Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
110. Sebagai perpisahan


__ADS_3

Pria itu sedang cemburu pada seorang pengawal?


Tidak,, tidak mungkin!


Dewa tidak mungkin merendahkan dirinya untuk memiliki pemikiran seperti itu!


Kakeknya adalah orang paling gengsian!


"Kakek, apakah kakek pikir kalau kakek mengganti pengawal ku maka aku bisa hidup dengan tenang? Aku sudah mengenal Kak Siro begitu lama dan kakek tahu aku tidak bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan yang asing, apa lagi bersama dengan orang-orang asing." Ana mengangkat wajahnya dan menatap Dewa dengan tatapan yang suram "Apakah kakek sudah tidak menyayangiku lagi hingga mulai menyingkirkan orang-orang yang ada di sisiku? Apakah kakek Ingin membuatku seperti kakek? Hanya sendirian di dunia ini tanpa orang-orang yang menyayangiku?" Tanya Ana.


Dewa tertegun melihat Ana, awalnya Gadis itu memang berniat melanjutkan sekolahnya di pulau putih dengan mendatangkan dosen-dosen yang bisa mengajarinya di rumah.


Tapi karena dia merasa dirinya sudah terlalu tua dan membutuhkan penerus, maka dia berharap Ana kelak bisa meneruskan bisnisnya.


Jadi dia membawa Ana ke kota FF untuk mulai membiasakan Gadis itu berada di kota FF dan perlahan mengajarinya memimpin bisnis.


Tidak menyangka, gadis itu malah berpikir bahwa dia telah merampas satu persatu orang yang ada di sisinya.


Apakah dia sudah terlalu kejam pada gadis kecil itu?


Memikirkan itu, wajah dewa menjadi suram.


"Maafkan Kakek, Kakek akan menyuruh Siro kembali menjadi pengawal mu." Ucap Dewa langsung membuat suasana hati Ana menjadi lebih baik.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan menunggu Kak Siro di kamarku, Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Kakek harus membuatnya berada di sana dalam 10 menit!" Ucap Ana langsung memeluk Dewa sebelum berlari ke dalam lift meninggalkan pria berumur 50 tahun itu.


Dewa memperhatikan pintu lift yang sudah tertutup, hatinya menjadi tidak tenang.


'Apakah cucu ku mulai jatuh cinta?' gumamnya, sebab itu pertama kalinya ia melihat Ana begitu membela orang asing.


Ya, baginya, Siro adalah orang asing di keluarga mereka.


Tapi bagaimana dengan Ana?


Apakah mereka memiliki pemikiran yang berbeda?


...


Dilantai kamar Siro.


"Tu,, Tu,,an,-"


"Diam!" Bentak Siro ketika dia sudah muak mendengarkan asisten dokter itu terus berbicara dengan gagap membuat suasana hatinya menjadi semakin lebih buruk lagi.


"Ta,, tapi Tuan!"


"Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?!" Akhirnya Siro meninggikan suaranya membuat asisten dokter itu bergetar di tempatnya dan tidak punya lagi kekuatan untuk mengeluarkan sedikit pun suara.

__ADS_1


Asisten dokter itu meringkuk di sudut lift sembari menggerutu dalam hatinya.


'Dia benar-benar kejam! padahal aku hanya ingin mengatakan bahwa nona muda sangat ingin bertemu dengannya, lagipula kalau aku tidak berhasil melakukannya keluargaku lah yang menjadi sasaran amarah Beni.' gumamnya menyekah keringat di keningnya dengan tangan telanjang.


Lift terus berjalan turun hingga mereka tiba di lantai bawah tanah yang merupakan parkiran.


Baru saja pintu lift terbuka ketika dua orang pengawal sudah menghadang mereka. Jelas terlihat bahwa dua orang pengawal itu tidak berniat melukai siapapun di dalam lift.


"Tuan, silakan naik ke lantai 3 dan temui Nona Muda,." Salah satu pengawal berbicara pada Shiro membuat pria itu memicingkan matanya.


"Baik! Aku akan membantunya kembali ke lantai 3!" Ucap asisten dokter tanpa ada lagi kegugupan, tidak masalah jika dia dikeluarkan dari pekerjaan, yang penting keluarganya tetap selamat.


Pria itu dengan cepat menekan tombol lift lalu pintu lift segera tertutup.


Sebelum pintu lift benar-benar tertutup, asisten dokter itu melompat dari dalam lift dan membiarkan Siro sendirian kembali ke lantai 3.


Siro "..."


Siro berdiri seperti patung, dia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, tapi mendengar perintah untuk menemui Nona Muda, dia merasa tidak ada masalah dengan itu.


Mungkin sebagai perpisahan.


@Interaksi

__ADS_1



Iya, masih ada ajah reder yang bacot..!


__ADS_2