
Setelah pengumuman itu, pintu kembali terbuka dan lampu dinyalakan kembali.
"Semuanya sudah boleh pergi dari sini!" Sang pengawal berbicara tanpa memperdulikan banyaknya suara tangisan di dalam ruangan itu.
"Tidak..! Aku lebih baik mati di sini daripada harus keluar dari tempat ini! Ini memalukan!" Titin berkata sembari terisak memeluk ibunya.
Inilah yang diinginkan oleh orang yang berada di layar, ketika mereka mati itu jauh lebih baik daripada tetap hidup di kota FF.
Setiap orang yang melihat kamu, mereka akan mencibir mu, mereka akan menghinamu, mereka akan menginjak-injak mu seperti sampah yang tidak berguna.
Pengasingan dari orang-orang ibukota jauh lebih mengerikan daripada mati secara damai.
"Seret mereka semua.!" Pengawal yang berbicara kembali berkata mengarahkan semua rekan-rekannya lalu satu persatu orang mulai diseret keluar dari tempat itu.
"Tunggu tunggu tunggu, tolong katakan pada Kami sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Tuan Dewa memperlakukan kami sampai seperti ini? Kesalahan apa yang telah dibuat oleh putri kami!" Tuan Rohan berusaha bertanya pada pengawal yang menyeretnya.
Pengawal yang ditanya tidak menjawab, mereka hanya menjalankan tugas mereka lalu melemparkan semua orang-orang itu keluar pintu gerbang.
Di tempat itu ada banyak sekali mahasiswa, teman-teman mereka yang sudah hendak meninggalkan tempat itu karena masa perkenalan telah selesai.
Semuanya terkejut melihat adegan itu.
__ADS_1
"Bos Besar Dewa melakukan ini semua karena kalian hampir saja membunuh cucu kesayangannya!" Pengawal itu berbicara sebelum meninggalkan semua orang yang sudah tersungkur di tanah.
"Cucu kesayangan mana?" Milan berbicara dengan mulut bergetar, dia tidak mengerti siapa yang merupakan cucu kesayangan Tuan Dewa?
Semua orang dalam pertanyaan yang sama tetapi hanya sekejap karena para mahasiswa yang melihat mereka sudah mulai mencibir mereka.
"Bukankah itu gadis populer di kampus kita? Perusahaannya baru saja bangkrut dan sekarang dia dikucilkan di kota FF...." Beberapa gadis tertawa terbahak-bahak dan yang lain memperlihatkan wajah sinis mereka.
Tatapan orang-orang itu sama seperti hantu yang mengerikan yang sedang mengintai dari tempat kegelapan.
Dengan segera Titin menutupi wajahnya dengan rambutnya yang panjang dan tangannya gemetaran ketakutan.
Sementara Tuan Rohan, dia mulai masuk ke dalam aplikasi taxi untuk memesan sebuah taksi.
Tapi bahkan, akunnya telah diblokir oleh perusahaan taksi, dirinya bahkan tidak bisa menghubungi siapa pun lagi karena semua orang telah memblokir nya.
Hanya dalam sekejap, mereka benar-benar sudah diasingkan!
"Sayang,, bagaimana ini...." Nyonya Rohan memegang dengan suaminya kembali terisak dengan keras.
"Jangan menangis, aku akan menghubungi Putri pertama kita." Pria itu menekan nomor ponsel putrinya.
__ADS_1
"Halo Ayah, ini terakhir kalinya aku memanggil kau sebagai ayahku dan mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah berkenalan. Aku tidak mau kalau hidupku sampai berakhir seperti hidup Kalian bertiga. Orang-orang Dewa mengawasi kami dengan sangat ketat jadi aku akan memblokir nomor Ayah sekarang." Terdengar Putri pertamanya berbicara dengan sangat cepat lalu diakhiri dengan nada panggilan yang terputus.
Sudah selesai, tidak ada lagi yang akan berbicara dengan mereka, semua orang menarik diri dan telah mengasingkan mereka.
"Huhuhu...." Hanya tangisan yang bisa mereka keluarkan....
"Ayo, ayo jual perhiasan yang ada pada tubuh ibu,kita bisa menggunakannya untuk pergi ke luar negeri!" Titin akhirnya berbicara pada ayahnya.
"Menjual perhiasan? Kau pikir masih ada yang mau melayani kita ketika kita hendak melakukan jual beli? Sekarang ini kita hanya bisa berjalan kaki keterbatasan dan meninggalkan tempat ini! Dan semua ini karena ulahmu!" Teriak Rohan pada putrinya.
"Ta-ta-ta-ta tapi ayah, bagaimana bisa kita berjalan ke perbatasan, itu sangat jauh!" Titin tersedu-sedu. .
"Kalau begitu, tinggalah disini dan nikmati cibiran semua orang!" Kata pria itu menarik istrinya lalu mereka mulai berjalan pergi.
@Interaksi
Pedesnya kurang, pasti gak mampu beli cabai ya,,,,, kasian.....
__ADS_1