Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
153. Berubah dari raja iblis menjadi malaikat baik hati


__ADS_3

Setelah semua orang menunggu dengan gelisah, akhirnya kepala farmasi DX telah tiba, pria itu dengan keringat di sekujur tubuhnya berjalan ke arah Dewa.


Bagaimanapun, terjadinya penyelundupan obat dari farmasinya tanpa sepengetahuannya mungkin saja akan membuat Dewa marah besar.


Obat itu belum dipublikasikan..!


"Tuan," pria itu memberi hormat pada Dewa.


"Periksa cucuku." Kata Dewa dengan suara datar, tapi meski suara pria itu biasa-biasa saja, sang kepala farmasi DX bisa mengetahui bahwa pria itu sedang marah.


"Baik Tuan." Pria paruh baya itu segera memasuki kamar Ana diikuti beberapa asisten dan juga dokter yang melakukan penelitian di farmasi DX.


Setelah melakukan serangkaian test dan pemeriksaan, pria itu kemudian menghadap Dewa dan Andra.


"Kami sudah memberikan penawarnya, tapi meski begitu kita juga harus memenuhi keinginannya, jika tidak, mungkin seumur hidup dia tidak akan pernah lagi menginginkan SENSOR." Pria paruh baya Itu menjelaskan dengan tubuh gemetaran.


"Kau..!" Dewa menggertakkan giginya dengan sangat marah, sesuai dengan kebiasaannya tangan pria itu langsung melayangkan tangannya dan dengan keras menampar pipi kepala farmasi DX.


"Beraninya kalian menyebarkan obat itu secara sembarangan sehingga melukai cucuku! Sekarang mengatakan cucuku harus disentuh oleh lelaki?! Kalian biadab! Binatang tak berotak..!" Dewa begitu marah, pria itu masih hendak memukul sang kepala farmasi DX ketika Andra yang berada di belakangnya menarik lengannya.


"Ada apa?! Kau ingin membela Mereka lagi?! Lihat..! Lihat apa yang terjadi pada cucuku, dan kau masih ingin membela mereka?!" Mata Dewa sampai merah, pria itu sungguh berada pada batas kesabarannya.

__ADS_1


Cucunya masih seorang gadis, cucunya seorang gadis yang polos dan berhati lembut. Bagaimana bisa... Bagaimana bisa...?!!!!!


"Kakek harus tenang, mari kita bicarakan ini baik-baik. Lihat Ana terbaring dengan gelisah di tempat tidur, apakah kakek masih punya waktu untuk mengurusi orang orang tidak tahu diri itu dan mengabaikan cucu Kakek?!"


"Benar katamu! Lalu apa?! Sekarang kau akan mencari pria untuk Ana?! Menodai cucuku yang suci?!" Dewa tidak berani berteriak di dalam kamar Ana, tapi kata-kata pria itu penuh dengan penekanan sehingga membuatnya lebih terdengar menakutkan daripada ketika pria itu berteriak marah.


"Jika itu obatnya, lalu apa kita masih bisa melakukan hal lain?" Andra berbicara dengan tenang.


Dewa kembali menyertakan giginya dan memejamkan matanya. Pria itu mengepal kuat tangannya karena sangat marah, urat-uratnya menonjol dengan keras.


"Biarkan aku memikirkannya. Kau hubungi ayahmu." Kata pria itu segera meninggalkan kamar Ana.


Setiap orang yang melihat punggung Dewa bisa melihat beban yang berat dan penyesalan yang begitu dalam.


Karena kecerobohannya, karena kelalaiannya,,, apakah dia masih pantas dimaafkan?


Siro terus menyalahkan dirinya sendiri hingga ketika Andra menghampirinya.


'Tuan,' suara Siro tak mampu keluar, hanya bibirnya saja yang bergerak.


"Bagaimana lukamu?" Tanya Andra.

__ADS_1


Siro "..."


Dia pikir dia akan dimarahi. Ternyata pria itu malah menanyakan lukanya?


Apakah pria di depannya telah berubah? Apakah itu Andra yang asli atau Andra yang palsu?


Bagaimana bisa,,, sudah dua kali pria itu membuatnya tercengang. Pertama membelanya di depan Dewa sekarang menanyakan lukanya??


Malaikat pun tidak akan percaya dengan kejadian ini!!!


"Tu,, tuan,, saya baik-baik saja." Jawab Siro.


"Kenapa kau begitu gugup? Aku tidak menyalahkanmu karena kejadian hari ini jika kau memang tidak salah." Jawab Andra.


Siro "..."


Dia tidak gugup karena Andra akan memarahinya, justru sebaliknya dia menjadi gugup karena sikap pria itu menjadi sangat aneh!


Sejak kapan,, sejak kapan pria di depannya berubah dari raja iblis menjadi malaikat baik hati????????


"Saya mengerti Tuan." Jawab Siro dengan tidak fokus.

__ADS_1



__ADS_2