Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
94. Siro yang bodoh


__ADS_3

Dewa segera mandi dan berganti pakaian lalu pria itu segera turun ke ruang makan menggunakan earphone di telinganya.


"Akhirnya,, hahaha,, akhirnya mereka akan makan malam juga! Hahaha,, ayo makan! Makan makanan beracun itu!" Suara Ririn dari earphone yang di kenakan Dewa.


Dewa bisa mendengar bahwa perempuan itu tertawa sangat keras sekolah luka di lidah nya tidak pernah Dewa buat.


'Ck, Ternyata dia belum menyerah juga sampai lidahnya putus.' Dewa tersenyum mengejek memasuki ruang makan.


Siro yang berdiri di sisi pintu ruang makan melihat senyum Dewa dan merasa tersinggung oleh tingkah pria itu.


'Sial! Apakah aku sudah menyinggung beberapa orang lagi?' Siro mengepal kuat tangannya.


Ia sudah terlalu lelah menghadapi hukuman dari setiap orang-orang berkuasa di rumah ini.


Angkasa, Samudra, Dewa dan Andra, mengapa tidak ada pria yang bersifat lembut dan memiliki hati di rumah ini?


Tepat ketika Siro hendak bernafas lega karena Dewa akan melewatinya, pria itu tiba-tiba merasakan aura dingin Dewa mencekam sekolah menyelimutinya dari belakang.


"Dimana semua orang? Mengapa tidak ada satupun orang di ruang makan?" Dewa mengamati ruang makan yang sepi itu dan melihat hidangan yang telah disiapkan oleh para pelayan.


Ada ikan mujair yang telah dibakar di sana, Dan juga menu-menu lainnya, semuanya disiapkan untuk satu keluarga itu tapi tidak ada yang menyentuhnya.

__ADS_1


Siro yang berdiri di sisi pintu juga kebingungan dan langsung melihat kedalam ruangan.


Jelas-jelas, baru saja ia melihat satu persatu orang memasuki ruangan.


'Jadi inilah alasannya mengapa dari tadi di sini sangat hening? Tapi kemana mereka pergi?' Shiro kebingungan dan belum menemukan jawaban untuk pertanyaan ketika Dewa berbalik menatapnya dengan aurah mencekam.


"Katakan!" Tiba-tiba bentak Dewa membuat Siro hampir saja roboh ke lantai tapi untungnya kakinya masih bisa menopang nya meski pria itu mundur 2 langkah sambil menundukkan kepalanya.


"Saya akan mencarinya." Ucap Siro dengan keringat dingin memenuhi kening dan punggungnya, pria itu lalu berbalik untuk mencari semua orang.


"Mau kemana kau?! Kau belum menjawab pertanyaanku!" Kata-kata Dewa menghentikan Siro saat pria itu mengerjapkan matanya.


Dia sudah mengatakan kalau dia akan pergi mencari semua orang itu!


Mengumpulkan semua keberaniannya, Siro kemudian berbalik menatap Dewa lalu dengan gemetar membuka mulutnya "Tuan, Saya tidak tahu mereka kemana, dan sekarang saya hendak mencari mereka."


"Aku bertanya dimana mereka bukan menyuruh mencari mereka! Seorang asisten tidak boleh berkata tidak tahu, belum dikerjakan atau belum dilakukan! Kau harus tahu segalanya, dan menyiapkan segalanya!" Suara Dewa penuh penekanan membuat punggung Siro menjadi lebih dingin dari es batu.


Pria itu juga merasakan bahwa badannya semakin mengecil dan Dewa semakin membesar seolah pria itu hanya dengan satu kakinya akan menginjaknya sampai penyok.


"Ma,, maafkan saya Tu~an." Siro berusaha memperbaiki suaranya agar tidak gemetar, tapi tetap saja, auranya terdengar tidak stabil.

__ADS_1


Siro belum terbiasa menghadapi Dewa dan dia tidak mengetahui bahwa tempramen pria itu jauh lebih buruk daripada ketiga orang lelaki yang berada di rumah ini.


"Mengapa masih berdiri?! Cepat cari mereka dan beritahu padaku!" Dewa tidak berteriak, suaranya juga tidak pelan, suaranya biasa-biasa saja tapi bongkahan es dan tajamnya pisau bisa dirasakan dari setiap kata yang diucapkan oleh pria itu.


"Ba~ik!" Jawab Shiro lalu pria itu segera berlari meninggalkan Dewa.


Setiap langkah yang diambil Siro semakin menjauhkannya dari aura menakutkan milik Dewa dan perlahan-lahan dia mulai tenang hingga bisa berpikir dengan baik kemana dia akan mencari semua orang yang hilang.


Barulah ketika dia melangkah sangat jauh dan menghentikan langkahnya.


'Mungkinkah semua orang keluar lewat pintu belakang?' Siro baru menyadari pintu itu, tapi sudah terlambat untuk berbalik menemui Dewa atau dia akan diterkam habis-habisan oleh pria.


"Mengapa Andra memiliki asisten bodoh sepertinya?" Dewa tersenyum mengejek lalu pria itu memasuki ruang makan dan keluar lewat pintu di belakang ruang makan.


Hasilnya, dia menemukan semua orang sedang memancing bersama. Tapi Laila dan Leora jelas tidak ada disana.


'Ada apa dengan mereka?'


@Interaksj


Masih kosong!

__ADS_1


__ADS_2