Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
102. Teman bodoh


__ADS_3

"Nona sakit?" Siro menahan nafas.


Bukankah barusan gadis di depannya baik-baik saja? Mengapa tiba-tiba suhu badannya menjadi sangat panas dan wajahnya memerah seperti itu?


Menurutnya, hal seperti itu sangat jarang terjadi dan jika terjadi maka seharusnya ada sesuatu yang tidak beres!


Harusnya pula sesuatu itu bukan hal sepele saja! Bagaimana kalau itu penyakit yang,,


Siro langsung mengabaikan makanannya dan berjalan ke samping Ana.


"Ayo, saya akan mengantar Nona ke rumah sakit." Siro meraih tas dan buku buku milik Ana untuk membawakan perempuan itu.


"Ana, kau sakit, cepatlah berdiri." Kiora mengingatkan Ana ketika melihat gadis itu masih terdiam dan tertunduk.


Ana "..."


Ana kebingungan, dia harus mengatakan apa?


Apakah dia harus mengatakan bahwa sebenarnya dia seperti itu karena baru saja ketahuan memandangi Siro?


Tapi,, Bukankah terlalu memalukan untuk mengakuinya?!


Ia berpikir Siro dan Kiora akan menertawakannya!


Siro melihat Ana tak bergeming dan tangan perempuan itu hanya memegang erat kedua sendok di tangan kiri dan kanannya, tangan itu sedikit gemetaran.


Akhirnya Siro berpikir bahwa Ana tidak punya sedikitpun kekuatan untuk berdiri.

__ADS_1


Pria itu kemudian memasukkan buku-buku Ana ke dalam tas lalu memakai tas itu di punggungnya sebelum mengangkat Ana dari kursinya.


"Ahh!!" Ana begitu terkejut, sendok yang berada di tangannya masih dipegang dengan erat.


"Apa yang kau lakukan?!" Kiora berteriak dari belakang ketika melihat Siro sudah membawa Ana menjauh darinya.


Kantin itu sangat ramai dan ketika semua orang mendengar teriakan Ana, semuanya menoleh pada sesosok pria tampan yang telah membawa seorang gadis di pelukannya.


"Astaga,, apa mereka gila?!" Seorang pria semester atas mencibir karena tidak suka bila ada mahasiswa baru yang memperlihatkan kemesraan mereka.


"Kau bodoh! Pria tampan itu menjadi gila karena keromantisannya! Kapan kau bersikap seperti itu padaku?!"


Pria semester Atas "..."


Tidak bisakah para perempuan berpikir logis sedikit? Akan sangat memalukan membawa seorang gadis dengan cara seperti itu.


Sementara Ana yang berada di gendongan, wajahnya yang sedari tadi merah semakin merah padam ketika ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melihat wajah Ana dan merasakan suhu tubuh Perempuan itu semakin naik menjadi lebih takut lagi ia semakin mempercepat langkahnya dan berkata "Nona tennag saja, kita akan segera sampai di rumah sakit." Pria itu mulai berlari.


Ana "..."


Ana terdiam diperlukan Siro, sebagai perempuan yang tidak terbiasa berhubungan dengan para pria, dan apalagi menghadapi Siro sebagai pria dingin yang terlalu kaku dia benar-benar tak berdaya.


Dia tidak sakit!


Dia hanya malu!

__ADS_1


Tapi bagaimana mengatakannya?!


Bibirnya menempel dengan erat dan giginya terkatup dengan erat selagi ia menjadi semakin malu saat mendengar riuh di seluruh koridor yang mereka lewati.


Seluruh gadis berteriak merasa cemburu dan para pria berdecak kesal.


Kiora berlari dibelakang mereka.


"Oh sial..!!" Salah satu teman Titin yang sedang meminum air saat melihat Siro menggendong Ana langsung memuntahkan air dari mulutnya.


"Apa yang kau lakukan?! Menjijikkan tahu!" Mona mendengus kesal dan memperlihatkan ekspresi tidak sukanya pada Milan.


"Lihat di sana!" Ucap Milan menunjuk pada Siro yang sudah membela lapangan untuk berlari ke parkiran.


"What?! Bagaimana bisa?!" Mona hampir mengeluarkan bola matanya saat melihat pemandangan itu.


Benar-benar luar biasa, sangat romantis!


"Aku tidak percaya, ini tidak nyata, pria tampan itu tidak mungkin memilih gadis beasiswa daripada Titin kita!" Ucap Milan dengan ekspresi kesal lalu dia berbalik memandangi Titin yang berdiri di sampingnya.


"Titin, kamu tidak perlu marah, jelas saat ini pria tampan itu sedang digoda oleh Gadis miskin itu, suatu saat nanti dia pasti akan mengetahui bagaimana sifat licik Gadis miskin itu hingga dia menyesal." Ucap Milan.


"Tapi, aku rasa mereka berdua terlihat sangat romantis, mungkinkah mereka sebenarnya sepasang kekasih?!" Ucap Mona menatap iri pada kedua orang yang semakin menjauh dari pandangan.


Milan "..."


Teman bodohnya, tidak bisakah Mona melihat bahwa saat ini Titin sudah kepanasan mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Mona?!

__ADS_1


__ADS_2