statusnya.
__ADS_1
Ririn segera menoleh pada Andra.
Andra yang duduk dengan tatapan kosong tidak mengatakan apapun membuat Ririn mengatupkan giginya dengan kesal lalu perempuan itu segera keluar dari ruangan.
"Andra, istrimu ada di sini, mengapa kau diam saja di situ?" Tanya Samudra.
"Aku sibuk!" Jawab Andra meraih dokumen di atas mejanya dan menyibukkan diri sambil membaca.
*Tidak apa Ayah, kami kemari bukan untuk mengganggunya bekerja. Kami kemari hanya untuk membawakannya cemilan.* Sarah menggunakan bahasa isyarat dan menunjuk beberapa kantong belanjaan yang ia letakkan di atas meja.
"Kau memang pengertian, Ayah tidak bisa mengatakan apapun tentang rasa syukur ayah karena bisa memiliki menantu sepertimu." Ucap Samudra.
"Haha, baiklah, kalau begitu Ayah akan menunggu kedatanganmu di kantor." Ucap Samudra.
"Oya paman, selain datang membawa cemilan sebenarnya kami memiliki tujuan lain kemari. Saya ingin meminta izin supaya diperbolehkan datang ke rumah Sarah memberikan terapi setiap hari supaya lebih mempercepat proses penyembuhannya." Ucap Giang.
"Tentu, itu ide yang sangat bagus, dan aku yakin, Andra pasti setuju. Bukan begitu Andra?" Samudra berbalik menatap putranya.
Mendengar seorang pria hendak bertamu ke rumahnya, Andra terdiam memikirkannya.
__ADS_1
'Enak saja perempuan itu mau bersenang-senang di rumahku!' gumam Andra.
"Sebaiknya terapi dilakukan saja di rumah sakit, Aku tidak mau istriku berduaan dengan seorang lelaki di rumahku." Ucap Andra membuat pipi Sarah langsung memerah dan senyum mengembang terukir di wajahnya.
'Dia cemburu pada Giang!' gumam Sarah dalam hati.
'Dia masih sama seperti dulu, selalu ceria dan tidak pernah menyimpan dendam dalam hatinya. Sungguh perempuan yang sangat baik.' gumam Samudra mengingat kejadian pertama Andra bertemu dengan Sarah.
"Kalau begitu, aku tidak bisa memaksakan kehendakku pada suami Sarah. Kami akan melakukan terapi nya di rumah sakit." Ucap Giang yang sebenarnya hendak membahas tentang perlakuan Andra pada perempuan itu namun dia menahan diri ketika melihat senyum merekah di wajah Sarah.
'Sarah benar-benar sudah jatuh cinta pada Andra. Entah bagaimana caraku untuk menyingkirkan Ririn dari sisi Andra dan membuat pria itu percaya bahwa Sara adalah Putri yang pernah dikenal Andra di Negara Mr.' gumam Giang.
"Kalau begitu, sudah diputuskan seperti itu." Ucap Samudra.
@Interaksi
Otor suka yang enak-enak, tapi kata kasarnya diperjelas ya, otor gak ngerti di bagian mananya yang kasar, bawah, atas atau tengah?
__ADS_1