
Karena tidak menemukan anak mereka, Laila dan Leora kembali ke taman samping rumah di mana pesta mewah digelar.
Saat itu Samudra dan Angkasa juga baru tiba dan semua orang yang ditugaskan untuk mencari juga sudah kembali namun hasilnya nihil. Tidak ada satupun orang yang melihat mereka.
Samudra menjadi geram.
"Batalkan pesta ini dan geledah setiap orang yang keluar dari tempat ini. Pasang CCTV di semua tempat, semuanya harus selesai dalam 30 menit!" Perintah Samudra pada orang-orangnya lalu semua orang orangnya segera pergi menjalankan perintah dari Tuan mereka.
"Astaga,, bagaimana ini?" Wajah Laila terlihat buruk.
Leora merangkul perempuan itu dan keduanya tampak tak berdaya memikirkan tiga orang yang telah hilang, termasuk dalam hitungan cucu mereka yang masih berada dalam kandungan Sarah.
Sementara itu, setiap undangan pesta yang diarahkan untuk pulang semuanya berdecak dengan kesal.
Berita tentang pembatalan pesta secara tiba-tiba membuat mereka tampak tidak nyaman.
Apalagi mereka telah diberitahukan bahwa pesta akan berlangsung selama 2 hari dan untuk pertama kalinya mereka akan menginap di pulau putih.
Tapi sayang, angan-angan itu harus musnah kala satu persatu tamu telah diantar keluar setelah menjalani serangkaian pemeriksaan yang sangat ketat dan merisihkan para tamu.
"Ayah, mungkinkah kakak dan kakak ipar membawa ponsel mereka? Cobalah lacak!" Seru Ana ketika dia teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Sudah, tapi ponsel itu masih berada di dalam mansion." Ucap Samudra.
Mendengar percakapan kedua orang itu, Laila akhirnya berlari meninggalkan semua orang dan pergi ke ruang komputer yang disediakan di mansion tersebut.
Semua orang mengikutinya dan kebingungan kala Laila kembali duduk di depan komputer lalu melakukan pelacakan pada ponsel milik Sarah.
"Sayang, kami sudah melakukannya, tapi-"
"Diamlah!" Bentak Laila pada suaminya lalu perempuan itu terus mengutak-atik keyboard komputernya dan beberapa saat Samudra begitu terkejut dengan keahlian istrinya.
Mereka biasanya hanya bisa memusatkan pencarian dalam radius 50 meter. Tapi sekarang, istrinya melakukannya dalam radius 5 meter.
"Periksa semua ruangan itu!" Ucap Samudra lalu semua orang kembali berpencar kecuali 2 pasang suami istri yang masih tinggal.
"Laila," Leora dan Laila saling berpandangan saat mereka mengingat ruangan yang diperiksa oleh Siro.
"Siro! Aku akan memenggal kepalamu kalau sampai kau membodohi kami." Geram Layla saat perempuan itu segera berjalan dengan cepat menuju ke ruang santai yang menjadi salah satu ruangan dengan titik pusat GPS ponsel Sarah.
Dengan cepat, ke empat orang itu segera tiba di koridor yang akan menghubungkan mereka dengan ruang santai di mana Siro sedang berdiri dengan tegap seolah pria itu adalah patung yang menghiasi tempat itu.
Tapi begitu melihat keempat orang yang sedang berjalan ke arahnya, Siro menelan air liurnya.
__ADS_1
'Sial! Keempat orang itu, bagaimana bisa mereka datang kemari dengan raut wajah seperti itu?!' Siro mengeram dalam hati melihat Laila dan Leora menatapnya dengan geram.
Apa salahnya?! Dia hanya menjalankan perintah dari tuan mudanya!
"Tuan, Nyonya." Sapa Siro langsung menyambut keempat orang itu dengan wajah yang kaku dan tangan dikepal kuat.
"Menyingkir dari situ!" Ucap Laila dengan amarah yang tertahan.
"Maaf Nyonya, tapi saya sudah ditugaskan oleh Tuan Muda untuk berjaga di sini dan tidak membiarkan siapa pun memasuki ruangan ini." Jawab Siro.
Dua perempuan yang merupakan orang paling khawatir dengan anak mereka Langsung berpikir negatif tentang perintah Andra pada Siro.
Mungkinkah telah terjadi sesuatu pada Sarah hingga Andra menyembunyikannya dari semua orang karena takut kalau pestanya sampai terganggu?
Memang benar, pesta itu digelar untuk kedua orang itu. Tapi keduanya tidak menyetujui pesta yang besar-besaran itu dan semua yang terjadi memang kehendak dari para orangtua mereka.
@Interaksi
Liatnya bukan pekek mata, tapi pakek mulut.🤭
__ADS_1