
Dalam perjalanan ke kantin, Kiora dan Ana berjalan lebih dulu di depan Siro.
Sesekali Kiora menatap ke belakang melihat pria tampan yang mengikuti mereka, semua gadis-gadis yang mereka lalui selalu terlihat kagum dan terpesona saat melihat Siro.
"Hah,, dia benar-benar tampan tapi,, huh,,, aku benar benar prihatin dengan robot itu! Dia bahkan tidak tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang!" Kiora berbicara dengan pelan sembari menatap Ana.
Wajah Ana masih merah karena peristiwa di UKK.
"Bagaimana pendapatmu tentang kejadian tadi?" Tiba-tiba Ana bertanya sembari membalas tatapan Kiora.
"Apa lagi?! Dia benar-benar konyol! Dia sungguh kaku, sungguh tidak berperasaan, sungguh datar dan sungguh kejam!" Kiora berbicara sambil menggertakkan giginya membuat Ana menatap heran pada temannya.
Dia tidak percaya bahwa gadis di sampingnya itu benar-benar hobi mengeluarkan kata-kata yang tidak baik tentang orang lain.
"Jangan menatapku seperti itu, karena semua yang ku katakan adalah kebenaran. Tapi dibalik semua kekurangannya, hal baik nya adalah dia menyukaimu meski dia tidak menyadari perasaannya sendiri! Dan aku yakin, kau adalah orang pertama yang bisa meluluhkan hatinya yang keras dan dingin itu!" Kiora berbicara dengan sungguh-sungguh membuat pipi Ana kembali memerah lalu menundukkan kepalanya, ia mengalihkan perhatiannya pada kakinya yang terus melangkah sejajar dengan langkah kaki Kiora.
"Jangan sedih, kalau sekarang dia terlalu bodoh dan tidak menyadari perasaannya, beberapa waktu kedepan dia pasti akan menyadarinya! Tapi,, aku punya satu pertanyaan untuk kau jawab dengan jujur." Kiora berbicara dengan hati-hati sembari melirik ke belakang untuk memastikan bahwa Siro tidak terlalu dekat dengan mereka supaya pria itu tidak mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Ana balik bertanya tanpa memandang Kiora, dia masih terlalu malas untuk mengangkat wajahnya yang terasa panas karena perasaan malu.
Kiora menyingkap rambut panjang Ana ke belakang supaya gadis itu bisa melihat ekspresi temannya dengan jelas.
"Aku mau bertanya tentang perasaanmu pada Kak Siro, apa kamu menyukainya?"
"Eh?" Ana langsung salah tingkah ia menghentikan langkah kakinya dan menatap ke belakang dan sekelilingnya.
"Apa? Kau menyukainya?!" Kiora kebingungan dengan sikap temannya.
Untung saja Kiora memiliki pendengaran yang tajam, jadi dia langsung tersenyum saat mendengar ucapan Ana.
"Kau malu?! Kenapa harus malu kalau kau tidak menyukainya?!" Kiora memancing Ana.
"Siapa bilang aku tidak menyukainya,,," Ana menggantung kata-katanya ketika dia malah kecoplosan.
"Hahaha,, jadi benar, kalau begitu, kau tidak perlu mengkhawatirkannya karena Kak Siro juga menyukaimu." Kiora mempererat pelukannya pada lengan Ana.
__ADS_1
"Dia juga menyukaimu!" Lagi kata Kiora membuat Ana tertegun.
"Be,,,, benarkah?" Ana berbicara dengan penuh keraguan.
"Benar! Sebaiknya kita bicarakan ini di kantin sambil menikmati makanan, aku takut di sini ada yang mendengarkan pembicaraan kita." Kiora mulai mempercepat langkah kakinya hingga mereka akhirnya tiba di kantin.
Ketiganya mengambil makanan sebelum duduk di pojokan kantin.
Kiora memperhatikan pria didepannya, sungguh tidak ada ekspresi di wajahnya yang tampan, dia kembali mengingat pada pengawal-pengawal dalam film yang ia lihat, pengawal-pengawal yang tidak memiliki waktu untuk memikirkan urusan pribadi mereka karena pekerjaan mereka adalah hal nomor satu dalam hidup mereka.
'Hmm,, mungkinkah apa yang di dalam film itu benar-benar kenyataan, dan saat ini aku sedang berhadapan dengan salah satu pengawal aneh itu!' gumam Kiora.
@Interaksi
Diusahakan ya,, tapi kalo masih ada kesalahan silahkan di luruskan sendiri...😂
__ADS_1