
Sesuai keinginan Dewa, pada sore hari ia mengajak Andra memancing. Kedua pria itu bersiap-siap pergi bersama.
Sementara Ririn ditinggalkan sendirian di dalam kamar karena perempuan itu telah pingsan sebab seharian harus melayani Dewa.
"Sayang, ingat untuk membawakan hasil tangkapan mu. Aku mau ikan mujair." Ucap Sarah saat perempuan itu mengenakan jaket pada suaminya.
"Ikan mujair?" Andra tak percaya. Jelas istrinya tahu bahwa mereka akan memancing di laut, bukannya di sungai ataupun danau.
"Emmh ya,, dan aku mau ikan mujair itu adalah hasil tangkapan suamiku sendiri. Kau harus pulang sebelum jam 7 dengan membawa ikan itu atau aku tidak akan makan sampai besok malam!" Ucap Sarah mengancing jaket suaminya.
Perempuan itu sama sekali tidak merasa bersalah dengan semua ucapannya.
"Tapi sayang, ikan mujair tidak ada di negara ini hanya ada di-"
"Kau bilang kau mau menuruti semua keinginanku dan keinginan anak kita, tapi sekarang baru ikan mujair saja kau sudah menyerah, apa lagi yang lain!" Ucap cara memandang suaminya dengan tatapan kecewa dan air mata perempuan itu sudah tumpah ruah di pipinya.
Tangan Sarah memegang kancing jaket Andra dengan gemetaran sekolah perempuan itu baru saja mengalami sesuatu yang sangat melukai hatinya.
"Sayang," Anda sangat terkejut melihat istrinya, pria itu langsung memeluk Sarah dan memenangkan perempuan yang gemetaran itu.
__ADS_1
"Baik, baik,, aku pasti akan memancing ikan mujair untukmu." Ucap Andra dengan jantung berdegup kencang.
Dia tidak mungkin melukai Sarah untuk kedua kalinya atau jika tidak dia lebih baik menderita seumur hidup daripada melukai istrinya.
Bayang-bayang kesakitan istrinya kembali muncul dalam ingatannya dan hal itu membuat pria itu menjadi semakin cemas dan mengeratkan pelukannya pada Sarah.
Sementara Sarah yang mendengar ucapan suaminya, perempuan itu melonggarkan pelukan mereka dan menghapus air matanya.
"Baiklah! Kalau begitu, cepatlah pergi, aku akan menunggumu dan menyiapkan bumbu untuk ikan mujairnya!" Ucap Sarah dengan suara yang sangat riang saat perempuan itu menyelesaikan kancingan baju Andra.
Andra menatap istrinya yang berubah sikap dalam waktu satu detik dan pria itu kebingungan meski jantungnya masih berpacu dengan kencang.
Dia sangat takut kalau sampai mengecewakan istrinya untuk kesekian kalinya, dia bahkan tidak bisa melihat luka kecil di tubuh perempuan itu, apalagi jika luka itu harus ditorehkan ke dalam hati istrinya.
"Ini topimu, semuanya harus lengkap." Ucap Sarah memakaikan topi pada Andra dan senyum perempuan itu mengembang sempurna saat Sarah kemudian mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir suaminya.
"Ayo, kau harus berangkat cepat supaya bisa mendapatkan ikan mujair untuk anak kita." Ucap Sarah menarik tangan Andra lalu keduanya berjalan keluar dari kamar.
Setelah tiba di lantai 1, Dewa sudah menunggunya. Siro pun berada di sana sembari memegang peralatan pancing milik Andra.
__ADS_1
Wajah pria itu dipenuhi dengan plester luka.
"Ayo," kata Dewa ketika melihat cucunya lalu pria itu segera berdiri diikuti asistennya.
"Sayangku, aku pergi. Ingat, jangan sendirian dan pastikan kau selalu bersama Ana atau ayah dan ibu." Ucap Andra pada Sarah karena pria itu takut kalau saja ada yang mau menyakitinya, termasuk Ririn.
"Iya,, iya,, aku tahu, tapi kau juga harus ingat kalau aku mau memasak ikan mujair pancingan mu! Ingat juga, ikan mujairnya harus betina!" Ucap Sarah kembali mengingatkan suaminya tentang keinginannya untuk memasak ikan mujair.
"Iya, aku tahu. Aku akan berusaha mendapatkannya untuk istriku tercinta." Ucap Andra kembali melayangkan tembakan ciuman di seluruh wajah Sarah sebelum ikut menyusul Dewa.
'Ikan mujair betina? Mengapa perasaanku jadi tidak enak?' gumam Siro.
Sarah kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamar Ana untuk meminta bantuan pada adik iparnya memilih pakaian yang cocok untuk suaminya.
@Interaksi
Enak ajah mau nyentuh orang2 otor, sana lewatin neraka dulu kalo bisa..!
__ADS_1