Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
26. Andra tiba di kediamannya


__ADS_3

Andra menghabiskan waktu selama 15 menit mencari buku itu dan tidak menemukannya.


Karena dikuasai amarah, dia tidak bisa berpikir dengan jernih hingga ketika dia berdiri dia lupa kalau dia sedang berada di bawah meja dan kepalanya terantuk dengan keras.


"Sial..! Dasar perempuan licik! Beraninya dia membuatku mengalami penderitaan seperti ini!" Geram Andra kemudian meraba dan akhirnya berhasil berdiri lalu menghubungi Siro untuk memasuki ruangannya.


Posisi Siro kini naik menjadi sekretaris utama, jadi pria itu menangani segala pekerjaan yang ditinggalkan oleh Ririn.


"Apa yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Siro.


"Ambilkan buku yang jatuh di lantai." Ucap Andra membuat Siro kebingungan.


Hanya karena sebuah buku yang jatuh di lantai dan Andra menjadi sangat kesal sampai urat urat leher pria itu muncul ke permukaan karena perasaan marahnya?


Sangat tidak biasa!


Siro melihat ke lantai dan menemukan sebuah buku yang sudah terlempar ke sudut ruangan.


"Ini Tuan," ucap Siro meletakkan buku tersebut di depan Andra.


Andra meraih buku itu dan merobek beberapa lembar terakhir pada buku tersebut dan meremasnya bersama kekesalannya.

__ADS_1


Ia melemparkannya ke dalam tempat sampah "Cepat bawa semua sampah-sampah itu dan pastikan kau membakarnya sampai berubah menjadi abu!" Perintah Andra.


"Baik Tuan." Jawab Siro lalu pria itu segera mengangkat tempat sampah lalu membawanya keluar dari ruangan Andra.


Siro sangat penasaran dengan isi dari surat yang dibuang oleh Andra hingga pria itu tidak dapat menahan diri dan saat ia hendak membakarnya dia membukanya.


"Astaga,, ini kan surat dari Nyonya Sarah." Ucap Siro sangat terkejut.


"Dasar Ririn. Kau akan berubah menjadi abu seperti wujud kertas yang terbakar apai saat kebenaran terungkap." Ucap Siro tidak jadi membakar kertas kertas itu dan memilih menyelamatkannya.


Setelah membakar sampah, sudah pukul 6.30 malam lalu pria itu kembali menemui Andra dan mengantar Andra kembali ke kediamannya sesuai dengan pesan Laila.


'Astaga, Tuan benar-benar marah, aku jadi takut kalau Nyonya Sarah akan mendapat kekerasan dari Tuan.' Gumam Siro terus menyetir hingga mereka tiba di kediaman Samudra.


Saat itu, Ana berada di rumah dan langsung menyambut mereka.


"Kakak...!" Teriak Ana langsung berlari kearah Andra dan memeluk pria itu.


"Gadis kecil, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Andra mengusap rambut Ana dan kemarahan yang sedari tadi melingkupinya langsung menghilang seperti embun yang terkena cahaya matahari.


'Syukurlah, kalau Nona Ana ada di sini, maka Tuan tidak akan berani membuat keributan dengan Sarah.' gumam Siro.

__ADS_1


"Aku kemari mengantarkan gaun untuk kakak Sarah." Ucap Ana lengkap dengan suara remajanya yang penuh dengan keceriaan.


"Hmm, lalu apa kau akan segera kembali?" Tanya Andra.


"Yup! Ibu menjanji ku setelah mengantar gaun untuk kakak Sarah ibu akan menemaniku berbelanja pakaian." Ucap Ana.


"Ya sudah, pulang lah sekarang dan sampaikan salamku kepada ibu." Ucap Andra lalu pria itu membiarkan Ana menaiki mobil yang yang akan mengantarnya kembali.


"Bye bye kakak sayang!" Ucap Ana ketika mobil sudah melaju dengan pelan.


"Hmm!" Jawab Andra lalu pria itu segera berbalik memasuki rumah.


'Astaga, kalau begini ceritanya, maka aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini.' ucap Siro ikut meninggalkan kediaman itu.


Dia tidak mau jika telinganya sampai kontaminasi oleh kata-kata kasar dan matanya dirusak oleh perbuatan kasar Andra pada Sarah.


@Interaksi



Mayat juga pasti ogah berbaur dengan pendosa, takut ternodai🤭

__ADS_1


__ADS_2