
Siro tersungkur di lantai dengan seluruh luka di tubuhnya, sementara Angkasa berada di depan pintu dengan tangan penuh darah membuka pintu ruangan.
"Tolong,, tolong sayang, jangan! Jang-" suara Sarah langsung terputus karena Angkasa yang membuka pintu dan melihat kedalam langsung menutup pintu itu.
"Apa yang terjadi?" Laila segera berdiri dan mendekati Angkasa.
Jantungnya berpacu dengan kencang dan ketakutannya semakin menyelimutinya kala mendengar suara minta tolong dari Sarah.
"Sayang?" Leora ikut menatap cemas pada Angkasa.
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini." Ucap an4gkasa pada Laila dan Leora lalu menoleh pada Siro yang sementara berusaha berdiri.
"Jaga pintu ini! Tidak ada yang boleh memasuki pintu ini sampai Andra dan Sarah keluar!" Ucap Angkasa lalu pria itu membawa Leora ke rangkulannya.
"Sayang, katakan padaku," ucap Leora saat perempuan itu dibawa oleh Angkasa meninggalkan tempat itu.
Leora menoleh ke belakang dengan kaki yang berat untuk dilangkahkan menjauhi ruangan itu karena dia masih cemas memikirkan suara minta tolong dari Sarah.
"Mereka baik-baik saja. Tapi tanganku tidak baik-baik saja dan memerlukan pertolongan istriku." Ucap Angkasa langsung membuat Leora mengalihkan perhatiannya pada tangan Angkasa yang penuh dengan darah setelah menghajar Siro.
__ADS_1
...
Di dalam ruangan, Andra dan Sarah baru saja menyelesaikan pelepasan mereka saat Andra langsung menarik Sarah ke dalam pelukannya.
Pria itu tersenyum puas saat ia mengingat bagaimana Angkasa membuka pintu dan tatapan mereka bertemu selama beberapa detik.
"Ada apa denganmu?" Tanya Sarah yang sementara mengatur nafasnya yang memburu akibat pergulatan panjang mereka.
"Pestanya sudah selesai, kau tidak perlu keluar untuk menghabiskan tenaga menemui ribuan orang itu." Ucap Andra sembari tersenyum dan mendaratkan sebuah kecupan besar di bibir istrinya.
"Benar! Kenapa aku melupakan pestanya? Ayah dan ibu pasti sudah sangat kuatir karena kita menghilang dalam waktu yang lama." Ucap Sarah hendak berdiri untuk mengambil pakaian mereka saat Andra kembali menariknya dan membungkus perempuan itu dengan selimut.
"Tapi,"
"Ssstttt! Sekarang sudah waktunya untuk tidur." Kata Andra kembali mengeratkan pelukannya.
Keduanya terlelap sampai pagi menjelang saat Sarah mengerjapkan matanya dan mendapati mereka masih tidur di ruang santai.
"Selamat pagi," Andra mengagetkan Sarah saat pria itu tiba-tiba membuka matanya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, sejak kapan kau bangun?" Tanya saran menatap suaminya.
"Sejak tadi." Ucap Andra saat pria itu segera duduk dan meraih pakaian mereka yang diletakkan di atas meja.
Ia membantu Sarah berpakaian lalu keduanya keluar dari ruangan santai.
"Siro, Apa yang kau lakukan disini? Mengapa wajahmu seperti itu? Dari mana semu-" Sarah mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Siro yang dipenuhi luka lebam dan darah darah kering di sana tapi Andra segera mencegah istrinya dan menarik perempuan itu kearahnya.
"Kau bekerja dengan baik. Aku akan menaikkan gaji mu dua kali lipat." Ucap Andra dengan puas lalu pria itu segera membawa Sarah meninggalkan Siro.
'Terima kasih Tuan Muda.' gumam Siro dalam hatinya meski dia sebenarnya ingin menangis.
Sekarang dia bahkan tidak berani untuk berbicara karena luka di sekitar bibirnya terasa sangat perih ketika ia menggerakkan bibirnya.
@Interaksi
Suruh makan si boleh, apa lagi kalo nyuruh makan banyak, tapi ini mau makan apa? Siapin makanan dulu dong sebelum nyuruh makan,,,👀
__ADS_1