Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
105. Dewa mempersulit Siro


__ADS_3

Siro berdiri di depan pintu kamar Ana, sudah dua kali dia menekan bel tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Dokter yang berada selangka di belakang Siro memperhatikan kening pria itu dan menemukan bahwa Siro dalam keadaan tidak baik, keningnya dipenuhi bulir-bulir keringat dingin.


Itu pertama kalinya dia melihat Siro begitu gugup semenjak dia datang di kota FF, dalam sekejap dokter itu berpikir bahwa telah terjadi sesuatu yang besar di dalam kamar.


Bagaimanapun, mereka dipaksa buru-buru kemari, jadi apa lagi yang bisa mereka bayangkan selain sesuatu yang buruk kemungkinan besar sudah terjadi di dalam kamar Nona Muda.


"Tuan, Apa tidak sebaiknya jika kita membuka paksa pintu nya? Saya takut Nona Muda mungkin tidak bisa menunggu lebih lama." Dokter dengan cemas melihat kearah Siro dan dia bisa melihat bahwa wajah pria itu sedikit pucat entah pucat karena apa, tapi dia hanya menebak bahwa pria itu takut bila terjadi sesuatu di dalam sana.


Mendengar ucapan dokter, Siro segera mengambil ponselnya dan menghubungi pihak keamanan supaya mereka membuka pintu kamar Ana.


"Maaf Tuan, tapi jika tidak ada perintah langsung dari bos besar maka kami tidak bisa melakukannya." Jawab pria dari seberang telepon membuat jantung Siro berdegup semakin kencang.


Entah kenapa, tapi Ini pertama kalinya dia merasa gugup dan jantungnya berdetak dengan kencang seolah-olah Dia sedang menghadapi kematian di depan mata.


Tapi kenapa? Apa alasannya?


Apakah karena dia terlalu takut terjadi sesuatu pada Ana atau dia terlalu takut kalau Dewa mengusirnya dari sisi keluarga Anderson?


Siro memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam lalu menoleh pada dokter "Tunggu di sini sebentar." Ucapnya.


"Baik Tuan." Jawab dokter lalu menatap kepergian Siro yang berjalan tergesa-gesa ke arah lift.

__ADS_1


Pria itu memasuki lift dan kembali ke kamar Dewa.


"Kau kembali lagi?!" Dewa dan menatap Siro dengan tidak senang.


"Maaf Tuan, saya sudah menghubungi pihak keamanan untuk membuka kunci kamar Nona Muda, tapi-"


"Kembali ke atas." Dewa memotong perkataan Siro lalu pria itu menoleh pada asistennya yang berada di dalam kamar.


Sang asisten langsung mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya untuk membuat perintah.


Dewa kembali duduk dengan santai namun beberapa saat hatinya menjadi tidak tenang kala ia mengingat bulir-bulir keringat memenuhi kening Siro.


Jangan-jangan memang sudah terjadi sesuatu!


Dewa segera berdiri lalu pria itu menyusul Siro ke lantai 3.


Setelah pintu terbuka, dan para dokter berjalan ke dalam kamar, mereka melihat Ana yang sedang bersembunyi di bawah selimut.


"Apa yang kalian lakukan?!" Ucap Ana mengintip dari balik selimut, Gadis itu tidak berani menatap Siro karena dia terlalu malu.


"Apakah Nona baik-baik saja?" Siro membuka mulutnya dengan tatapan datar melihat Ana.


Wajah Ana sedikit memerah karena terlalu lama bersembunyi di bawah selimut tebal hingga membuatnya kepanasan, tapi dia juga terlalu kesal ketika dia membuka selimut dan kembali mengingat peristiwa di kantin.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." Ucap Ana semakin meringkuk di dalam selimut dia benar-benar tidak mau dipaksa keluar.


Siro terllau cemas, "Tapi Nona, wajah Nona merah, apakah dokter perlu me-"


"Apakah Kak Siro perlu memutuskannya untukku? Aku sudah bilang aku tidak mau!" Ucap Ana bersikukuh.


'Tapi Nona, Kalau dokter tidak memeriksa, saya juga lah yang akan dimarahi oleh Tuan Dewa. Saya akan di pecat!' gumam Siro mengingat kata-kata Dewa.


Dia berpikir Ana akan lebih mudah ia hadapi karena Gadis itu tidak seperti kakaknya yang keras kepala, tapi Ana adalah gadis yang lembut dan pemalu.


Ternyata salah, perempuan jauh lebih sulit dihadapi daripada laki-laki!


Siro menghela nafas melihat Ana yang kini kembali ke dalam selimut membungkus seluruh tubuhnya, hanya beberapa helai rambutnya saja yang masih terlihat "Nona, biarkan dokter memeriksa sedikit saja, lagi pul-"


"Bukankah cucuku sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja? Siapa kau bisa bersikeras memaksa cucuku?!" Sebuah suara yang berat disertai hawa yang menekan tiba-tiba muncul dari belakang orang itu membuat keempatnya menciut.


Siro menunduk memberi hormat.


Sepertinya sekarang dia bisa menduga bahwa apapun yang ia lakukan tidak akan terlihat baik di mata Dewa, pria itu benar-benar mempersulitnya.


Padahal, orang itulah yang sudah menyuruhnya dan memaksanya mencari dokter untuk memeriksa Ana.


Tapi mengapa,,,?

__ADS_1


__ADS_2