
Pagi harinya, tepat pada pukul 7 Siro sudah berada di depan pintu kamar Ana dan menekan bel.
Ding dong.
1 menit kemudian.
Ding dong.
1 menit kemudian.
Ding dong.
Ding dong.
Siro tetap berdiri dengan wajah datarnya memandangi pintu di depannya.
Dia harus sabar!
Sementara di dalam kamar yang sedang dihadapi Siro, Ana masih tertidur dengan pulas.
Sejak ciuman kemarin, Ana tidak bisa tidur, Gadis itu terus berguling-guling di tempat tidur berusaha memejamkan matanya namun rasa malunya jauh lebih besar daripada rasa kantuknya hingga dia tidak bisa tidur.
Entah jam berapa dia baru bisa tidur, tapi tentunya tidak mudah untuk bangun terlalu pagi setelah apa yang terjadi.
Menunggu 30 menit lagi barulah Ana mengerjapkan matanya dan membukanya dengan perlahan.
Ding dong
Ding dong
Suara bel yang berbunyi dua kali langsung menyadarkan Ana dan dengan spontan Gadis itu segera duduk di tempat tidur.
"Astaga!" Gadis itu melompat dari tempat tidur ketika melihat wajah Shiro berada di layar.
Dengan segera, wajah gadis itu berubah menjadi merah lalu menjadi pucat.
__ADS_1
"Bagaimana aku menghadapi Kak Siro?!" Ana menjadi linglung, sesaat kejadian kemarin malam kembali dalam terputar ingatannya.
Kemarin setelah menyadari bahwa dia sedang tidak berkhayal mencium Siro, gadis itu langsung buru-buru meninggalkan Siro dan menutup pintu dengan keras.
Ding dong.
Ding dong.
Suara bel membuat tubuh Ana gemetaran kala Gadis itu berusaha berjalan ke pintu dan memegang handle pintu.
'Tidak ada apa-apa, tidak ada yang terjadi!' Ana menenangkan dirinya sendiri.
Setelah cukup lama mengumpulkan keberanian, Ana akhirnya membuka pintu.
Saking malunya gadis itu, ia hanya membuka sedikit celah pintu yang bisa memperlihatkan sebelah matanya.
"Kak Siro, aku sudah bangun." Suaranya sangat pelan, saking sayangnya hingga Siro tidak bisa mendengarnya.
"Saya akan menunggu Nona di parkiran." Kata Siro lalu pria itu segera berbalik meninggalkan pintu kamar Ana.
Membangunkan Ana pada pukul 7 pagi meski garis itu benar-benar terlambat sampai 30 menit.
Sekarang, dia hanya perlu menunggu di mobil lalu mengantar gadis itu ke kampus dan menjalani hari-harinya seperti biasa.
Sementara gadis yang ditinggalkan, Ana mengerjapkan matanya lalu merapatkan pintu.
"Apakah kemarin itu hanya mimpi?" Ucap Ana berusaha mengingat lagi.
Tapi bagaimanapun dia mengingatnya jelas-jelas Itu adalah sebuah kenyataan!
"Kalau begitu, mengapa Kak Siro terlihat biasa-biasa saja?" Lagi ucapnya dengan linglung.
Pukul 7.50 Ana sudah berada di parkiran, Gadis itu mandi terburu-buru dan melupakan sarapannya.
"Kak Siro," ucap Anamemanggil nama Siro saat melihat Siro sedang berkutat dengan ponselnya.
__ADS_1
Mendengar suara Ana, Siro langsung menyimpan ponselnya lalu membuka pintu mobil.
"Silahkan Nona." Suara Siro biasa-biasa saja, sikap pria itu juga biasa-biasa saja seperti hari-hari sebelumnya saat tidak terjadi apapun.
Ana terpaku menatap Siro.
"Kak Siro, soal kemarin, aku minta maaf." Ucap Ana pelan-pelan menundukkan kepalanya dan wajah Gadis itu kembali memerah.
Dia merasa sangat malu!
"Saya tidak berhak menerima permintaan maaf Nona Muda. Lagi pula, kemarin malam saya lah yang salah karena lalai menjaga Nona hingga membuat saya hampir dipecat.
Saya minta maaf atas kelalaian saya, Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Siro membungkuk pada Ana.
Ana "..."
Dia minta maaf karena kemarin dia sudah lancang minta cium Siro, bukan perihal tentang pria itu hampir dipecat karena lalai menjalankan tugasnya.
"Kak Siro, yang aku maksud adalah kejadian di depan pintu. Aku tidak sengaj-"
"Saya minta maaf, lain kali saya tidak akan pernah tertidur lagi di depan pintu kamar nona." Siro memotong ucapan Ana.
Ana "..."
Bukan! Bukan itu maksudnya!
Ciuman! Ciuman!!
Ana merasa tidak mampu untuk membahasnya lagi. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan gugup sembari menyembunyikan wajahnya di antara helaian rambutnya.
Anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi!
Tapi bagaimana bisa? Jelas-jelas adegan ciuman itu memang terjadi!!!
Nyata!
__ADS_1
Ana menghela nafas dengan gusar.