
"Cepatlah, kita bisa kena marah oleh dosen kalau kita terlambat masuk ke dalam kelas. Atau mungkin seseorang memergoki kita di sini." Ucap Milan memperingatkan Titin yang tak kunjung menemukan benda yang dicari di dalam tasnya.
"Hais...! Dimana benda itu?!" Geram Titin terus merogoh tasnya.
"Apakah kau mencari ini?" Tanya Mona mengambil sebuah krim yang ia dapatkan dari tas milik Titin.
"Kenapa barangku ada di tanganmu?!" Titin mengambil krim itu dan membuka tutupnya dengan terburu-buru.
"Karena kemarin kau bilang kau punya krim yang sangat bagus untuk Ana jadi aku pikir itu adalah krimnya dan aku ingin mencobanya sebelum kau memberikannya pada Ana.
Hehe,, ternyata aku tidak sempat karena sekarang sudah ketahuan." Mona menyetir lalu melihat Ana "Anak, maafkan aku, aku hampir mengambil barang milik mu tanpa seizinmu.
Titin benar-benar mempersiapkan krim untukmu. Dia bilang krimnya sangat bagus untuk kulitmu yang cantik." Ucap Mona.
Milan dan Titin "..."
Kemarin mereka memang membicarakan krim itu sangat bagus untuk kulit Ana, tapi bukan bagus seperti apa, itu bagus untuk merusak kulit milik Ana!
"Sudahlah, sebaiknya kau terima krimnya, lalu nanti kalau kau tidak menyukainya kau bisa memberikannya padaku." Ucap Mona dengan mata berbinar-binar memandang pada krim yang sudah terbuka dan sedang dicolek oleh jari milik Titin.
__ADS_1
Ana menelan air liurnya, keringat dingin sudah memenuhi sekujur tubuhnya saat melihat Titin tersenyum kearahnya sembari mengulurkan jarinya untuk menghaluskan krim itu pada wajahnya.
"Mona, Kau bilang kau menyukai krimnya? Kau bisa menggunakannya! Aku tidak membutuhkannya!" Ucapan Ana dengan panik, dia tahu bahwa krim itu pasti bukan krim yang berniat untuk memperbaiki kulitnya tapi malah sebaliknya.
"Benarkah?!" Mona tampak bersemangat dan mengguncang-guncangkan tubuh Ana hingga membuat Titin kembali menarik jarinya.
"Benar! Aku sungguh tulus memberikannya padamu." Ana berusaha memperlihatkan wajah tulusnya.
"Tapi,, kita harus bertanya pada Titin karena dia yang akan memberikan krim itu." Mona melihat pada Titin "Bukan begitu Titin?" Tanyanya.
Titin memejamkan matanya dan Milan menggertakkan giginya.
"Diamlah! Pegangi dia dengan kuat dan biarkan aku mengolesi krim ini di wajahnya. Krim ini untuknya dan untukmu akan kuberikan lagi yang lebih bagus dari ini." Ucap Titin.
Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku karena Titin sudah berjanji akan membelikannya lagi yang baru, yang lebih bagus dari punyamu." Ucapnya.
Ana "..."
Sudah berakhir!
__ADS_1
Dia tidak bisa lagi membodohi Mona supaya gadis itu mau membantunya!
"Pegang kepalanya supaya tidak bergerak gerak." Perintah Titin diikuti oleh kedua temannya lalu dia mulai mengoleskan sedikit demi sedikit krim ke wajah anak.
"Saat krim ini menyentuh kulit mu, dia akan langsung bekerja dan meski kau mencuci wajahmu, tidak akan berguna untukmu!" Ucap Titin tersenyum puas terus mengolesi seluruh wajah Ana sampai semuanya tertutup oleh krim.
Ana menangis sembari menggigit bibir bawahnya.
Sudah berakhir!
Entah apa yang akan terjadi pada wajahnya setelah hal ini, tapi dia tidak bisa membayangkannya. Kulitnya begitu sensitif jadi dia jarang merias wajahnya, tapi sekarang...!
Bahkan jika harus menggunakan produk kecantikan, dia perlu memastikannya dengan baik supaya tidak membuat iritasi.
"Hah, selesai. Ayo tinggalkan dia." Titin berkata dengan puas lalu menutup kembali krim yang ada di tangannya.
Berakhirlah wajah cantik itu!
@Interaksi
__ADS_1
Iya, di mars emang gak ada apa-apa yang sama di bumi, intinya, barang-barang di mars memiliki level yang tidak bisa disetarakan dengan buatan mahluk bumi...!!!