Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
76. Bertemu Ririn dalam lift


__ADS_3

Kamar Laila dan Samudra.


Layla dan Samudra baru saja selesai mandi, Laila duduk di depan meja rias selagi suaminya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Laila menatap suaminya dari pantulan cermin, pria itu meski sudah berumur 50 tahun namun masih tetap terlihat muda.


Bahkan jika ada orang yang tidak mengenalinya dan melihatnya, mungkin mereka akan mengira bahwa suaminya masih berumur 35 tahun.


"Sayang, tidakkah sebaiknya kita kembali? Aku merasa tidak nyaman di sini karena Dewa dan perempuan itu, aku takut perempuan itu kembali membuat onar.


"Kalau sampai itu terjadi, besan kita bisa berpikir negatif pada keluarga kita." Ucap Laila pada Samudra saat perempuan itu mengingat perkataan Leora kemarin malam.


"Ada apa denganmu? Mengapa Dewa dan perempuan itu harus mengusir kita dari sini? Biar dia saja yang pergi." Ucap Samudra saat pria itu balas menatap istrinya.


"Tapi, kau tahu sendiri bagaimana sikap Dewa, aku tidak yakin dia mau menuruti permintaan kita dengan begitu mudahnya." Ucap Laila.


Mereka jelas tahu bahwa udara di pulau putih sangat baik untuk kesehatan Sarah karena perempuan itu sedang mengandung.


Tapi apa gunanya kalau berada di pulau itu hanya akan merusak pernikahan Andra dan Sarah?


"Tenang saja, Aku tidak akan mengusir Dewa." Ucap Samudra dengan santai sembari meletakkan hairdryer di atas meja lalu mengambil sisir dan menyisir rambut hitam istrinya.

__ADS_1


"Aku percayakan semuanya pada suamiku." Ucap Laila tersenyum dan hati perempuan itu menjadi lebih tenang.


Samudra baru saja selesai menata rambut istrinya ketika seseorang menekan bel kamar mereka.


Pria itu meninggalkan istrinya dan beralih membuka pintu kamar, ia mendapati Sarah sedang berdiri di sana sembari memegang sebuah piring berisi puding di tangannya.


"Bolehkah aku masuk?" Tanya Sarah ketika melihat Laila menghampiri mereka.


"Tentu saja, masuk lah sayang," ucap Laila lalu kedua perempuan itu segera duduk di kursi santai yang diletakkan di dekat jendela kamar.


Samudra mengikuti kedua perempuan itu dan duduk bersama mereka.


"Astaga sayang, tidak perlu minta maaf, itu bukan sesuatu yang menjadi salah kalian. Kami lah para orang tua yang salah karena tidak menanyakan kesiapan kalian untuk pesta itu." Ucap Laila memegang tangan Sarah dan kelembutan memenuhi hatinya.


Dia benar-benar bersyukur bisa memiliki menantu yang baik hati dan lembut seperti Sarah.


"Benar, tapi apakah kau sudah memeriksa luka ayahmu? Sepertinya dia punya banyak luka di tangannya karena menghajar pintu ruang santai." Ucap Samudra.


"Aku dan Andra berbagai tugas, dia yang pergi menemui mereka. Tapi kalau begitu aku harus minta maaf pada ayah dan ibu aku akan pergi melihatnya, silakan nikmati puding ini." Kata Sarah.


"Pergilah sayang," ucap Laila lalu perempuan itu mengantar Sarah sampai ke depan pintu kamar sebelum kembali ke dalam kamar dan menikmati puding yang dibawakan oleh Sarah.

__ADS_1


Kamar Angkasa dan Leora berada di lantai 1 sementara saat itu Sarah berada di lantai 3 jadi perempuan itu segera memasuki lift untuk turun ke lantai 1.


Lift berhenti di lantai dua, Ririn berdiri di depan lift sembari memandangi Sarah yang kini menatapnya.


"Hai," ucap Ririn saat perempuan itu memasuki lift.


"Oh, kebetulan sekali aku juga hendak pergi ke lantai 1." Ucap Ririn menatap Sarah dengan senyum yang tak pernah putus dari wajah perempuan itu.


Hanya beberapa detik, bahkan Sarah belum mengucapkan sepatah katapun dan lift sudah berhenti lalu dia membalas senyum Ririn dengan senyum mengejek sebelum keluar dari lift disusul oleh Ririn.


"Jangan berpikir kau bisa hidup tenang, karena sebentar lagi Andra akan kembali ke pelukanku dan kau akan kembali menderita!" Ucap Ririn yang belum bisa melupakan dendamnya pada Sarah.


Seandainya perempuan itu tidak datang kehidupan Andra, maka saat ini dialah yang berada di sisi Andra dan dia tidak akan pernah menjadi mainan seorang pria tua seperti Dewa!


Apa lagi, dia harus merelakan keperawanannya untuk pria tua menjijikan itu dan sekarang tidak bisa lepas dari pria itu kecuali ada pria kaya yang mau menolongnya.


@Interaksi



Sewot ajah ni satu. Kalo iri bilang ajah, siapa tahu otor berubah pikiran jadi ngajakin kamu, ngajak terjun bebas dari lantai 1000 misalnya...

__ADS_1


__ADS_2