
"Bodoh!" Milan langsung memberikan sebuah centilan keras di dah Mona membuat Gadis itu meringis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan?! Itu sak-ahhh!!" Belum selesai berbicara sebuah centilan kembali mendarat di dahi Mona membuat Gadis itu semakin kesakitan.
Milan begitu kesal pada Mona, satu teman mereka ini benar-benar,, benar benar bodoh!!!
Tidak bisa membaca situasi.
Milan kemudian menatap Titin "Jangan dengarkan Si Bodoh ini, dia hanya berspekulasi dan aku yakin 100% bahwa apa yang dia bicarakan tadi sangat tidak benar!
"Gadis miskin itu pasti melakukan sesuatu di kantin, misalnya berpura-pura pingsan dan merayu pria tampan itu untuk membawanya pergi. Dasar licik!!" Milan berbicara dengan kesal dan menatap pada ketiga orang yang sudah mencapai parkiran.
Mona mengangguk, "Ahh,, jadi begitu, kalau begitu, kita harus mengejar mereka dan menyadarkan pria tampan itu bahwa dia sedang ditipu habis-habisan!
"Kita harus memberitahukannya bahwa Titin kita jauh lebih baik dari Gadis miskin itu dan pria tampan itu tidak perlu memilih Gadis miskin daripada Titin kita yang berasal dari keluarga Rohan." Ucap Mona bersemangat.
Milan dan Titin "..."
Mereka berdua telah memilih teman yang salah!
Mana mungkin putri dari keluarga Rohan mau merendahkan diri seperti itu?!
Mona melihat ekspresi kedua temannya dan dengan polosnya bertanya "Apakah aku salah bicara?!"
__ADS_1
"Ayo pergi, masih ada kelas setelah ini." Ucap Titin kala Gadis itu segera berbalik bersama Milan meninggalkan Mona dalam kebingungannya.
Ada apa dengan mereka?!
Sementara itu di lahan parkir, Siro sudah meletakkan Ana di dalam mobil, dia sengaja membuka pintu depan supaya dia bisa mengawasi Ana dengan mudah.
Dia juga berhasil meyakinkan Kiora supaya tidak perlu mengikuti mereka dan supaya gadis itu tetap mengikuti kelas berikutnya.
Pria itu lalu duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil lalu bergerak meninggalkan kampus.
Ana masih berada dalam keadaan linglung, Gadis itu masih memegang garpu dan sendok di tangannya sembari menatap pada kedua tangannya yang terlihat sangat memerah karena terlalu erat memegang sendok dan garpu.
"Apakah sangat sakit?" Siro berusaha tenang dan bertanya dengan lembut meski kekhwatiran telah melanda dirinya sendiri.
Apalagi saat ini, dia melihat Ana hanya terdiam di tempatnya.
Bisa ditebak, Gadis itu pasti menahan kesakitan yang sangat luar biasa hingga tidak bisa berkata apapun lagi.
"Aku mengendara dengan cepat. Kita akan segera tiba." Ucap Siro bermaksud menenangkan Ana.
"Kak Siro," suara yang pelan dan lembut tiba-tiba dikeluarkan oleh Ana, tapi Gadis itu belum bisa mengangkat wajahnya karena dia masih terlalu malu.
"Ada apa? Apakah sangat sakit?" Tanya Siro cemas sembari menatap gadis di sampingnya bergantian menatap ke arah jalan.
__ADS_1
'Apa yang harus kukatakan? Akan memalukan mengakui bahwa aku hanya terlalu malu sampai seperti ini. Tapi, bagaimana kalau di rumah sakit dan aku ketahuan berpura-pura?' Ana tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Membiarkan Siro membawanya ke rumah sakit akan memalukan baginya ketika ketahuan di sana, tapi mengakui bahwa dia sebenarnya merasa sangat malu karena ketahuan telah memperhatikan Shiro juga akan memalukan baginya.
Setelah 1 menit terdiam Ana akhirnya mengumpulkan keberaniannya.
"Aku ingin pulang dan tidur. Aku tidak mau ke rumah sakit." Ucapnya begitu gugup.
"Tapi Nona, bagaiman kal-"
"Aku mau pulang!" Ana menekan ucapannya.
Melihat gadis didepannya bersikukuh, Siro hanya mengiyakan lalu memutar balik mobil mereka hingga tiba di apartemen yang telah disewakan oleh Dewa untuk mereka.
Begitu memasuki lahan parkir, Siro langsung membawa mobil ke lorong rahasia bawah tanah lalu mengendarai nya ke kediaman Dewa.
Setiap orang yang mengenal Ana akan mengira bahwa Ana tinggal di sebuah apartemen kelas menengah yang disewakan oleh Anderson group untuknya sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa.
Padahal, mereka semua tidak tahu kalau sebenarnya Ana tinggal di kediaman kakeknya, Dewa.
Mereka tiba di ruang bawah tanah dan naik ke lantai 3 di atas tanah lalu mengantar Ana ke kamarnya.
"Terima kasih Kak Siro." Ucap Ana segera masuk ke kamar.
__ADS_1