Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
107. Aku menunggunya di sini


__ADS_3

"Tuan, Dewa bilang hanya salah satu dari kita berempat yang akan dipecat tapi tadi dia juga menunjuk seseorang yang tidak bisa diberi kesempatan." Salah satu asisten yang baru saja diangkat menjadi asisten pribadi sang Dokter tiba-tiba membuka suaranya.


Dokter yang mendengar asisten pribadinya berbicara seperti itu langsung melototi asisten pribadinya.


"Ada apa? Kita bertiga berada di sini hanya karena dipanggil oleh Tuan Siro, kita tidak akan berada dalam masalah seandainya Tuan Siro tidak pernah memanggil kita kemari." Ucap asisten pribadi sang dokter yang bernama Beni.


Dokter "..."


Dia sendiri tidak berani mengatakan apapun kepada Siro, bagaimana bisa asisten pribadinya malah,,, benar-benar mencari masalah!


"Tuan, Saya minta maaf, asisten Saya hanya berbicara sembarang saja. Tapi jika salah seorang harus dipecat, maka saya yakin Tuan sudah bisa memutuskannya." Kata Sang dokter langsung meminta maaf pada Shiro.


Jika ada orang di antara mereka berempat yang harus dipecat maka sebaiknya yang dipecat adalah orang dengan jabatan paling rendah.


Lagi pula, salah satu pria yang hari ini bertugas sebagai asistennya hanya asisten biasa yang sebenarnya tidak terlalu penting kedudukannya.


"Tu,, tu,, tuan,," pria dengan pangkat terendah diantara keempat orang itu mendengar ucapan dokter.


Dia jelas tahu makna tersirat dari ucapan sang dokter.


Siro terdiam beberapa waktu, pria itu memejamkan matanya sesaat lalu berbalik menoleh ke arah tiga orang bersiap untuk berbicara.


Ini memang salahnya, lebih baik dia kembali ke pulau putih dan bersujud memohon maaf pada Andra daripada membuat salah satu diantara ketiga orang itu akhirnya dipecat dan kehilangan pekerjaan.


Namun, dia belum berbicara ketika Beni tiba-tiba membuka mulutnya.

__ADS_1


"Ck,, kau benar-benar berpikir bahwa kau punya hak untuk memutuskan Siapa di antara kita berempat yang akan dipecat? Apa kau tuli?! Tidak mendengar Bos Besar mengatakan bahwa kau benar-benar tidak punya kesempatan?!" Ucap pria itu kembali mengingatkan Siro, dia sudah tidak tahan lagi, atasannya yang membuat masalah dan bawahannya yang harus menanggung resikonya!


Siro memicingkan matanya "Jadi karena Tuhan Dewa mengatakan Aku tidak punya kesempatan maka kau yang hanya seorang asisten kecil saja merasa punya kesempatan?!" Siro menatap tajam ke arah Beni membuat pria itu merasa tatapan Siro menembus matanya hingga ke belakang kepalanya.


Mengapa? Mengapa hanya seorang asisten biasa saja tetapi bisa menakutkan seperti itu?


Beni gemetaran di tempatnya lalu pria itu menoleh pada sang dokter untuk meminta bantuan.


Tapi, dokter itu hanya membuang wajahnya, dia benar-benar tidak mau membuat masalah dengan Siro hanya karena ia membela asisten pribadinya.


"Kau,, kau,, meski aku hanya asisten kecil, tetapi aku tidak melihat Bos Besar hanya memarahimu saja! Kami kebetulan ikut terlibat karena kau yang menyeret kami ke dalam masalahmu!


"Kalau kau tidak memanggil kami ke sini, Apakah kau pikir kami akan mendapat kemarahan dari bos besar?!" Ucap Beni tidak mau mengalah.


Jelas dia bekerja di situ dengan gaji yang sangat banyak, ia mampu melakukan apapun dengan gajinya satu bulan, jadi dia bersikeras di depan Siro.


"Hah,, sudah kuduga. Dia hanya belagak berkuasa, tapi dia tidak punya kekuasaan apapun!" Ucap Beni kini tersenyum senang karena dia baru saja memenangkan perdebatan.


"Ben,,, jadi Apakah sekarang kita sudah aman?" Salah satu asisten dokter menanyai Beni ketika dia melihat Siro benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


Padahal, sedari tadi dia sudah sangat ketakutan, sangat takut bila dirinya lah yang dipecat sebagai orang dengan posisi terendah di antara semua yang ada di sana.


"Tentu saja! Lihat! Kau harus berterima kasih padaku karena aku menyelamatkanmu." Beni dengan sombong memperlihatkan wajah kemenangannya.


"Sebaiknya ini terakhir kalinya aku melihatmu mencari masalah dengan orang-orang berkuasa di tempat ini. Jika tidak, aku tidak mungkin membuatmu terus berada di posisi mu sekarang." Kata Sang dokter memperingatkan asisten pribadinya.

__ADS_1


Jika sekali mereka masih bisa lolos, maka mungkin di lain kesempatan tidak akan ada lagi yang bisa lolos, bahkan dirinya pun mungkin tidak akan bisa lolos karena kecerobohan asisten pribadinya!


Tenang saja Dok, saya memiliki shio naga keberuntungan, jadi say-" pria itu belum selesai berbicara ketika pintu kamar terbuka.


Seorang gadis dengan sikap yang lembut dan wajah yang sangat lembut melihat mereka bertiga.


"Nona Muda," ketiganya serempak membungkuk pada memberi hormat pada Nona Muda mereka.


"Dapatkah kalian memanggil Siro supaya menemuiku? Aku tidak bisa menghubungi ponselnya." Tiba-tiba ucap Ana membuat ketiga orang itu sangat terkejut.


"Tapi Nona,,"


"Tolong, katakan padanya aku menunggunya di sini." Ucap Ana lalu menutup pintu kamar.


Ketiga orang yang berada di luar pintu langsung berubah menjadi pucat. Bahkan pria yang tadi berlagak terlihat lebih buruk di antara ketiganya.


Memanggil kembali orang yang telah dipecat?!


Mana mungkin?!


Jika mereka melakukan itu, sama saja mereka telah mengatakan kalau Siro akan kembali bekerja sementara salah satu diantara mereka lah yang akan dipecat!


Tapi, apa yang harus mereka lakukan?Sementara pintu kamar telah ditutup dan Dewa sudah tidak ada di tempat itu...!


@Interaksi

__ADS_1



Tinggalnya ajah diluar bumi, apa lagi yang lain-lainnya, hehe...


__ADS_2