
Clek.
Pintu kamar akhirnya terbuka, Samudra dan Dewa yang saling memberikan tatapan tajam langsung menoleh pada pria yang keluar dari kamar.
"Saya akan mengambil pakaian untuk Ana." Kata Siro segera meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan malu.
Bagaimana tidak, baru bangun dan langsung melihat mereka berdua berada di sana, mungkin saja apa yang terjadi sudah di dengarkan oleh mereka,,,,,
Melihat Siro sudah pergi, Samudra kembali menatap Dewa "Sebaiknya Paman mengurusi segala masalah yang sudah disebabkan oleh pengawal paman. Tidak perlu mencampuri bagaimana aku mengurus anakku." Kata Samudra lalu pria itu berbalik menyusul Siro.
Siro sudah mendapatkan baju untuk Ana, dia baru akan kembali menemui Ana ketika Samudra menghampirinya.
"Tuan," Siro membungkuk pada Samudra.
"Jangan bersikap seperti itu lagi, mulai sekarang kau adalah menantuku, jadi posisikan dirimu sebagai menantu, bukan sebagai seorang bawahan. Mengerti?"
"Mengerti Tuan." Jawab Siro.
__ADS_1
Samudra menghela nafas, pria itu masih terus memanggilnya sebagai Tuan, tapi dia tidak mau mempermasalahkannya, dia mau menunggu Siro perlahan-lahan mengubah sendiri panggilannya.
"Bagaimana kabar putriku?" Tanya Samudra.
"Nona Muda bilang tubuhnya kesakitan." Jawab Siro dengan jujur.
"Baiklah, kau urus dia dengan baik." Aku akan bertemu dengannya setelah makan siang."
"Baik Tuan," jawab Siro lalu kedua pria itu segera berpisah.
Sementara di sebuah mansion yang tak jauh dari pinggir pantai, semua orang yang terlibat dalam insiden yang hampir mencelakakan Ana telah dikumpulkan di tempat itu.
Kedua pengawal itu berdiri di sana dan tidak membiarkan siapa pun keluar dari sana, sementara Titin, dia sudah hampir muntah melihat pria pria yang sudah dipukuli sampai babak belur dan terutama Anasta yang masih tertidur di sudut ruangan.
"Titin, apa kau yakin kita akan dibebaskan setelah ayahmu datang? Kakiku gemetaran melihat Kak Anasta." Mona berdiri sembari memeluk lengan Titin, dia begitu takut melihat keadaan Anasta.
Perempuan itu berbaring dalam keadaan telanjang di lantai dan hanya diselimuti oleh 1 kain tipis yang hampir transparan.
__ADS_1
Mona tidak bisa membayangkan kalau perempuan itu akhirnya tersadar dari tidurnya dan menyadari keadaannya.
"Jangan meragukan ayahku, dia adalah orang berkuasa nomor 2 di kota FF jadi siapapun tidak akan berani menyinggungnya." Jawab Titin.
"Tapi,, bagaimana kalau Tuan Dewa yang,,"
"Diamlah! Mana mungkin Ana bisa kenal dengan Tuan Dewa! Dia hanya Gadis miskin yang kebetulan mendapatkan beasiswa, bahkan untuk melihat pengawal Tuan Dewa saja, dia sungguh tidak layak!" Kata Titin dengan wajah penuh penghinaan mengingat Ana yang beruntung bisa lolos dari insiden yang ia rencanakan.
"Benar juga, tapi bagaimana kalau kita sudah salah sangka? Bagaimanapun aku tetap janggal membayangkan Seorang Gadis miskin memiliki pengawal ditambah lagi setelah kita datang ke tempat ini dia dikawal oleh 3 pengawal!" Milan yang sedari tadi diam mendengarkan dua temannya berbicara akhirnya membuka mulutnya.
Keluarganya hanyalah keluarga yang mengandalkan pertolongan dari keluarga Titin, kalau sampai mereka malah menyinggung orang yang lebih berkuasa dari keluarga Titin,,, dia tidak bisa membayangkan konsekuensinya.
"Hah,, sudahlah, apapun yang ku katakan,kalian berdua tidak akan percaya, kita tunggu saja ayahku datang dan kalian akan melihat bagaimana kekuasaan keluargaku!" Kata Titin mulai kesal dengan dua temannya.
"Putriku,, putriku di mana..!" Tiba-tiba suara yang dikenali Titin terdengar dari luar jadi Gadis itu langsung berjalan ke arah pintu dan melihat ayahnya dihalangi oleh para pengawal.
"Ayah,, akhirnya kamu datang, cepat keluarkan kami dari sini!" Kata Titin pada Ayahnya.
__ADS_1