
Andra tiba di ruangan di mana Siro sedang beristirahat.
Siro langsung terbangun ketika melihat Anda memasuki ruangannya.
"Tuan," sembari duduk, Siro memberi hormat pada Andra.
"Bagaimana? Apa kau masih punya tenaga?" Tanya Andra.
"Apa perintah Tuan?" Langsung tanya Siro.
"Ha ha ha... Perintahku adalah menyuruh menjawab jujur semua pertanyaan yang akan ku tanyakan padamu." Andra berbicara sembari menarik kursi dan meletakkannya di depan Siro.
"Saya baik-baik saja." Jawab Siro.
Andra duduk di sana memperhatikan Siro yang terlihat bingung dengan ucapannya.
"Saya tidak pernah berbohong pada Tuan." Kata Siro.
"Baiklah, jadi pertanyaan pertama, apa kau bersedia memanggilku Kakak?" Tanya Andra.
"Saya tidak berani Tuan." Jawab Siro.
"Kalau begitu, kuperintahkan mulai sekarang kau harus memanggilku dengan panggilan kakak." Kata Andra dengan tegas.
"Tapi Tuan,,,"
__ADS_1
"Membantah?!"
"Saya tidak berani Tuan,, Kakak." Jawab Siro tertunduk.
Menurutnya ini sangat aneh, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun yang ada di pikirannya, termasuk membantah perintah dari Andra.
"Karena kau tidak bisa ditanya maka aku hanya akan memberimu perintah. Yang pertama tadi memanggilku dengan panggilan Kakak, perintah yang kedua yaitu kau harus mencintai Ana, dan yang ket,,"
"Tu,, Tuan,, saya tidak berani,, sa,,"
"Tuan lagi?!" Suara kemarahan Andra kembali terdengar.
Siro "..."
Kalaupun dia mencintai Ana, maka dia tidak akan pernah mengatakannya bahkan jika dia harus mati karena cinta itu!
Tapi,,, sekarang ini....
"Kukatakan sekali lagi padamu, perintah ku yang pertama adalah kau memanggilku kakak, yang kedua adalah mencintai Ana, yang ketiga adalah menikahi Ana dan yang terakhir adalah menjaga anak seumur hidupnya! Hapalkan semua perintah itu baik-baik selama 1 jam, setelah itu temui aku di kamar Ana." Kata Andra lalu pria itu berbalik untuk meninggalkan Siro.
Tapi baru saja dia meraih handle pintu ketika dia kembali melihat Siro yang terlihat tak berdaya di atas ranjang "Masih ada 1 perintah lagi, jangan menghamili Ana sampai dia menyelesaikan kuliahnya!" Kata pria itu lalu membuka pintu dan meninggalkan Siro sendirian di dalam ruangan.
Siro "..."
Siro terdiam sangat lama, dia berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi dan menyadarkan dirinya bahwa apa yang ia dengar dan apa yang ia alami itu bukanlah sebuah mimpi! Tetapi sebuah kenyataan...!!!
__ADS_1
"Bagaiman bisa aku,," Siro memegang kepalanya dengan frustasi, meskipun dia memang bisa memenuhi semua perintah itu, tapi bagaimana dengan Ana? Bagaimana kalau gadis itu,,," Siro tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Ana ketika gadis polos yang yang baik itu harus menerima dirinya menghabiskan waktu seumur hidupnya bersama seorang pengawal!
Selama 1 jam memikirkannya, Siro benar-benar tidak memahami jalan pikiran Andra, pria itu masih terlambat 30 menit sebelum akhirnya dia menemui Andra di kamar Ana.
Di dalam kamar itu bukan hanya ada Andra, di sana juga ada Dewa yang sedang duduk dengan aura kekalahan melingkupi tubuhnya.
Siro menelan air liurnya lalu memberi hormat pada dua orang yang menakutkan itu.
"Tuan,, Kakak,," katanya membungkukan badan 90 derajat.
"Bagus, biasakan memanggilku seperti itu, dan lagi, jangan bersikap seperti seorang pengawal di depanku. Mulai sekarang Aku adalah Kakak iparmu, jadi kau harus menghormati ku seperti kakak ipar bukan seperti Tuanmu! Mengerti?!"
Siro berdiri dengan tegak dan menelan air liurnya "Mengerti Tu,, Kakak." Jawab Siro.
"Bagus, kau adik ipar yang penurut." Komentar Andra.
Siro "..."
Tidak, dia tidak bisa memiliki posisi adik ipar di sisi Andra, selamanya dia akan menyimpan dalam hatinya bahwa dia adalah bawahan Andra.
Mana ada adik ipar yang menerima perintah dari kakak iparnya dan tidak punya pilihan untuk menolak perintah!
Tidak ada,, dia hanya pengawal biasa..!
__ADS_1