
Semua pria yang sedang berkelahi dengan Siro sudah memakan obat dari Anastasia, jadi beberapa pria berusaha mencuri waktu untuk berjalan ke arah Ana ketiga Siro sedang sibuk berkelahi dengan pria lain.
Menyadari hal itu, Siro menjadi sangat marah, dengan luka di sekujur tubuhnya dia menarik pria yang berjalan ke arah Ana memberinya tinju yang keras.
"Sialan..! Satu pria tidak mungkin mengalahkan kita semua..!" Salah seorang pria dari belakang Siro datang memukul Siro, Siro jatuh tersungkur.
Namun tekadnya yang kuat melindungi Ana membuat Siro kembali bangkit lagi dan meladeni pria-pria itu. Untungnya pria-pria itu memakan obat jadi tenaga mereka menjadi semakin lemah karena masih harus mengendalikan nafsu mereka sendiri.
"Aku bunuh kalian..!" Teriak Siro membabibuta menyerang semua atlet-atlet itu, dalam 30 menit semuanya akhirnya tumbang kecuali satu pria yang masih berada tak jauh dari Siro.
Dengan sekujur luka ditubuhnya, Siro melihat kearah pria yang masih sementara membuat Anasta mendesah, dia mengabaikannya dan menghampiri Ana yang gelisah.
"Saya di sini Nona," kata Siro membawa Ana ke dalam gendongannya. Ana dengan segera memeluk leher Siro dan kakinya dengan cepat melingkar di pinggang Siro.
Ana seperti gurita yang memeluk erat Shiro dan mendaratkan beberapa sentuhan aneh di leher Siro.
"Nona bersabarlah,," Siro berlari dari tempat itu dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter.
Tapi dia belum menghubungi siapa pun ketika ponselnya berdering, itu adalah panggilan dari Andra.
__ADS_1
"Tuan,," Siro menjawab dengan nafas tersengal karena pria itu sementara berlari.
"Hmmm,, Kak Siro,,," suara Ana juga tak luput terdengar oleh orang di seberang telepon.
"Siro, apa yang kalian lakukan?" Suara dari seberang telepon bertanya dengan nada was-was, takutnya dia sedang mengganggu adegan pria dan wanita.
"Maaf Nyonya, saya buru-buru, ini keadaan mendesak dan saya harus menutup telponnya." Ucap Siro langsung mematikan telepon itu dan mengganti panggilannya ke salah satu nomor seorang dokter.
Sementara Sarah yang baru saja mematikan panggilan nya langsung menatap Andra dan Dewa.
Suara Siro yang tersengal, suara ana yang Hm,, dan suara ponsel yang tidak stabil,, bukankah itu....
"Apa maksudmu?" Andra mengulurkan tangannya mengusap dada istrinya yang tertawa terbahak-bahak seolah tak bisa mengendalikan dirinya.
"Hahaha.... Ini berita bahagia,," Sarah sampai menangis karena terlalu senang.
"Apa yang dikatakan Siro?" Tanya Andra kebingungan, apa yang sudah dikatakan Siro hingga membuat istrinya sangat senang seperti itu?
"Aku baru saja mendengar Ana dan Siro sedang melakukan SENSOR mereka terdengar,,"
__ADS_1
Brak...!!
"Apa katamu?!" Dewa dipenuhi kemarahan melihat pada Sarah.
Meski kemarahan pria itu tidak diperuntukkan untuk Sarah, tapi tetap saja ibu hamil yang ada di depannya menjadi ketakutan hingga gemetaran.
Andra Langsung memeluk istrinya dan memberi tatapan peringatan pada kakeknya "Apakah kakek mau cucu buyut Kakek keluar sebelum waktunya?!" Katanya.
Dewa menggertakkan giginya, dia memang salah "Maaf, kakek tidak bermaksud,,"
"Kembali ke kamar." Langsung kata Sarah memeluk suaminya.
Andra langsung membawa Sarah ke gendongannya dan melemparkan tatapan peringatan pada kakeknya 'Lihat 'kan!'
Setelah Sarah dan Andra pergi, salah satu bawahan Dewa langsung menghadap pada pria itu "Tim medis baru saja berangkat ke pantai xx, Tuan Siro mengatakan bahwa Nona muda baru saja diberi sebuah obat yang,,,"
"Jelaskan di mobil!" Selah Dewa lalu pria itu segera melangkahkan kakinya yang panjang keluar kediamannya lalu bergerak menaiki mobil menuju ke pantai xx.
__ADS_1