
Waktu makan malam di kediaman Dewa.
Ana dan Dewa sudah duduk di meja makan ketika Ana melirik pada kakeknya.
"Kakek," ucapnya hati-hati.
Dewa mengangkat wajahnya dan menatap cucunya.
"Ada apa? Apa kau tidak menyukai makanan yang disiapkan oleh pelayan?" Pertanyaan Dewa pada Ana membuat semua pelayan yang bertugas menyiapkan makan malam hari itu berada dalam ketakutan dan tekanan yang dahsyat.
Kalau sampai Nona Muda mereka mengatakan tidak menyukainya, maka merekalah yang akan bertanggung jawab dan pastilah mendapat hukuman yang berat dari Dewa.
"Bukan itu," jawaban Ana menenangkan hati semua pelayan, kaki mereka yang gemetaran perlahan-lahan kembali berfungsi dengan normal.
"Lalu apa?"
"Itu, bolehkah Kak Siro ikut makan bersama kita?" Ucap Ana dengan was-was.
"Pengawalmu?" Dewa menyipitkan matanya memandang cucunya, mungkinkah cucunya salah menyatakan nama?
"Iya, aku kasihan padanya, dia terus bekerja dan menemaniku kemanapun aku pergi. Tapi aku tidak pernah memperhatikannya." Ana terlihat bersalah saat membicarakan Siro.
Tapi apa yang dikatakan ana benar-benar tulus dari hatinya karena dia mengingat bagaimana pria itu terus menjaganya dengan baik sementara dia belum pernah berterima kasih dengan baik pada Siro.
__ADS_1
Selalunya dia mengatakan terima kasih, tapi setelah memikirkannya lagi, ucapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk membalas kebaikan Siro adanya.
Dewa juga berpikir sesaat, membiarkan Siro makan satu meja dengan mereka adalah kali pertamanya dia makan satu meja dengan seorang pengawal!
"Kalau kakek tidak mau, aku tidak memaksa." Suara pelan dan lembut milik Ana perlahan-lahan menghilang lalu Gadis itu kembali fokus pada makanannya.
Dewa memperhatikan Gadis itu, dia bisa merasakan aura kekecewaan pada tubuh Ana, hal itu membuat hatinya merasa tidak tenang.
"Panggil Siro kemari," tiba-tiba kata Dewa pada salah seorang pelayan yang berjaga membuat Ana tersentak.
"Kakek sungguh?" Tanya Ana.
"Tentu saja," jawab Dewa langsung membuat gadis di depannya mengukir senyum terbaiknya sebelum berjalan ke arah Dewa dan memeluk pria itu.
"Terima kasih Kakek." Jawab Ana lalu kembali ke tempatnya dan makan dengan semangat.
'Sepertinya aku harus menghubungi Samudra.' gumam Dewa berpura-pura tidak merasakan apapun lalu pria itu kembali fokus pada makanannya.
Siro akhirnya tiba di ruang makan, dia merasa aneh ketika seorang pelayan langsung menyiapkan peralatan makan untuknya dan mempersilakannya duduk satu meja makan dengan kedua orang itu.
Tentu saja dia tidak bodoh, dia tetap berdiri di sana dan tidak akan duduk sebelum Dewa memerintahnya.
"Duduklah," satu kata dari Dewa membuat pria itu terkejut, namun dengan hati-hati Siro melirik pada Ana.
__ADS_1
"Kak Siro, duduklah." Gadis itu tersenyum tipis padanya.
"Tapi Nona Muda say,,"
"Bagaimana caramu melayani cucuku?! Membantah perintahnya?!" Suara dingin Dewa langsung membuat kaki Siro dengan spontan melangkah kedepan dan duduk di kursi yang sudah disiapkan pelayan.
Siro begitu canggung makan berdua dengan pria itu, tapi pada akhirnya dia tetap memaksakan diri untuk makan meski makanan yang ada saat itu menjadi hambar di mulutnya.
Sungguh, dalam sepanjang hidup yang ia miliki dia tidak pernah membayangkan akan makan satu meja dengan pria seperti Dewa.
Sambil makan, Siro sesekali menoleh pada Ana dan beberapa kali juga tatapan mereka bertemu.
Ana selalu memberikan senyum tipisnya yang terlihat indah di mata dan membuat jantungnya berdetak aneh.
Ia kembali ingat perkataan dokter.
"Perasaan itu adalah perasaan cinta! Artinya Tuan mencintai gadis itu." Ucapan Dokter padanya.
"Cinta? Apa itu?" Siro bertanya.
"Cinta adalah level tertinggi dari suka! Artinya Tuan sangat-sangat menyukai gadis itu. Orang yang saling mencintai akan memutuskan untuk menikah."
'Cinta,," Siro bergumam sembari menikmati makan malamnya dan terus menelaah apa yang sudah dikatakan dokter padanya.
__ADS_1
Sangat aneh..!
Cinta membuat orang sakit jantung..!