
Setelah melakukan perawatan di rumah sakit, Ana dan Siro kemudian berkendara menuju kediaman Dewa.
"Kak Siro, terima kasih untuk hari ini." Ana berbicara tanpa berani memandang Siro, baginya dia sudah terlalu banyak merepotkan pria itu bahkan melakukan hal hal memalukan di depan Siro.
"Itu sudah menjadi tugas saya. Tapi Nona, apa yang harus saya lakukan untuk ketiga gadis yang telah menyakiti Nona? Haruskah saya,,,,"
"Jangan, kalau Kak Siro membalas mereka, mereka akan kembali membalasku lalu dendam Kami tidak akan pernah berakhir." Ucap Ana.
"Tapi Nona, kalau Nona tidak mau berurusan dengan mereka lagi, saya bisa mengeluarkan mereka dari kampus." Siro berbicara dengan begitu mudahnya.
"Tidak! Jangan melakukan itu. Aku tidak mau masa depan seseorang hancur karena aku." Ana berbicara dengan sungguh-sungguh.
Dia tahu kalau seseorang dikeluarkan dari kampus itu, maka mereka tidak akan diterima lagi di sekolah manapun kecuali jika mau bersekolah di sekolah sekolah kelas menengah ke bawah.
Atau masih ada satu jalan, bersekolah di luar negeri.
"Kalau begitu, saya tidak akan melakukan apapun jika Nona tidak menyetujuinya. Tapi jangan salahkan saya ketika mereka mengulanginya lagi, tugas saya adalah melindungi Nona, dan ketika saya membiarkan seseorang yang terus menyakiti Nona selalu berada di sisi Nona maka Tuan Andra pasti akan memarahi saya." Ucap Siro.
Ana akhirnya menatap Siro "Kakakku tidak akan marah kalau Kak Siro tidak melapor padanya."
Siro "..."
Apakah sekarang Ana sedang mengajarinya untuk berbohong pada Andra?
Gadis polos itu berani menyembunyikan sesuatu dari kakaknya?
__ADS_1
Melihat Siro tetap diam, Ana akhirnya kembali tertunduk dan tidak memikirkan masalah itu sampai dia tiba di kediaman Dewa.
Baru saja gadis itu turun dari mobil ketika ponselnya berdering.
Kiora calling...
Anak tertegun melihat nama pemanggil, tadinya di rumah sakit dia benar-benar melupakan Kiora karena dia terlalu fokus pada wajahnya.
Sekarang, karena Gadis itu sudah menelpon harus mengangkat teleponnya.
"Ana...!!!" Teriakan dari seberang telepon langsung membuat Ana menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Kenapa kau berteriak? Bagaimana kalau ponselku rusak karena suaramu?" Ana bertanya dengan polos.
Kau keterlaluan! Beginikah caramu memperlakukan temanmu?!" Kiora terus berteriak membuat Ana tetap menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
Siro memperhatikan hal tersebut tapi dia tetap diam sambil berpikir dalam hati.
'Mengapa Nona Muda memiliki teman seperti itu? Sangat tidak baik!' Siro menghela nafas dengan pelan.
"Kiora maafkan aku, tadi aku salah." Ana kembali berbicara pada orang di seberang teleponnya.
"Kau..!" kiora menahan diri. Tidak baik jika dia terus meneriaki temannya yang sedang sakit.
"Baiklah, karena kau sedang sakit maka aku akan memaafkanmu, tapi lain kali jika kau meninggalkanku lagi, aku benar-benar akan meninggalkanmu selamanya!" Ucap Kiora dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Ana menghela nafas, tapi dia sadar betul bahwa itu benar-benar salahnya "Iya, aku tahu. Jadi apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku hari ini?" Tanya Ana.
"Hah,, tentu saja kau harus mentraktir ku makan. Tapi aku belum menanyakan bagaimana keadaanmu sekarang, apakah masih di rumah sakit?" Tanya Kiora saat garis di seberang telepon baru sadar bahwa temanya sedang sakit dan bukannya bertanya tentang kesehatannya lebih dulu dia malah berteriak marah-marah.
"Aku sudah kembali ke rumah, aku akan beristirahat. Besok pagi kita bertemu di kampus." Jawab Ana.
"Baguslah, oh ya kau belum memberitahuku kau tinggal dengan siapa?" Kiora kembali berbicara.
"Aku tinggal sendirian, di apartemen yang disewakan untuk mahasiswa beasiswa." Ana tetap terdiam di tempatnya sebenarnya mereka hendak memasuki lift untuk mengantar mereka ke lantai atas tapi sayang sekali tidak ada sinyal di dalam lift.
"Begitu? Kalau begitu, berikan alamat mu pada ku supaya aku menemanimu malam ini, aku akan membuatkan makan malam dan sarapan di pagi hari." Lagi kata Kiora dari seberang telepon.
"Uh,,, Kiora, aku tahu kau sangat peduli padaku, tapi hari ini aku benar-benar ingin sendirian. Aku mau beristirahat secara total." Tentu saja Ana tidak mau memberitahu Gadis itu tentang alamatnya, bagaimana kalau Kiora tiba-tiba datang ke rumahnya dan akhirnya menemukan bahwa dia tidak berada di rumahnya.
"Ahh, baiklah. Kalau begitu sampai bertemu di kampus besok pagi." Kiora mengucapkan salam perpisahan nya lalu panggilan itu segera mereka akhiri.
"Maaf Nona, Saya bukannya lancang, tapi sebaiknya Nona tidak memberitahukan tempat tinggal Nona pada teman Nona." Siro mengingatkan Ana.
"Aku mengerti." Jawab Ana lalu Gadis itu segera memasuki lift.
@Interaksi
Kok sewot? Pasti pengangguran ya,, makanya gak punya kerjain lain selain ngurusin orang lain,, huh,, dasar..!
__ADS_1