
Kediaman Rohan.
Tiga gadis sedang berbaring di atas tempat tidur sembari menikmati momen-momen kebersamaan mereka.
"Hari ini aku merasa sangat puas, akhirnya besok kita akan melihat wajah Si Gadis sok polos itu berada dalam keadaan hancur sehancur hancurnya!" Milan penuh kebahagiaan, tidak sabar bertemu dengan Ana.
"Aku juga tidak sabar." Titin ikut berbicara sembari dalam pikirannya dia sudah membayangkan bagaimana rupa wajah Ana ketika mereka bertemu di kampus.
Dia sudah tidak sabar melihat bagaimana ekspresi pria tampannya saat melihat gadis yang disukainya ternyata memiliki wajah yang sudah hancur!
Mona mendengarkan mereka dan menghela nafas "Tapi, bagaimana kalau wajahnya baik-baik saja? Tadi pagi kan yang menyelamatkannya adalah si pria tampan itu, bagaimana kalau,,"
"Diam..!" Milan menendang Mona ke samping karena terlalu kesal pada teman mereka yang selalu saja merusak mood.
"Ahhw..! Kenapa kamu selalu memukulku setiap kali aku berbicara? Apa salahku?" Mona mendengus kesal sembari memperbaiki posisi tidurnya.
"Kau tidak salah! Mulutmu ynag salah!" Jawab Milan.
"Huh,, mulutku bahkan tidak menyentuhmu, tapi kau malah menyalahkannya!" Gerutu Mona.
Ketiganya terus berbaring sampai seorang pelayan datang mengetuk pintu kamar.
"Masuk." Perintah Titin dengan suara yang malas.
Pintu segera terbuka lalu seorang pelayan datang membawa sebuah map yang ditugaskan Titin kepadanya untuk dicari tahu.
__ADS_1
Begitu melihat map di tangan pelayan, Titin langsung bersemangat, ia segera berdiri dan menghampiri pelayan itu mengambil map.
"Apakah ini informasi yang aku perintahkan padamu untuk mencari tahu?" Tanya Titin sembari membuka map coklat itu dan menarik beberapa kertas yang berada di dalamnya.
"Iya Nona, semua informasi yang Nona butuhkan sudah tercatat di sana, bahkan saya meminta tolong pada orang itu untuk mengambil beberapa gambar." Ucap sang pelayan membuat Titin tersenyum dengan puas lalu memberi kode pada pelayan itu untuk meninggalkan kamarnya.
Setelah pelayan pergi, Titin kembali ke ranjang dan mulai membaca informasi yang terdapat di dalam map coklat itu.
"Apa itu?" Milan dan Mona serentak bertanya sembari mendekati Titin dan mengapit Gadis itu di tengah-tengah mereka.
"Aku menyuruh pelayan ku untuk menyewa seseorang memiliki identitas pria tampan itu." Ucap Titin.
"Wohh,, Titin kita sangat hebat, sampai pergi menyelidikinya." Milan memuji sembari mencondongkan kepalanya agar dia bisa membaca informasi yang tertera pada kertas yang dipegang oleh Titin.
"Nama yang bagus!"
Umur : 25 tahun
"25? Tapi mengapa dia terlihat sangat muda?" Milan mengeryit.
Tinggi badan : 170 cm
Berat badan : 70 kg
"Sangat ideal!" Lagi kata Milan.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak menggunakan nama keluarga?" Titin mengeryit sembari terus membaca informasi informasi yang tertulis di kertas.
"Mungkin dia tidak punya keluarga." Mona menjawab dengan santai.
Pekerjaan : Tidak ada. Dulunya merupakan sekretaris utama Andra Anderson, pengusaha dari negara X.
"Andra Anderson? Bukankah dia orang terkaya di negara X?' Milan kembali berbicara.
"Kalau begitu, Siro bukanlah pria yang berasal dari keluarga kaya, dia hanya pria yang bekerja untuk pria kaya.
Kalau begitu, untuk apa mengejarnya? Dia hanya bermodal tampang saja tetapi tidak memiliki uang dan kekuasaan!" Ucap Mona.
Milan dan Titin "..."
Tumben, itu pertama kalinya mereka mendengar Mona berbicara dengan benar.
"Benar! Kalau begitu, sebaiknya lepaskan saja dia, untuk apa pria tampan tanpa uang?" Milan kembali berkata sembari menatap Titin untuk mendapatkan reaksi gadis itu.
"Lihat dulu." Ucap Titin terus membaca.
@Interaksi
Emang di jempol kaki mahluk bumi ada muka ya?... kok jilatin jempol kaki buat nyari muka?🤫
__ADS_1