Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
118. Titin memang luar biasa


__ADS_3

Mona mengambil krim dari tangan Titin dan memberikannya pada Ana "Jangan menangis, Titin sudah biasa melakukan hal seperti itu, sangat baik pada orang lain. Kau tidak perlu menangis terharu seperti ini." Katanya Mona.


"Ana ".."


Hiks,, hiks,,


Begitu ketiganya meninggalkannya, Ana langsung berlari mencuci mukanya seperti orang gila.


Dia bisa merasakan rasa panas pada kulitnya seperti sudah terbakar namun dia tidak berhenti menggosoknya dan terus menyalakan air untuk membasuh wajahnya.


"Hei,, Kenapa kau membasuhnya begitu cepat? Sayang sekali krimnya mmmmm...!" Mulut Mona langsung dibungkam oleh Mulan lalu menarik gadis polos itu dari dalam toilet.


Begitu keluar, ketika Gadis itu terkejut mendapati Siro berdiri di depan toilet wanita.


"Kalian?!" Siro yang berdiri dengan santai langsung berdiri tegak menatap tiga gadis itu dengan tatapan meniti.


"Pria tampan, apakah kau sedang menunggu kami di sini? Kami-" kata-kata Titin menggantung saat Siro memberinya tatapan tajam yang menakutkan.


Siro menggertakkan giginya dan langsung menerobos ketiga orang itu ke dalam toilet.


Dia sangat kuatir terjadi apa apa pada noda mudanya.


"Astaga,, pria tampan itu. Mengapa dia sangat kasar pada gadis-gadis? Apa lagi pada Titin. Membuat kesal saja!" Gerutu Milan.

__ADS_1


"Biarkan saja, ayo pergi." Ucap Titin langsung berjalan pergi meninggalkan tempat itu, dia tahu kalau kali ini Siro memang masih terpikat oleh Ana tapi setelah wajah Ana rusak, dia yakin pria itu akan berbalik mengejarnya.


Hanya perlu menunggu sebentar saja kok, tidak perlu terburu-buru!


Karena pada akhirnya Siro tetap akan menjadi miliknya!


Milan dan Mona mengikuti Titin dengan cemas "Titin, apa kau yakin ini akan baik-baik saja? Bagaimana kalau pria itu melaporkan kita pada pihak kampus?" Tanya Milan mulai cemas.


Meski Dia berasal dari keluarga yang terkenal di kota FF tapi keluarganya juga tidak lebih besar dari keluarga Titin masih berada jauh dibawah keluarga Rohan.


Kalau sampai dia dikeluarkan dari kampus, mungkinkah masih ada sekolah lain yang mau menerimanya jika tahu dia dikeluarkan dari sekolah paling terhormat di kota FF?


"Tenanglah, pemilik kampus ini adalah teman dekat ayahku. Apapun yang terjadi ayahku pasti tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada putrinya." Ucap Titin dengan acuh.


"Begitu ya," Milan bernafas dengan lega tapi kemudian dia kembali teringat sesuatu lalu menatap Titin lagi.


"Tentu saja ada, tapi orang miskin seperti dia mana bisa membelinya. Lagipula kalau dia tidak menggunakannya dalam 8 jam maka wajahnya benar-benar akan rusak." Jawab Titin dengan acuh.


"Uh,, apakah memang semahal itu?" Tanya Milan penasaran.


"Tentu saja, setidaknya harganya bisa sebanding dengan mobil milikmu." Ucap Titin membuat Milan melotot.


"Bagaimana bisa obat penawar nya sebanding dengan harga mobilku?" Tanya Milan tak percaya.

__ADS_1


Titin menghentikan langkahnya, prihatin dengan kemiskinan yang dialami oleh temannya "Obat itu diproduksi secara khusus oleh perusahaan DX, tidak sembarang dipasarkan, hanya kalangan atas yang bisa membelinya."


"Hanya kalangan atas? Maksudmu, bahkan keluargaku jika ingin membelinya dan punya uang juga tidak sembarangan diberikan?" Tanya Milan.


"Aku tidak bermaksud merendahkan keluargamu tapi itulah yang terjadi. Bahkan jika aku ingin memberi obat penawar itu aku harus merengek dulu pada ayahku supaya berbicara secara langsung pada Tuan Dewa." Titin mendekatkan bibirnya ke telinga Milan "Obat itu diproduksi langsung oleh farmasi DX, Krim yang kugunakan juga dari farmasi DX" Ucapnya.


Titim sudah memperhitungkan segalanya, siapa pun dokter yang akan membantu Ana pasti akan berpikir-pikir saat tahu asal usul krim yang sudah digunakan Ana.


Tidak akan ada yang mau melawan keluarga bangsawan hanya untuk menyelamatkan gadis miskin!


"Astaga!! Jangan bilang kamu menyia-nyiakan begitu banyak uang demi membeli krim yang kamu taruh di wajah Ana?!" Tanya Milan tak percaya.


"Ya, itu krim yang berasal dari farmasi ... Ibuku secara khusus memesankan nya ketika aku mengatakan bahwa aku memerlukannya untuk diriku sendiri."


"Tapi, bagaimana bisa ibumu setuju kalau kau menggunakan krim seperti itu untuk kulitmu? Apakah dia tidak curiga?" Milan bertanya dengan rasa penasaran selangit.


"Kau tahu sendiri jenis kulitku seperti apa, krim seperti itu tidak akan melukai kulitku tapi untuk Ana yang terlihat tidak pernah memakai make up, itu akan sangat merusak kulitnya!" Ucap Titin dengan puas.


"Wah,, dari mana kau tahu hal seperti ini?" Milan bertanya.


"Aku menyelidikinya menggunakan kekuasaan ayahku. Infomasi pribadinya ada di tanganku." Ucap Titin tersenyum menyengir.


Gadis itu terlalu percaya diri tentang apa yang kalian ketahui mengenai Ana, tapi dia tidak tahu bahwa sebagian informasi telah dipalsukan oleh Dewa.

__ADS_1


"Wohh,, hebat..! Titin memang luar biasa!" Ucap Milan memuji.


"Krim semahal itu,, sangat sayang." Mona mendengus saat mendengarkan percakapan Milan ran Titin.


__ADS_2