
"Sayangku, kau baik-baik saja?" Andra bertanya pada Sarah ketika melihat istrinya masih gemetaran memeluknya.
"Ya,, aku hanya terkejut. Sebentar juga baikan." Sarah mengangkat wajahnya dan melihat suaminya "Susul lah kakek, aku takut dia melakukan sesuatu pada Siro." Kata Sarah.
Andra memperhatikan istrinya, tujuan mereka datang ke kota FF hanya karena Sarah sudah merengek sepanjang hari sebab ingin menemui Ana dan memastikan Siro tidak ditindas dengan kejam oleh Dewa.
Tapi saat ini, melihat kondisi istrinya, Andra jelas tidak mau meninggalkan istrinya.
"Kakek tidak akan bertindak seperti itu, lihat kondisimu sekarang, bagaimana bisa aku meninggalkanmu?" Andra mengusap wajah Sarah.
"Tapi kalau kau tidak pergi, aku menjadi lebih tidak tenang. Kumohon,," wajah memelas Sarah benar-benar tidak bisa ditolak oleh Andra, jadi pria itu langsung menghela nafas.
"Baiklah, tapi biarkan dokter memeriksa mu sebentar dan seorang pelayan harus tetap disini mengawasimu." Kata Andra.
"Tentu," jawab Sarah segera turun dari pangkuan Andra lalu berbaring.
"Pergilah, Aku benar-benar tidak tenang memikirkan kakek tua yang terlalu pemarah itu."
"Baiklah." Andra mendaratkan beberapa ciuman di wajah Sarah sebelum meninggalkan kamar istrinya dan tak lupa menyuruh dokter dan beberapa pelayan memasuki kamar istrinya.
Pria itu mengendara ke pantai xx sembari menelpon istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Andra.
"Kau baru pergi beberapa menit dan sudah menelponku menanyakan kondisi ku? Dokter sedang memeriksaku, jadi Jangan menggangguku dan fokuslah pada pekerjaanmu." Kata Sarah, ia hendak mematikan panggilan itu ketika suara Andra terdengar lagi.
"Aku masih dalam perjalanan, tidak akan mengganggu apapun kalau kita tetap menelpon seperti ini. Biarkan dokter terus memeriksamu dan letakkan saja ponsel itu disampingmu." Perintah pria dari seberang telepon.
"Baiklah," jawab Sarah mengaktifkan mode pengeras suara lalu meletakkan ponsel itu di sampingnya.
Sembari mobil terus berjalan, Andra terus mendengarkan gerak-gerik dan pembicaraan Sarah dengan dokter.
Dia baru merasa lega ketika dokter mengatakan bahwa Sarah hanya syok sesaat dan kondisinya sudah membaik.
"Hmm," jawab Andra.
"Kau sudah dengar 'kan? Sekarang aku matikan teleponnya dan cepat susul kakek pemarah itu. Setelah kau sudah di sana dan melihat keadaannya, jangan lupa menelponku untuk memberi tahuku."
"Iya, jaga dirimu." Jawab Andra.
"Kau juga," suara itu kemudian disusul dengan nada panggilan yang terputus.
Waktu itu sudah tengah malam, Jadi jalanan menjadi sangat sepih hingga mobil mereka meluncur dengan cepat dan dalam waktu singkat mereka sudah tiba di pantai xx.
__ADS_1
Andra langsung menghubungi Siro dan pria itu dengan cepat mengangkat panggilannya.
"Dimana kalian?" Tanya Andra.
"Di pusat kesehatan, dokter yang datang bersama Tuan Dewa sementara memeriksa Nona Muda." Jawab Siro.
"Baiklah," jawab Andra lalu mengakhiri panggilan itu.
Sementara itu, Siro sedang berdiri dengan keringat memenuhi sekujur tubuhnya dia sudah tidak memperdulikan luka-luka yang memenuhi kulitnya dan juga darah yang mengotori pakaiannya.
Pria itu begitu cemas dengan Ana, terlebih hawa di sekitarnya begitu rendah karena Dewa juga berada di sana sembari memperhatikan dokter yang memeriksa Ana.
"Dia terkena obat yang dikembangkan oleh farmasi DX." Kata Dokter ketika dia selesai memeriksa.
"Lalu?!" Suara Dewa begitu rendah, Siro yang mendengarnya juga begitu takut tapi dia juga sangat terkejut mendengar obat yang diberikan oleh para Gadis itu ternyata berasal dari farmasi DX.
"Obat ini seharusnya obat yang baru dikembangkan, dan saya tidak mengetahui banyak tentang obat ini, sebaiknya kepala farmasi DX segera didatangkan kemari." Dokter itu berbicara sembari mengawasi Ana yang telah disuntik obat penenang.
Meski dia sudah memberikan obat penenang dalam dosis yang tinggi, tapi gadis yang terbaring di tempat tidur itu masih terus meronta-ronta hingga mereka telah mengikat Ana ke sisi tempat tidur.
__ADS_1