
"Tidak, Aku mau kakek buyut yang melakukannya." Ucap Sarah.
Dewa yang duduk dengan tenang memicingkan matanya menatap Sarah, tatapan pria itu sangat datar dan tidak ada amarah di dalamnya namun tidak ada juga rasa senang yang bersama dengan tatapannya.
"Apakah kakek Dewa mau melakukannya?" Ana memberanikan diri bertanya saat melihat Dewa tidak menampakkan emosi apapun selain gayanya yang sok berkuasa dan terlihat sulit untuk digapai.
Tapi gaya Dewa yang seperti itu tidak terlalu berpengaruh pada Ana karena perempuan itu sudah melihatnya pada sosok ayah dan ibunya bahkan pada Angkasa.
"Dimana ayamnya?" Suara Dewa begitu pelan, namun karena ditempat itu sangat hening, maka semua orang bisa mendengarnya dan Ana yang baru saja bertanya tak habis pikir bahwa pria itu menyetujuinya.
"Kakek Dewa mau menangkap ayam?" Ana kembali memperjelas pertanyaannya.
"Hm," ucap pria itu segera berdiri membuat semua orang kebingungan dengan sikap Dewa.
Apakah pria itu sedang kerasukan?!
Tidak! Lebih tepatnya, pria itu memang benar-benar sudah kerasukan!
"Pelayan," Samudra langsung memanggil pelayan saat Dewa memang terlihat sangat bersungguh-sungguh.
"Ya Tuan," seorang pelayan yang merupakan perempuan paruh baya menghampiri keluarga besar itu.
"Antar dia ke kandang ayam." Perintah Samudra lalu pelayan itu segera berjalan mengantar Dewa lalu mereka menaiki mobil untuk pergi ke kandang ayam.
"Apakah kakek Dewa benar-benar mau menangkap ayam?" Ana kembali berbicara saking tidak percayanya Gadis remaja itu dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Biarkan saja." Ucap Samudra lalu pria itu segera mengembalikan fokusnya ke pancingannya.
"Panggangan dan bumbu sudah siap!" Laila dan Leora muncul bersama beberapa pelayan yang datang membawa bumbu dan alat panggang.
Namun Laila mengerutkan keningnya ketika dia melihat ember yang disiapkan untuk menampung ikan ternyata masih kosong.
"Di mana ikannya? Apakah kita akan memanggang air kolam?" Laila menatap semua orang yang sedang memegang pancingan mereka masing-masing.
Begitu banyak orang yang memancing, tapi satupun ikan tidak mereka dapatkan!
"Ibu, kakek Dewa akan segera kembali dan membawa ayam." Ucap Sarah selagi perempuan itu berdiri dan menghampiri Leora yang kini bersama pelayan siap untuk memanaskan arang.
"Dewa?" Laila kebingungan.
"Baiklah, semoga dia benar-benar menangkap ayam dan bukannya menangkap telur ayam." Ucap Laila yang tidak yakin bahwa pria itu benar-benar akan membawa ayam untuk mereka panggang, jangan-jangan pria itu malah membawa telur ayam untuk dipanggang.
Sementara semua orang memanaskan arang untuk memanggang, maka di lantai 2 tepatnya di kamar Dewa, Ririn baru saja selesai mandi.
'Sial! Semua tubuhku sangat sakit dan lidahku begitu perih kalau aku menggerakkannya.' gumamnya berdiri di meja rias melihat memar-memar dan bekas gigitan Dewa.
'Sebaiknya sekarang aku berpura-pura turun ke bawah dan terkejut mendapati mereka semua telah tumbang di meja makan.' gumam Ririn lalu keluar dari kamar dan memasuki lift.
Perempuan itu terkejut saat ia mendapati Siro berada didalam lift bersamanya.
Siro hanya memandang dari sudut matanya dan pria itu tidak ada niat untuk menyapa Ririn, apalagi menghormati perempuan itu.
__ADS_1
Terlalu menjijikkan!
"Kau mau kemana? Apakah semua orang sudah makan malam?" Suara Ririn seperti dipaksakan, terdengar jelas bahwa perempuan itu sedang memaksakan diri untuk berbicara.
Tapi Siro tidak memperdulikannya, pria itu hanya diam sampai mereka tiba di lantai 1 lalu segera keluar.
'Asisten ini! Lihat aja, setelah aku menguasai seluruh harta di tempat ini, kamu adalah orang pertama yang akan mendapat konsekuensi dari segala perbuatanmu padaku!' Ririn menatap Siro dengan marah.
Siro berjalan cepat kearah ruang makan dan terus ke belakang, ia melihat semua orang sedang berada di sana kecuali Dewa.
'Sudah kuduga. Untung saja pria pemarah itu tidak ada disini.' pikir Siro.
"Kenapa semua orang di sini?" Tiba-tiba suara Ririn mengagetkan pria itu saat ia menoleh ke samping mendapati Ririn melototkan matanya.
Dia bisa melihat tangan perempuan itu terkepal dan amarah beserta kekecewaan memenuhi aura perempuan itu.
Dalam sekejap, Siro bisa menduga bahwa perempuan itu pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Kenapa kau begitu terkejut?" Siro membuka mulutnya.
@Interaksi
Ini waktu otor mimpi di malam Jumat Kliwon...🤫
__ADS_1