Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
48. Harus mengambil keputusan


__ADS_3

Sembari diobati, tatapan Samudra tertuju pada Angkasa yang masih sementara duduk di lantai dan dipeluk oleh Leora.


'Aku mengerti perasaanmu, jadi aku tidak akan menyalahkan mu jika kau bahkan berniat untuk membunuhku.' gumam Samudra lalu ia berbalik melirik Sarah yang sedang mengobatinya dengan serius.


'Kalau Sarah adalah Putriku dan seorang pria bahkan berani melukainya sedikitpun, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi karena aku tahu bahwa Sarah dan Andra sama-sama mencintai dan terpisahkan hanya karena kesalahpahaman, maka aku akan memperjuangkan kebahagiaan mereka berdua.' gumam Samudra.


*Sudah selesai.* Sarah memberi kode ketika ia selesai mengobati Samudra lalu perempuan itu menoleh pada ayahnya.


Sarah kemudian menghampiri ayahnya dan memegang tangan ayahnya dengan lembut.


Saat itulah Angkasa membuka matanya dan menatap putrinya lalu dengan begitu posesifnya menarik putrinya ke dalam pelukannya.


'Putriku! Sarah hanya putriku seorang tidak ada lagi yang boleh menjadikannya putrinya selain aku!' gumam Angkasa lalu pria itu sangat tidak terima jika seorang pria tiba-tiba saja datang merebut kasih sayang putrinya.


"Sayang, Sarah sangat sedih melihatmu barusan, sebaiknya jika ada masalah semuanya diselesaikan secara baik-baik, dengan kepala yang dingin bukan kekerasan yang akhirnya melukai dirimu sendiri." Ucap Leora saat perempuan itu melihat tangan suaminya yang penuh dengan darah.


"Sayang, maafkan ayah, apa kau terkejut?" Tanya Angkasa sembari menatap mata putrinya.


*Siapa yang tidak terkejut melihat ayahnya yang selalu bersikap lembut tiba-tiba berubah jadi sangat kasar pada orang lain?* Jawab Sarah.


"Baiklah sayang, Ayah minta maaf. Ayah tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Angkasa kembali memeluk putrinya sebelum mereka akhirnya duduk bersama di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Sarah mengambil kotak P3K dan mengobati tangan ayahnya dibantu oleh Leora.


"Maaf," ucap Samudra pada Angkasa membuka keheningan di ruangan itu.


Menghela nafas, Angkasa mengangkat kepalanya dan menatap pria yang duduk bersama putranya.


"Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan keluarga kita. Jadi sebeiknya-"


"Sayang?" Leora dan Sarah sama-sama mengangkat wajahnya menatap Angkasa yang kembali terlihat emosi.


Tidak biasanya Angkasa seperti itu, tapi mungkin karena dia terlalu sakit hati melihat rekaman keadaan Sarah, maka pria itu menjadi berubah demi melindungi putrinya.


"Maaf," ucap Angkasa lalu kembali menatap Samudra.


"Aku hanya meminta supaya kau tidak memisahkan Andra dan Sarah, selebihnya, aku tidak peduli kau melakukan apapun." Ucap Samudra.


Dari awal, putranya menjadi orang yang menyebabkan semua kekacauan ini, jadi dia benar-benar sudah berpasrah dengan semua yang dilakukan oleh Angkasa.


Dia tidak mengharapkan apapun lagi, kecuali Sarah dan Andra bisa bahagia.


Jawaban Samudra membuat Angkasa mengeryit.

__ADS_1


Bebas melakukan apapun, termasuk membunuh pria itu dan menghancurkan keluarganya? Menarik!


"Baiklah, sebaiknya kau segera kembali, sebelum emosiku kembali meledak." Ucap Angkasa tidak mau mendengarkan apapun lagi dari mulut Samudra.


"Kau begitu aku permisi." Ucap samudra dengan pasrah sembari memberikan senyum pada Sarah lalu pria itu segera meninggalkan apartemen.


"Sarah, maafkan ayah, tapi ayah tidak bisa membiarkan orang yang sudah melukai Putri ayah terbebas dari hukuman. Kau mengerti 'kan?" Angkasa menatap putrinya.


Tidak mau jika ayahnya kembali meledak, Sarah memberikan anggukan pada Angkasa.


"Bagus sayang. Kalau begitu, ayah bertanya sekali lagi, apakah kamu masih mau mempertahankan pernikahanmu dengan pria yang sudah tidak menghormati mu sebagai perempuan terlebih sebagai istrinya atau memilih membuangnya?" Tanya angkasa.


Dia tidak mau menggunakan kata meninggalkan Andra dan memilih menggunakan kata membuang, karena dimatanya, Andra sama sekali tidak pantas untuk berada di sisi Sarah.


Andra selayaknya sampah yang harus disingkirkan dari sisi mereka supaya pria itu tidak berani lagi menebarkan bau busuk yang bisa mengganggu kehidupan tentram keluarganya.


"Sayang, jangan bertanya seperti itu." Ucap Leora segera menarik Angkasa ke kamar mereka.


"Sayang, ini penting, aku harus mengambil keputusan malam ini juga. Dan aku tidak bisa melakukannya ketika aku tidak mendengar jawaban langsung dari putriku." Ucap Angkasa sembari mengikuti istrinya ke dalam kamar.


@Interaksi

__ADS_1



Reder bengek+bacot nambah 1 lagi behh... Otor berasa nambah beban tahu..!


__ADS_2