Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
128. Kak Siro sedang tidak enak badan


__ADS_3

Suara dan bayangan Ana memelas pada Siro terus menggerogoti ingatannya hingga ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menghapusnya.


"Kak Siro?"


"Kak Siro?"


"Pergi..!" Tiba-tiba teriak Siro sembari membuka matanya dan pria itu terkejut melihat Ana berada di depannya.


Gadis itu terkejut sekaligus bingung.


"Kak Siro baik-baik saja?" Tanya Ana.


"Ya, maaf Nona, saya tidak sengaja." Siro menenangkan diri.


"Tidak apa. Aku harus menemani Kiora ke UKK." Lagi kata Ana.


"Baik," jawab Siro.


"Kak Siro berkeringat." Ana mengeluarkan sebuah saputangan berwarna biru muda dengan renda berwarna pink di pinggirnya. "Pakai ini."


Siro menatap sapu tangan itu, tangannya diam-diam menyentuh keningnya dan mendapati keringat bercucuran di sana.


'Aku benar-benar berkeringat, sepertinya aku juga sakit.' Siro kebingungan dengan dirinya sendiri.


Apa yang membuatnya tiba-tiba sakit? Apa karena,,,


Melihat Siro hanya diam memandangi sapu tangan itu, Ana tidak tahan lagi lalu gadis itu segera memegang tangan Siro dan meletakkan sapu tangan itu di telapak tangan Siro.


"Kami duluan." Ucap Ana segera merangkul lengan kiora dan berjalan bersama gadis itu keluar dari kelas.

__ADS_1


Barulah saat itu Siro tersadar dan melihat bahwa kelas telah kosong.


'Aku melamun terlalu lama?' Siro tak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan.


Pria itu memandangi saputangan indah di tangannya.


Deg!


Sapu tangan seorang gadis, itu pertama kalinya Dia memegang sapu tangan orang yang berbeda jenis kelamin dengan nya!


Siro memandangi saputangan Ana beberapa detik sebelum menyimpannya ke dalam sakunya lalu mengambil sapu tangan miliknya sendiri dan mengelap keringatnya.


Pria itu mengelap keringatnya sembari mengejar Kiora dan Ana sampai mereka tiba di UKK.


"Selamat datang," petugas kesehatan di ruang UKK menyambut mereka.


"Teman ku terluka," Ana mengangkat lengan Kiora dan memperlihatkan luka cakar di lengan gadis itu.


"Bagaimana bisa kau terluka seperti ini? Apa kau habis berkelahi?" Petugas kesehatan bertanya, dia sudah biasa menghadapi mahasiswa yang datang karena luka seperti itu, umumnya adalah gadis-gadis yang berkelahi.


Petugas kesehatan tidak menunggu jawaban dari kedua gadis itu dan langsung menarik Kiora lalu mendudukkan gadis itu di atas sebuah kursi dan mengobati lukanya.


Menatap Kiora yang meringis karena lukanya di obati, Ana tanpa sadar menjilat bibirnya yang kering karena merasa ngeri dengan luka itu.


Demi dirinya,,,


Siro berdiri dan tatapannya juga tanpa sengaja melihat Ana yang menjilat bibirnya.


Deg!

__ADS_1


"Luka ini harus di,,," petugas kesehatan berbicara, tapi Siro sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan oleh petugas itu.


Siro sibuk mengatur nafasnya dan menenangkan diri supaya jantungnya berdetak dengan normal.


'Ini tidak normal.' gumam pria itu kemudian memejamkan matanya berusaha mengalihkan perhatiannya dari Ana, tapi jantungnya tetap berdegup kencang sampai ketika dia kembali membuka mata.


'Sebaiknya aku periksa sebentar.' kata Siro dalam hati.


"Sudah selesai, kamu hanya perlu membersihkan lukanya dua kali sehari dan jangan terkena air sampai lukanya benar-benar kering." Petugas kesehatan itu membereskan alat P3K nya.


"Terima kasih." Ucap Kiora.


"Sama-sama." Jawab petugas kesehatan.


"Sekarang, ayo kita pergi ke kantin. Aku tidak sabar ingin menikmati makanan di kantin.


Pokoknya hari ini, aku yang akan mentraktirmu." Ana memeluk lengan Kiora yang tidak terluka dan memperlihatkan seutas senyum terbaiknya.


"Ayo." Jawab Kiora.


"Tunggu," suara Siro yang tiba-tiba menghentikan langkah kedua gadis itu lalu keduanya langsung menatap pada pria yang berbicara.


"Kalian bisa pergi duluan, aku hendak berbicara dengan petugas kesehatan." Siro berkata.


"Ada apa? Apa Kak Siro sedang tidak enak badan? Kalau begitu, kami akan menunggu Kak Siro sebentar."


@Interaksi


__ADS_1


Bicara sama Titin? Otor malas, kamu ajah yang lakuin..!


__ADS_2