Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
164. Orang yang tidak dibutuhkan pendapatnya


__ADS_3

Setelah membereskan kekacauan yang terjadi di di pantai xx, Samudra memutuskan kembali ke kediaman Dewa.


Semua orang sudah berkumpul di sana, Sara duduk bersama Ana, dua perempuan itu saling berpelukan melepas kerinduan mereka.


"Kau baik-baik saja? Apakah masih ada yang sakit?" Sarah bertanya sembari memeriksa seluruh bagian tubuh Ana.


"Kakak ipar tidak perlu khawatir, aku merasa sangat baik sekarang." Jawab Ana memperlihatkan senyumnya.


"Baguslah, jadi bagaimana? Apakah kau akan segera menikah dengan Siro?" Langsung tanya Sarah, dia sudah mendengar ceritanya dari Andra dan dia adalah orang yang paling setuju jikalau Ana menikah dengan Siro.


Tapi tentu saja, pertanyaannya tadi hanya digunakan karena dia tahu adik iparnya belum memasuki umur yang cukup untuk menikah.


"Uh Kak,," Ana menoleh pada Siro, wajahnya memerah karena merasa malu dengan pertanyaan Sarah yang terlalu gamblang menurutnya.


"Baiklah, bagaimana kalau kita bercerita di tempat lain saja, hanya kita berdua." Sarah bertanya langsung disanggupi oleh Ana, dua perempuan itu segera meninggalkan semua laki-laki yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Setelah 2 perempuan itu pergi, Samudra segera berkata "Kami akan kembali ke Ibu Kota."


"Kembalilah, apa hubungannya denganku?" Dewa berkata dengan acuh tak acuh, pria itu hendak pergi meninggalkan ketiga pria yang sementara duduk ketika Samudra menghentikan langkahnya dengan ucapan pria itu.


"Ana dan Siro akan kembali bersama kami." Kata Samudra.


"Apa?!" Dewa langsung berbalik menatap Samudra dengan sorot tatapan yang tidak setuju dengan ucapan Samudra.


"Kau tidak bisa menjaga Ana dengan baik, jadi aku harus membawa putriku kembali." Jawab Samudra.

__ADS_1


Dewa menatap Samudra dengan penuh kemarahan, kalau pria itu membawa Ana, maka siapa yang akan menjadi keluarganya di kota FF dan melanjutkan bisnisnya?


"Aku tidak mengijinkannya! Ana akan menjadi penerus bisnisku, jadi dia harus tetap tinggal di kota FF dan belajar menjalankan bisnis ku sampai,,"


"Diam kau..!" Samudra sangat marah, bagaimana bisa pria itu bersikap sesuka hatinya sementara Ana bukanlah keponakan kandungnya!


Bahkan jika Ana keponakan kandungnya, dia juga tidak akan membiarkan pria itu memperalat putrinya hanya untuk meneruskan bisnis grup DX.


"Aku saja yang ayah kandungnya tidak berani memaksanya meneruskan bisnisku dan lebih menghargai keputusannya untuk menjadi seorang penulis, lalu siapa kau mau memaksa-maksa putriku?!" Samudra berkata penuh amarah.


Bahkan jika dia harus berperang dengan Dewa, maka dia akan melakukannya jika Itu demi kebaikan putrinya.


"Kalian berdua,, kalau aku tidak memiliki pennerus untuk bisnis, maka untuk apa aku mempertahankan kekuasaan ku di kota FF?! Mengapa kalian tidak mengerti sedikit pun?! Aku memerlukan penerus!" Geram Dewa bersikukuh.


Andra "..."


"Tapi putriku bukan boneka yang bisa kamu gunakan sesuka hatimu! Dia adalah seseorang yang memiliki hati dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri!" Lagi kata Samudra yang sudah terlihat kehilangan kesabarannya.


Dewa mendengarkan kata hati, sejak Laila meninggalkannya demi Samudra, pria itu sudah tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Hatinya sudah mati.


"Di masa muda kau sudah merambat Laila dariku, dan sekarang kau juga ingin merampas penerus Bisnisku?! Apakah nanti kau juga akan merampas nyawaku?!" Dewa berkata dengan dingin.


Mendengarkan kakeknya membahas masa lalu, Andra segera berdiri dan memegang bahu ayahnya lalu mendudukkan pria itu di kursi.


"Kakek duduklah juga, mari bicarakan ini baik-baik." Andra berkata sembari menatap Dewa.

__ADS_1


"Baiklah, pikirkan jalan keluarnya," kata pria itu dengan suara yang dingin.


Keheningan terjadi untuk beberapa waktu, semua orang sedang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Keheningan itu terhenti ketika Andra tiba-tiba berbicara "Bagaimana kalau Siro tinggal di sini dan belajar bisnis Kakek Dewa? Biar Siro yang menjadi penerus bisnis Kakek dewa. Jadi nanti setelah Siro dan Ana menikah mereka berdua yang akan meneruskan bisnis Grup DX. Bagaimana?"


Ketiga pria yang bersamanya langsung menatap Andra.


Siro adalah orang yang paling tidak terima dengan usul itu, mana mungkin dia dibiarkan tinggal sendiri bersama pria pemarah seperti Dewa?!


"Ayah setuju. Paling tidak sampai Ana selesai kuliah baru dia kembali ke kota FF. Pada saat itu aku tidak akan keberatan jika dia memilih mengurusi bisnis paman bersama Siro." Kata Samudra.


Sementara Dewa, pria itu menyertakan giginya, tentu saja dia tidak akan setuju jika Siro meneruskan bisnisnya.


Tapi mengingat semua orang sudah menyetujui pernikahan Siro dengan Ana, bahkan Ana sendiri menerima pernikahan itu, maka dia tidak bisa melakukan apapun.


"Baiklah, tetapi sebelum kalian meninggalkan kota FF maka aku akan mengumumkan Ana sebagai pewaris seluruh milikku."


Andra dan samudra mengangguk setuju sementara Siro, pria itu diam dalam duduknya seperti orang yang tidak dibutuhkan pendapatnya.


@Interaksi



Ini hari terakhir Crazy Up ya..... xixi...

__ADS_1



__ADS_2