Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
108. Semua orang di tempat ini sangat keras kepala


__ADS_3

Siro kembali ke kamarnya dan mulai membereskan barang-barangnya.


Dia sebenarnya tidak terlalu takut dipecat karena ketika Dewa memecatnya maka dia masih bisa kembali kepada Andra.


Tapi jelas, tidak mudah menghadapi Andra, apa lagi ketika pria itu tahu bahwa dia telah lalai dalam menjalankan tugasnya.


'Ini jauh lebih baik daripada membiarkan salah satu dari ketiga orang itu kehilangan pekerjaan karena aku.' gumamnya tidak mau membuat seseorang menderita karenanya.


'Apakah aku terlalu baik hati?' Siro menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengepak bajunya, ia berdiri dengan tenang dan memikirkan keputusannya.


Tapi bagaimanapun dia memikirkannya, jelas berada di sisi Andra masih jauh lebih baik daripada berada di sisi Dewa.


Saat dia pergi meninggalkan kediaman Dewa, maka akan ada orang lain yang menjaga Ana, jadi dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, Dewa akan menjaminnya.


Siro kembali membereskan barang-barangnya dan membongkar lemari dan laci-laci yang ia gunakan untuk menyimpan barang.


Belum selesai melakukannya, tiba-tiba bel kamarnya berbunyi.


Ding dong...


"Pria itu benar-benar tidak sabaran!" Gumam Siro segera melemparkan barang-barangnya ke dalam koper dan menutupnya dengan sembarangan.


Pria itu lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Dia terkejut melihat asisten dokter yang tadi bersamanya kini berdiri di depan pintu kamarnya.


"Apakah Tuanmu benar-benar tidak sabar untuk mengusir ku? Katakan padanya aku tidak perlu diantar." Ucap Siro dengan ekspresi datar.


Dari kata kata Siro, asisten yang berdiri di depan itu bisa mengetahui bahwa Siro benar-benar berada dalam suasana hati yang buruk.


"Tu,, tu,, tuan,," pria itu akhirnya membuka mulut, suaranya gemetaran dan kembali tergagap sebagai ciri khasnya ketika dia sedang gugup.


"Diamlah, aku bisa pergi sendiri." Kembali ucap Siro selagi melangkahkan kakinya.


Namun dia menghentikan langkahnya ketika pria yang bersamanya sudah berdiri di depannya untuk menghalanginya.


"Ada apa lagi? Apakah kau tidak puas dengan keputusan yang ku ambil? Apakah kau ingin menggantikanku dipecat dari tempat in!" Siro sedang berada dalam suasana hati yang buruk jadi dia tidak bisa menahan diri untuk mengatai pria di depannya.


Seandainya ada pilihan lain, dia berharap dirinya tidak pernah dipecat dari pekerjaan itu karena dia memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menghidupi keluarganya.


Tapi apa yang bisa dilakukan sementara jabatannya adalah yang paling rendah. Dia tidak memiliki kekuatan.


Dia bisa bekerja bersama Dewa hanya karena sebuah keberuntungan.


Dan sekarang, keberuntungannya sudah berakhir. Setiap orang selalu memiliki keberuntungan tetapi ada orang yang jauh lebih beruntung daripada keberuntungan yang memiliki beberapa orang!


"Apa katamu?" Siro mengerutkan keningnya menatap pria didepannya "Dapatkah kau berbicara dengan jelas?" Tanya Siro meragukan Indra pendengarannya.

__ADS_1


Jelas Dewa sengaja melakukannya, pria itu memang dari awal ingin mengusirnya!


"Ma,, af,, ta,, tapi,, say,, ya, gu,, gup! Tu,, an,, tidak di pe,,cat!" Pria itu kembali berbicara.


Siro bisa melihat kegugupan di mata pria itu apa lagi tubuhnya, jelas sangat nampak!


Dia bisa menebak bahwa pria itu memiliki tanggung jawab yang besar dan sepertinya pria itu terlalu takut untuk kembali ke rumah setelah dia dipecat dari pekerjaannya.


"Jadi maksudmu, akan menggantikanku dipecat?" Tanya Siro memicingkan matanya.


Apakah di dunia ini benar-benar ada orang seperti pria didepannya? Sangat aneh bila memikirkannya!


"Y,, y,, ya!" Setelah menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah, pria berpakaian serba putih itu segera berjalan dengan lesu meninggalkan Siro.


"Hah, apa hakmu memerintahku, kembali temui Nona mudamu katakan padanya bahwa aku telah dipecat. Dan aku tidak punya niat untuk kembali bekerja setelah dipecat." Siro berjalan mendahului pria itu membuat pria berpakaian serba putih berhenti di tempatnya dan menatap punggung Siro.


Mengapa semua orang di tempat ini sangat keras kepala?!


Jika dia jadi Siro, dia akan sangat senang karena tidak jadi dipecat, tapi mengapa pria itu berbeda?


@Interaksi


__ADS_1


Selalu menerima saran kalian, tapi kali ini agak susah,, sebab covernya gak bisa diganti lagi karena udah di tetapkan sama noveltoon. kalo judulnya diganti, nanti cover dan judulnya jadi gak nyambung, mohon mengerti ya...


__ADS_2