
"Lama sekali?!" Dewa menatap pada Ririn yang baru saja memasuki kamar, tatapannya acuh tak acuh, dia sudah tahu kemana perginya perempuan itu tapi tentu saja dia berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Maaf, buah di ruang makan sudah habis." Ucap Ririn berbohong saat perempuan itu berjalan ke kamar mandi untuk melampiaskan kemarahannya.
"Sial sial sial...!!" Geram Ririn dalam kamar mandi.
Perempuan itu mengambil sesuatu dari sakunya dan memandangnya dengan mata memerah.
"Kalian berdua, lihat saja, pokoknya besok aku akan mengakhiri hidup kalian berdua meski pun aku juga harus mati! Pokoknya, aku tidak rela mereka berdua hidup bahagia sementara aku menderita karena mereka!" Ucap Ririn memegang pil obat di tangannya.
"Tapi Dewa, aku rasa aku juga tidak boleh melewatkannya, atau mungkin sebaiknya pil-pil ini peletakan ke dalam semua makanan. Akan bagus kalau semua orang di rumah ini mati di tanganku!" Mata Ririn dipenuhi oleh api kemarahan.
Deti berikutnya, ia membayangkan kebahagiaannya dan ketenangannya dalam kematiannya ketika semua orang dari keluarga Anderson mati mengenaskan.
Wajah tenang Dewa langsung menjadi gelap ketika mendengar ucapan Ririn. Pria itu mengepal tangannya sebelum memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
Pria itu masih berbaring di atas ranjang ketika merasakan Ririn keluar dari kamar mandi lalu perempuan itu membuka laci meja rias sebelum berjalan ke arah balkon.
'Ck,, tidak menyangka dia begitu berani, sayang sekali aku harus mengganti mainanku lagi.' Dewa masih terus memejamkan matanya.
__ADS_1
Sementara itu, di kamar lantai tiga, dua orang kembali dari taman dengan tergesa-gesa.
Andra menggendong istrinya dan membaringkannya perlahan di atas ranjang lalu pria itu ikut menindih istrinya.
Bibir Sarah langsung terbungkus oleh lembutnya dan tebalnya bibir Andra selagi tangan pria itu bergerilya di bagian tubuh Sarah yang lain..
"Mmh!" Rintis arah kala ia merasakan Andra sudah membuka kedua kakinya dan menyelipkan dua kaki pria itu diantara kedua kakinya.
Andra menurunkan ciumannya ke leher Sarah dan menarik gaun Sarah ke atas.
"Ck, jadi ini alasanmu menyuruhku menggunakan rok? Aku menyukainya." Ucap Andra tersenyum saat pria itu dengan mudah mengangkat rok yang membalut tubuhnya sendiri.
Benar-benar bagus! Dia tidak perlu bersusah payah melepaskan sabuknya lalu membuka resletingnya.
"Jadi kau berpikir menggunakan rok tidaklah buruk?" Sarah menggoda suaminya saat melihat pria itu sangat bersemangat.
"Mm, lebih praktis," balas Andra selagi pria itu kembali tertunduk dan menggunakan bibirnya mencetak tanda-tanda kepemilikan di setiap inci kulit Sarah.
Menggunakan kedua tangannya, Sarah menekan dan meremas rambut pria itu selagi dirinya terus mengerang kenikmatan.
__ADS_1
"Ahh, sayang,,!" Nafas mereka berdua tersengal karena dikuasai oleh ketidaksabaran dan darah mereka mendidih dalam pertempuran yang mungkin tidak akan berakhir sampai beberapa jam ke depan.
Sarah bahkan telah melupakan bagaimana mereka meninggalkan ikan yang telah mereka pancing di taman.
Ah, mungkin Siro akan membereskannya untuk mereka.
Padahal, Ririn yang melihat dari jendela kamar mereka, perempuan itu segera turun dan berjalan ke arah taman melihat ikan di dalam ember.
Sekitar 10 lebih ikan mujair yang telah mati karena dibiarkan saja, tidak ada air didalamnya.
"Ck,, mereka pasti akan memasak ini." Ririn tersenyum kecut sembari membuka bungkus obat yang ia bawa dan dan menuangkannya ke dalam ember.
Obat itu adalah obat dengan kualitas terbaik, meski ikannya masih dicuci sampai bersih, tapi sayang sekali tidak akan mempengaruhi efek obat yang sudah melekat dan masuk ke tubuh ikan.
"Mari kita makan malam dengan ikan beracun." Perempuan itu meninggalkan taman lalu ia pun pergi ke dapur dan memeriksa beberapa bahan makanan di dapur.
Setelah menyelesaikan semuanya, perempuan itu pergi dengan senyum puas.
'Aku tidak peduli jika aku ikut mati bersama mereka, yang penting keluarga Anderson dan keluarga Raya dihapuskan dari muka bumi ini! Arwah aku akan pergi dengan tenang.' gumamnya memasuki lift.
__ADS_1
@Info
Yang nunggu interaksi, otor belum sempat melihat bacotan kalian, reder minta maaf sama otor!!!...