Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
64. Ayah, Kumohon


__ADS_3

Angkasa masih ingin memberi pelajaran pada Andra ketika ia terkejut pintu ruangan terbuka dan menampakan putrinya yang kini memasuki ruangan sambil meraba-raba.


"Siapa itu?" Tanya Andra ketika mendengar suara pintu dan Angkasa langsung pergi meninggalkannya.


"Putri?" Ucap Andra segera berbalik lalu pria itu berusaha meraba-raba mendekati sumber suara.


Sarah tidak bisa melihat apapun, ia hanya mengingat di mana saklar lampu berada dan berusaha meraba dinding untuk mencarinya.


"Putri, apa itu kau?" Tanya Andra di sela-sela kepanikannya.


Sarah baru akan berbicara untuk menenangkan pria itu saat Angkasa meraihnya dan memeluknya.


"Sst," Angkasa memberi kode pada Sarah supaya putrinya diam.


"Ayah," ucap Sarah dengan suara yang sangat pelan.


"Aku yang datang, kenapa?" Tiba-tiba ucap Samudra saat pria berdiri di ambang pintu yang telah dibuka oleh Sarah.


"Ayah? Itu kau,, tolong,, tolong pertemukan aku dengan putri, kumohon!" Ucap Andra selagi pria itu bersujud di lantai.

__ADS_1


Ia berharap jika ayahnya melihatnya seperti itu Ayahnya akan luluh dan akhirnya memenuhi keinginannya untuk bertemu Putri dan meminta maaf.


Samudra menghela nafas dengan berat. Meski saat itu dia tidak bisa melihat posisi Andra, namun dia bisa membayangkan bahwa pria itu sudah sangat terpuruk, apalagi Angkasa sudah berbicara dengannya.


"Apa yang mau kau lakukan? Mengapa begitu bersikeras menemui Putri yang sementara melakukan perawatan di pulau putih? Tidak tahukah kau kalau dia sedang berjuang mati-matian untuk menyembuhkan dirinya sendiri?!


"Dan kau tahu penyebabnya?! Itu semua karena ulahmu yang tidak bertanggung jawab! Ayah sangat malu mengakuimu sebagai bagian dari keluarga Anderson!" Ucap Samudra.


"Aku salah,, aku salah,, tapi bisa kali ini saja Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lalu setelah itu aku akan menerima semua keputusan kalian." Ucap Andra dengan suara gemetaran selagi tubuh pria itu bergetar di bawah lantai dengan air mata yang bercucuran membasahi lantai.


"Ayah," Sarah sudah sangat tidak tahan, dia begitu terluka membayangkan suaminya berada dalam keadaan terpuruk.


"Baiklah, kau boleh menemui Sarah, tapi sebaiknya kau tahu kalau sampai dia menangis karenamu, jangan pernah berharap ada kesempatan kedua untukmu." Ucap Angkasa.


"Tuan,, aku tahu, aku tahu. Aku berjanji demi ibu dan adik, demi Putri, aku tidak akan menyakitinya. Aku hanya ingin meminta maaf dan menyapa anak kami sebelum berpisah untuk selamanya." Andra sudah menerima kenyataan bahwa dirinya tidak pantas berada di sisi Sarah, dan dia sudah memiliki rencana setelah ia berbicara dengan Sarah.


Ia akan menjadi seorang biksu! Hidup tanpa cinta untuk seluruh sisa hidupnya.


"Ayah," suara yang sangat pelan dari Sarah kembali terdengar di telinga Angkasa membuat pria itu menghela nafas lalu akhirnya melepaskan Sarah dan berjalan kearah saklar lampu lalu menekannya.

__ADS_1


Dalam sekejap, ruangan yang awalnya gelap gulita langsung menjadi sangat terang.


Andra yang sedang menutup matanya merasakan sesuatu yang aneh dan ketika ia menaikkan kelopak matanya, pria itu terkejut kalau ia melihat lantai dan air matanya menggenangi lantai itu.


Sarah hendak berlari ke arah Andra untuk memeluk pria itu, tapi Angkasa menghalanginya dengan menarik putrinya ke dalam pelukannya.


Andra mengangkat wajahnya dan melihat ayahnya berdiri tepat di depannya, lalu menoleh ke arah samping di mana ia mendengar suara tangisan seorang perempuan.


"Putri," ucapnya tak percaya kala pria itu berusaha berdiri dengan kakinya yang terluka dan mengatur nafasnya yang tersengal.


"Ayah kumohon," Sarah memohon pada ayahnya sambil terisak, berharap ayahnya mampu melembutkan hatinya dan mengizinkannya menyentuh Andra.


@Interaksi



Banyak yang Nanya buku biru itu apa, ni otor kasih tahu.


Buku biru itu buku matematika sewaktu SMP, sampulnya biru dan bikin otak hampir meledak buat nyelesain masalahnya. Ingat kan?!

__ADS_1


__ADS_2