Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
140. Ini penyiksaan terberat...!


__ADS_3

Siro fokus mengemudi jadi dia tidak menyadari perubahan yang terjadi pada Ana.


Tapi bukan hanya fokus mengemudi saja, dia sebenarnya berusaha menghindari Ana supaya pikirannya tidak menjadi kacau.


Ketika mereka sudah tiba di simpang, hujan menjadi semakin lebat dan langit yang mulai gelap itu dipenuhi oleh daun-daun yang bertebaran karena terbawa oleh angin kencang.


Siro menggertakkan giginya lalu dia menoleh pada gadis di sampingnya, dia sangat terkejut melihat tubuh gadis itu sangat pucat.


"Nona Muda?!" Siro dengan panik menepikan mobilnya lalu mengecek keadaan Ana.


Tubuh gadis itu sangat dingin seolah-olah Ana terbuat dari es batu yang disusun satu persatu membentuk tubuh manusia.


"Kak Siro,, dingin...!" Bibir Ana yang pucat karena sudah kehilangan darah bergetar mengeluarkan suara yang sangat pelan.


'Sial..! Harusnya aku selalu menyiapkan selimut di dalam mobil.' Gerutu Siro dalam hati, tapi dia tidak punya waktu untuk menyesali keteledorannya.


Pria itu segera membuka sabuk pengaman milik Ana dan menarik dadis itu lalu mendudukkannya di pangkuannya lalu memeluknya dengan erat.


Ini adalah pertolongan pertama pada orang yang mengalami hipotermia, memeluknya memberi kehangatan.

__ADS_1


"Sabar Nona," nafas tersengal Siro berada dalam ketakutan.


Takut bila terjadi sesuatu pada Ana dan, takut bila dia harus berpisah dengan Ana karena dia kembali lalai menjaga Ana.


"Dingin,,," suara yang pelan dari Ana membuat Siro semakin mengeratkan pelukannya lalu menggerakan 1 tangannya dan melajukan mobil di jalanan yang sepi.


Awalnya Ana merasa dingin saat kulitnya bersentuhan dengan kemeja Siro yang basah, tapi setelah beberapa detik, Gadis itu mengeratkan pelukannya saat hangat tubuh Siro sudah melingkupinya.


Deg!


Deg!


Lembutnya gadis itu juga terasa dengan kulit mereka yang menempel dan terlebih pada area dada,,, perlahan-lahan Shiro merasakan sesuatu yang panas dalam tubuhnya.


'Apa ini?' Shiro merasa sangat aneh dengan perasaan asing itu.


Perasaan itu jauh lebih kuat ketimbang perasaan cinta yang selalu mendegupkan jantungnya.


Rasanya seperti ingin memiliki Ana sepenuhnya dan memakan gadis itu supaya tidak bisa lagi menjauh darinya.

__ADS_1


"Mohon bersabar Nona kita akan segera sampai." Siro berusaha mengontrol dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di pelukannya adalah noda mudanya dan dia tidak mungkin memikirkan hal yang buruk terjadi pada Ana.


Siro terus mengemudi, tapi dia tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi karena hujan yang terlalu lebat membuat jarak pandangnya menjadi semakin lebih pendek.


Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan dengan buru-buru menghubungi petugas kesehatan supaya menemui mereka di apartemen Ana.


Sembari mobil masih berjalan ke arah apartemen, pelukan Ana padanya semakin kuat dan hawa di dalam mobil itu berubah drastis membuat Siro merasa sangat panas.


'Apa yang terjadi?' gumamnya merasa sangat aneh kala sesuatu yang berada di bagian tubuhnya tiba-tiba saja menegang.


'Sial!! Bagaimana bisa aku di saat seperti ini..!' berkali-kali Siro mengumpat dalam hati, menyesali posisi mereka saat itu.


Apa lagi miliknya yang berada di bawah tepat diduduki Ana, gadis yang gelisah di dalam pelukannya itu menggerak-gerakkan tubuhnya dan membuat Siro semakin merasa tidak nyaman.


Siro berusaha menahannya sampai telinganya memerah hingga ke bagian pipinya.


Ini penyiksaan terberat...!


Siksaan menjadi pengawal Ana sepertinya jauh lebih buruk daripada siksaan yang ia dapatkan selama menjadi asisten pribadi Andra!

__ADS_1


__ADS_2