Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
109. Dewa cemburu pada seorang pengawal


__ADS_3

Ana sudah menunggu dengan lama di kamarnya, dia menjadi gelisah ketika Siro tidak kunjung datang.


Gadis itu begitu takut kalau besok Siro sudah tidak mau menemaninya ke kampus hanya karena dia telah membuat Dewa membentaknya.


Apalagi besok, jika tidak ada Siro di sampingnya, maka dia bisa menduga bahwa para gadis yang seangkatan dengannya akan membulinya habis-habisan!


Bagaimana dia bisa menjalani kuliah dengan tenang jika Siro tidak ada di sampingnya?!


"Di mana dia, aku tidak mau mengganti pengawalku." Ucap Ana terlalu takut, dia sudah tahu kalau para pengawal Dewa jauh lebih kaku daripada Siro dan tentunya Ana akan sulit beradaptasi dengan orang baru.


Setelah menunggu beberapa menit lagi, dia sudah tidak tahan, dia segera keluar dan berjalan mendekati pengawal yang berjaga di depan lift.


"Apa kalian melihat Kak Siro?" Wajah amat cemas, Gadis itu tidak pandai menyembunyikan ekspresinya.


"Maaf Nona Muda, tapi Tuan Siro Sudah dipecat dari pekerjaannya." Ucap sang pengawal membuat Ana hampir saja jatuh tersungkur.


"Siapa yang memecatnya?!" Tanya Ana dengan wajah tak percaya beserta kaki gemetaran.


Kalau Dewa sampai mengganti pengawalnya, Apakah dia bisa memanggil pengawal itu dengan sebutan kakak seperti yang ia lakukan pada Siro?


Apakah dia bisa mengatur pengawal Dewa seperti mengatur Siro? Menyuruh pengawal melakukan apapun sesuai keinginannya termasuk berpakaian santai ke kampus?

__ADS_1


Jelas pengawal Dewa tidak akan mau melakukan hal seperti itu!


"Nona Muda, saya minta maaf," wajah pengawal tampak ragu-ragu untuk mengatakannya pada Ana tetapi melihatnya saja Ana sudah bisa menebak.


"Kakek Tua!" Geram Ana segera memasuki lift dan turun ke lantai 1 menemui Dewa.


Dewa sedang menikmati anggurnya sembari memikirkan rencananya pada sebuah proyek baru yang akan ia tangani.


Tapi ketenangan pria itu segera terganggu ketika Ana tiba-tiba membuka pintu dan memasuki ruangan Dewa.


"Kakek!" Ana sebenarnya berbicara dengan nada yang marah tapi karena lembutnya suara Gadis itu, Dewa jadi tidak terlalu memperhatikannya dan hanya duduk dengan tenang menatap kearah cucunya.


"Ada apa? Kemarilah dan duduk bersama Kakek." Ucap pria itu melambaikan tangan pada Ana.


"Kakek, mengapa kau memecat Kak Siro?"


Dewa menatap sesaat "Memangnya kenapa? Dia sudah melakukan kesalahan dan Kakek tidak suka memelihara seorang bawahan yang tidak patuh." Dewa begitu santai, dia mengatakan yang sesungguhnya dipikirannya.


Wajah Ana segera menjadi sangat muram, Siro adalah pria yang sangat patuh jadi pria itu tidak mungkin melakukan sesuatu yang melanggar!


"Tidak! Aku tidak setuju! Kalau kakek memecat Kak Siro, Aku tidak mau lagi berbicara dengan kakek!" Ana cemberut dan berbalik meninggalkan Dewa sembari mengusap air matanya.

__ADS_1


"Kakek sudah melukai hatiku," gumam mana dengan pelan sembari menghela nafas yang besar.


Melihat itu, Dewa segera meletakkan anggurnya dan berjalan menyusul cucunya.


"Jangan merajuk." Ucapnya meraih lengan Ana dan menarik Gadis itu supaya berbalik menatapnya.


Pria itu sangat terkejut ketika melihat air mata Ana telah tumpah di pipinya yang mulus.


Hati Dewa menjadi kacau, dia mengulurkan tangannya dan menyeka airmata cucunya.


"Apakah pengawal itu lebih penting bagimu daripada kakek hingga kau begitu membelanya di depan kakek?" Tanya Dewa.


Ana "..."


Kapan dia bilang kalo Siro lebih penting dari pada Kakeknya?


Ataukah pria itu sedang cemburu pada seorang pengawal?


Ana tertegun menatap Dewa.


@Interaksi

__ADS_1



Trus, gak kasian sama otor yang selalu kalian salain karena nyalain Siro??? Padahal, Dewa yang nyalain Siro, kenapa protes ke otor??


__ADS_2